Sesungguhnya, kalau ditanyakan apa warnaku, aku tidak mampu menjawabnya dengan pasti.
Warna yang aku maksud bukanlah secantik pelangi, lho… karena warna pelangi itu terlalu naif.
Tahu kan, dulu semasa SD kita pernah belajar fisika mengenai optik. Warna pelangi timbul karena adanya cahaya, prisma, dan air yang dihamburkan, lalu tercipta lah pelangi.
Tanpa cahaya, tidak mungkin ada pelangi.
Tanpa air pun tidak akan terbentuk pelangi.
Jadi, apa warna cahaya? Apa ada yang bisa mendeskripsikannya?
Apa warna air? Apakah ada yang bisa menjelaskannya?
Kalau saja mampu, kita sendiri lah yang menciptakan pelangi itu.
Asalkan hati kita sebening air (bening tidak masuk dalam kategori warna, kan?). Asalkan pikiran kita cemerlang bak cahaya.
Mampukah kita mengasah hati dan pikiran kita seperti itu?
Beningnya hati yang dikombinasikan cemerlangnya pikiran itu sempurna.
Kau tahu kan? Siapa yang pantas untuk disebut sempurna?
Ya, Sang Pemilik Kesempurnaan.
Jika kamu dapat memberi warna pelangi di sekitarmu ―aku bilang warna pelangi ya! Bukan hanya satu warna saja― berarti kamu lah sang manusia sempurna.
Bukankah kau sendiri tahu siapa manusia yang paling sempurna di muka bumi?
Yang disebut-Nya sebagai Rahmatan lil ‘alamin.
Gelarnya turun dari langit.
Bukan sesuatu yang dapat diupayakan di seluruh penjuru bumi.
Tak malukah kamu merasa bahwa dirimu lah yang paling benar?
Tak malukah kamu jika kamu merasa yang paling banyak ilmunya?
Tak malukah kamu jika merasa kamulah orang yang paling lapang hatinya?
Tak malukah kamu jika hanya berbangga dengan apa yang kau punyai?
Toh, kamu tidak bisa menciptakan pelangi di sekitarmu.
Setiap kita adalah manusia yang diutus-Nya untuk berusaha untuk memberikan warna.
Keharusan berupaya menjadi lebih baik setiap harinya dengan berkaca pada manusia terbaik.
Sekali lagi, kalau ditanya apa warnaku, aku tidak mampu menjawabnya dengan pasti.
Tapi yang tak kuragukan adalah aku menghindari warna hitam.
Karena kelam itu membutakan.
Jangankan berdispersi, jahatnya lagi ia menyerap cahaya dan tak mau memantulkan.
Sedikit terkena hitam, si putih yang banyak akan terbaca abu.
Apalagi jika banyak. Suram.
Maka, jika hanya terdapat dua warna, jangan lah memilih yang setengah-setengah.
Karena selamanya abu yang mengandung sedikit putih tak akan disebut putih.
Pun abu yang mengadung sedikit hitam tak akan disebut hitam.
Yang berusaha mencari cahaya dan air untuk memberi warna,
Bandung, 4 Ramadhan 1438 H