Mengira-ngira Takdir
“Tan, aku ngga berani eh daftar ITB. Yawis aku ambil Geodesi UGM ae.”
“Ngga berani deh aku daftar SMA 1, pilih SMA 3 ae.”
Itu kata teman saya. Teman dekat layaknya saudara yang kita pertama kenal 10 tahun yang lalu saat MOS SMP. Tiba-tiba dia duduk di kursi kosong sebelah saya saat kami (peserta MOS) makan siang. Ia membuka kotak makannya dan saya tersentak heran,”Hah? Makanmu cuma segitu?” Kalau tidak salah 4-5 suapan lalu selesai. Saya pikir, pantas saja badannya kurus :(
Dua setengah tahun kami bersama, semester akhir dia pindah ke kota lain. Tapi, ujung-ujungnya kami SMA tetap sekota (karena berhijrah), meskipun di sekolah yang berbeda. Dia SMA 3 dan saya SMA 1. Dulunya, saya juga berambisi ke SMA 3, tapi terjegal oleh statement Bapak: Bapak kalo nyekolahin kamu, nggak mau di sekolah lain kalo ngga di SMA 1. Karena Bapak orangnya keras dan tak bisa ditawar, mau nggak mau saya harus berjuang ke SMA 1.
Yah, padahal kalo di SMA 3 kita bisa ketemu lagi, batin saya.
Hal yang sama terulang pada kami ketika menentukan universitas. Seringkali dia mengungkapkan alasan yang penuh pesimisme, yang pada akhirnya saya timpali dengan ungkapan yang mengira-ngira takdir: Yah, padahal kalau…. Coba kalau dulunya…
Ternyata sekarang saya menyesal seringkali mengira-ngira takdir. Banyak sekali bantuan yang Allah turunkan saat kami berpisah. Dia yang menampung musafir ini (saya) ketika safar ke Jogja. Dia yang bantuin TA saya dengan mengirimkan buku kuliahnya. Dia yang sibuk menghubungi teman-temannya saat saya butuh guide survey ke Merapi sendirian (ya meskipun gajadi sih, tapi tetep aja ngerepotin).
Coba kalau Allah selalu menakdirkan kita selalu barengan, siapa yang nolongin saya di Jogja?
Coba kalau kamu jadinya di ITB, bukan jurusan geodesi, siapa yang bakal ngirim buku geodesi ke saya?
Ah, mungkin kita seringkali mengira-ngira takdir sesuai dengan yang ingin kita rencanakan. Allah sudah merencanakan untuk menolong saya, jauh sebelum saya tahu ketika saya mendapat kesulitan. Allah menolong secara tersirat, mungkin melalui karakter saudaramu, temanmu yang terlalu pesimis, terlalu baik hati sampai tidak punya kemampuan menolak, terlalu penginngat, sering lupa, dan sebagainya. Kita aja yang ngga tahu kalau sedang ditolong.
Ya, benar. Semua butuh waktu untuk memahami.
Semua butuh waktu. Di masa depan nanti, kau akan menengok ke belakang lalu mengangguk dan mengerti tentang kenapa semua itu dulu harus terjadi.
–Br
[Bayar Hutang Tulisan] 18 Ramadhan 1438 H
















