Sukses dalam Perspektif Asmau’l Husna
Asma’ul Husna sebagai salah satu wirid dalam praktik keagamaan kaum muslim, tidak sekedar lafadz-lafadz untuk meraih berkah yang dibaca saat berdo’a. Dengan memahaminya secara tepat makna kandungannya, akan diperoleh pengetahuan yang tepat dan nilai dalam membentuk citra tentang Tuhan dalam Teologi Qur’an sekaligus berfungsi sebagai dasar pembangunan karakter manusia unggul di sisi Tuhan.
Asma’ul Husna bukan hanya dibaca tetapi juga dikukuhkan dalam karakter manusia. Karakter manusia tersebut akan menjadi penuntun segala sikap dan aktivitas dalam meraih sukses di jalan Allah.
Sukses tidak mengenal usia. Ia bisa datang kepada siapa pun, di usia berapa pun, tua atau muda. Sukses adalah sebuah perjalanan, ia hanya satu halte dalam perjalanan panjang kehidupan, menuju kehidupan abadi yang sesungguhnya, akhirat.
Sukses itu subjektif, bersifat personal. Namun begitu, ada definisi dan kriteria tentangnya secara universal. Masing-masing kesuksesan mempunyai jalannya sendiri, bagaimana ia diraih dan dialami.
PENGERTIAN SUKSES
Sukses adalah tercapainya sesuatu yang diinginkan secara sempurna. Kesuksesan dicapai melalui tahapan, proses, dan usaha sejalan dengan aturan ‘qadr’ kesuksesan.
Lingkup sukses yang dibahas dalam tulisan ini berkaitan dengan kehidupan duniawi, yaitu tercapainya hal-hal baik yang membuat kehidupan duniawi menjadi lebih baik. Hal-hal baik itu meliputi keadaan serba ada, serba kecukupan, dan terhormat.
LANDASAN SUKSES
Sukses berkaitan dengan perkembangan pribadi manusia secara sempurna, tercapainya ketinggian materi dan akhlaq. Landasan kesuksesan adalah mengubah paradigma. Artinya, cara pandang terhadap suatu peristiwa atau keadaan dari negatif ke positif. Sebab mustahil melakukan perubahan nasib jika tidak dimulai dari perubahan paradigma.
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. (QS. Ar-Ra'd Ayat 11)
Dari ayat tersebut menunjukkan bahwa pelaku perubahan itu ada dua, Allah dan manusia. Perubahan yang dilakukan Allah berkaitan dengan nikmat atau nasib yang dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum/individu. Perubahan yang dilakukan manusia, terkait denga napa yang terdapat pada sisi dalam mereka, yang meliputi tekad dan kemauan keras (iradah), integritas, dan kapabilitas. Perubahan yang dilakukan Allah diawali dengan perubahan yang dilakukan oleh manusia tentang sisi dalam mereka.
Kita tidak perlu galau ketika merasa sulit menghadapi suatu hal, karena ciri eksistensial manusia adalah keterbatasannya. Keterbatasan kita banyak sekali. Ketika seseorang merasa dirinya cantik, yang lebih cantik banyak. Ketika merasa jelek, yang lebih jelek tentu lebih banyak lagi.
Jika seseorang menerima dirinya sebagai pribadi yang tidak sempurna, ia bisa berhenti dari penyesalan menuju kesempurnaan diri.
Namun dalam meraih sukses, kita harus berani mengambil risiko (courageous risk-taker). Mengambil risiko berarti membangun keyakinan diri, dan pada saat itulah kita sedang dalam proses pendefinisian diri.
Sukses juga ditentukan oleh kemampuan menggali potensi diri yang unik dan memanfaatkannya dengan maksimal. Banyak orang yang dianugerahi talenta namun tidak memanfaatkan kesempatan untuk mengaktualisasikan dirinya. Ciri utama orang yang mengaktualisasikan diri ialah penerimaan diri, yang mampu mengatasi keraguan diri, rasa bersalah, dan rasa malu (minder).
SENI SUKSES
Dalam usaha meraih sukses, karakter manusia berulang kali diuji dan direntangkan hingga batas-batasnya yang paling produktif. Banyak sukses dalam hidup ini diraih setelah sekian banyak kesalahan, kegagalan, dan pelajaran yang menyakitkan. Nikmati prosesnya.
Jalan menuju sukses hanya bisa ditempuh oleh orang yang memiliki ketetapan hati dalam berdoa, bekerja dengan cerdas, terampil, serta berkomitmen dengan keyakinan bahwa sukses itu ada dan bisa diraih.
Ada juga yang berpendapat menurut perspektif dari sisi Allah, semua sudah ditentukan. Tapi, dari sisi manusia, tidak demikian. Dari sudut pandang Allah, semuanya sudah diskenariokan, tapi kita tidak tahu skenario Allah yang mana. Jika ada yang mengatakan ‘tidak perlu berbuat apa-apa, karena jika Allah menakdirkan kita sukses, kita pasti sukses’. Orang yang berpikiran seperti itu tidak memahami sunatullah dan cenderung menyalahkan Allah atas segala nasib yang dipilihnya sendiri.
Secara logika, jika kita sedang mengusahakan sesuatu, maka hasilnya ada dua kemungkinan yaitu sukses dan gagal. Karena hasil tetap di tangan Allah. Tapi jika tidak mengusahakan apapun, maka kemungkinan yang ada hanya gagal. Itulah sunatullah. Di dalamnya, orang harus percaya diri dengan kemampuan dirinya sesudah mengetahui syarat-syarat untuk mencapai sasaran yang ditetapkan.
- Syah Laksmi (Product Development & Headmaster PMI)
29 Ramadhan 1442H // 11 Mei 2021













