Rel Kereta Penuh Cerita
Anak-anak Kereta Api (Railway Children) – E. Nesbit Sebuah ulasan oleh Ghina Hasna Afifa (@oghinaa) Senin, 15 Agustus 2021
—“Aku tak bermaksud sok suci. Tapi susah benar jadi anak baik-baik, ketika kita justru telah berusaha sebaik-baiknya.” (halaman 219)
Alkisah hiduplah tiga orang anak—Roberta, Peter, dan Phyllis—yang sangat menggemari kereta api dan hal apapun yang berkaitan dengannya. Kesukaan ini bermula pada suatu malam janggal yang mengharuskan Ayah pergi entah kemana untuk beberapa lama. Mereka beserta Ibu terpaksa pindah dari London ke sebuah pondok kecil di pedesaan yang segala sesuatunya jauh berbeda dan melanjutkan hidup di sana.
Pertama-tama, aku ingin bilang bahwa aku sangat suka buku ini (banget, banget, banget!). Membaca buku ini di usia dewasa layaknya membaca dongeng waktu kanak-kanak. Pada beberapa bagian, buku ini dilengkapi dengan ilustrasi yang sangat khas buku dongeng lama. Kisahnya sedikit banyak mengingatkanku akan kenangan masa kecil yang penuh kebebasan. Menjelajah ke sana sini, bermain hingga petang, juga berteman dengan banyak orang.
Tiap lembarnya mengajak kita bernostalgia akan kasih sayang orang tua yang tiada habisnya. Ibu diceritakan sebagai sosok yang lembut layaknya malaikat dan Ayah digambarkan sebagai lelaki bijak serba bisa dan mampu memperbaiki apa saja.
Penyampaian narasi dan dialog di buku ini pun patut diacungi jempol. Sepanjang ceritanya disajikan dengan penuh jenaka. Bahasa formal yang digunakan dalam percakapannya dilengkapi dengan pembawaan narasi secara sederhana, sehingga mengaburkan kesan kaku. Guyonan-guyonannya disajikan dengan apik dalam rasa penasaran anak kecil—karena kalau anak kecil yang bilang, pasti terdengar lebih lucu. Beberapa—banyak—ujaran dibuat sarkastis dan mampu menggelitik perut pembaca, terlebih saat Peter mengucapkan kata ‘tolol’ favoritnya dengan nada sinis yang paling banyak ia utarakan kepada Phyllis, adik perempuannya.
Kalau harus memilih satu adegan yang paling kusuka, pastilah akhirnya, yakni jenis penutup yang sudah kita duga tapi tetap saja mencubit emosi. Sebuah cara yang sempurna untuk mengakhiri kisah yang menghangatkan hati (dijamin bikin nangis hihi).















