I used to think this Ramadhan would be sooooo difficult and challenging. Pertama, karena suami full di site dan baru pulang sekitar tanggal 20an April nanti, alias selepas lebaran. Walaupun baru Ramadhan ketiga setelah menikah, setidaknya 2 Ramadhan yang lalu aku merasakan beberapa hari sahur dan buka puasa bersama. Menyimak bacaan Qur'annya ketika muraja'ah di sela-sela waktu shalat dan mendalami kitab Fadhilah 'Amal yang dibaca setiap malam. Tapi Ramadhan ini tidak. Kami terpisah jarak, tapi semoga hati kami selalu tersambung melalui do'a.
Kedua, kondisi kehamilan yang naik-turun. Di kunjungan terakhirku ke ob, tekanan darahku cukup rendah sehingga dokter meresepkan kembali vitamin zat besi dan menyarankanku untuk memastikan asupan zat besiku cukup melalui makanan. Alhamdulillah cuma itu sih catatannya, selebihnya dokter percaya aku bisa menjalankan ibadah puasa selama aku merasa diriku sehat dan tidak mengalami pusing serta mual berlebihan. Sebenarnya support secara mental sih yang benar-benar aku butuhkan, terutama dari suami :( Tapi ya, lagi-lagi karena berjarak, aku harus pintar-pintar atur emosi. I mean, knowing how to cope with those emotions instead of pretending to be okay at all times.
Kesulitan-kesulitan itu aku kira akan menghambat, bahkan sempat patah arang bisa puasa. Alhamdulillah bersama kesulitan selalu ada kemudahan. Pertama, AA Plus yang agendanya padat di bulan Ramadhan membuat aku merasa sibuk. Alhamdulillah sibuknya sibuk beribadah. Jadi setelah kerja, aku udah siap-siap tuh buat buka puasa, lanjut isya dan tarawih, kemudian tadarus bareng di Zoom. Telefon sama Mas mungkin di waktu-waktu sebelum berbuka atau kayak semalam, setelah tarawih dan sebelum tadarus.
Kedua, privilege tinggal sama orangtua alias mamaku sendiri :') Mama prepares everything, mulai dari masak sahur, makanan berbuka, sampai memastikan aku cukup tidur ketika malam dan bangun sahur tidak terlalu pagi. Maksimal tidur jam 22.30 dan bangun jam 3.30. 5 jam tidur malam setidaknya. Plus, kalau butuh dipijat tinggal bilang sama Mama. May Allah reward you Ma 🤍
Ketiga, teman-teman yang super supportif dan apresiatif. Beruntung banget, alhamdulillah, dikelilingi sama orang-orang baik. Mereka paham banget kalau aku akan 'kesepian', dan bersedia buat aku ganggu via chat atau telepon kapanpun aku merasa demikian.
Keempat, I'm trying to be resourceful and Allah facilitates it. Selain AA Plus, ada banyak banget resources yang free untuk diakses mulai dari seriesnya Yaqeen Institute, Jannah Institute, Maghrib Institute, kajian-kajiannya Ust. Adi Hidayat, Ust. Oemar Mita, dan masssih banyak lagi. Aku juga dapat support penuh dari suami untuk investasi di kelas-kelas berbayar. Katanya, supaya gak dipakai buat nonton yang macam-macam. Tau banget dia kalau aku suka mindless scrolling di youtube shorts. Aku juga baca buku-buku tentang kehamilan, mengasuh newborn, dan parenting. Kata suami, "Kalau janin sudah ditiupkan ruh dalam rahimmu, berarti Allah sudah berkata 'Kun!', artinya kamu benar-benar siap. Tapi, balik lagi, kesiapan itu juga datang dari ikhtiar. Harus tetap belajar, meskipun nanti realita tidak selalu sesuai dengan teorinya." BUT I KNOW THAT LEARNING SOMETHING NEW IS NOT A WASTE OF TIME, DUDE.
Alhamdulillah, sudah hari kedua Ramadhan dan merasakan perbedaan antara puasa ketika libur sekolah dan masuk sekolah seperti biasa. Justeru puasa jadi tidak begitu terasa ketika kita banyak beraktivitas. Some of my students asked, "Miss, are you fasting?" and some even worried "Miss, isn't it gonna hurt the baby? Because the baby needs to eat well." I LOVEEEEE THEM MASYA ALLAH. I told them that I'm gonna be okay, so is the baby. No need to worry, khayr insya Allah. Allah powers me, my dearssss.
Aku bisa karena Allah sayang. Allah sayang sama aku, sama baby aku.
So which of the favors of your Lord would you deny? (55:61)