Entah apa yang mendorongku untuk menuliskan ini. Bukan sebuah informasi yang sangat penting memang, tapi, bacalah.
Dalam hidupku sekarang dan saat ini, aku memiliki banyak saudara (sebenarnya) tapi kali ini aku tidak akan membahasnya satu per satu. Aku akan membahas beberapa tante – tante yang memiliki keunikan tersendiri.
Yang pertama adalah Tante NILA, ia adalah istri dari adik ibuku. Ia seorang guru bahasa Inggris di salah satu sekolah menengah pertama negeri di Jakarta. Keluarganya sekarang bertempat tinggal di Cibinong, mereka pulang pergi jakarta – cibinong. Ia berpostur tubuh tidak langsing, dan tak terlalu pas tingginya dengan bobot tubuhnya. Ia salah satu tanteku yang paling supel, santai, dan humoris. Ia memiliki tiga orang anak, satu perempuan dan dua orang jagoan. Ia juga memiliki banyak kenalan diberbagai bidang, tukang jualan, sampai biro jasa dan lain – lain. Ia selalu seperti tak pernah ketinggalan info – info terbaru, mungkin dikarenakan ia memiliki profesi sebagai guru.
Kedua adalah tante Ina, ia adik langsung dari ibuku. Ia tinggal di Surabaya sekarang. Beberapa bulan yang lalu aku mengunjunginya. Tak banyak yang berubah darinya selain tubuhnya yang sepertinya makin membesar sedikit (sedikit demi sedikit lama lama menjadi gemuk). Ia memiliki tubuh yang tak langsing pula, namun tingginya cukup memadai untuk ukuran berat tubuhnya yang sekarang, meskipun masih berlebihan sedikit. Ia memiliki selera humor nomor satu di keluarga besar ku ini. Ia selalu bisa membuat kami tertawa sampai nangis, kalau kami sedang ngumpul – ngumpul. Ia memiliki 4 orang anak, dua perempuan dan dua laki – laki. Ia yang paling banyak memiliki anak dibanding anak dari nenekku ini. Gaya bicaranya yang nyablak dan medok versi Suroboyo ini sangat lucu. Kami mayoritas bersuku sunda, tapi ia bisa membawa Jawanya kedalam kami. Ia paling pandai bergaul. Terbukti setahun yang lalu, ketika kami semua pergi mengunjunginya, ia mengadakan syukuran sunatan anak keduanya. Disana dihadiri ratusan tamu, yang tiada henti dari acara dimulai sampai keesokan harinya. Banyak pula bingkisan yang datang dari berbagai penjuru. Ini salah satu bukti kalau ia memiliki banyak teman dan masih berhubungan baik. Meskipun ia merantau kesana.
Ketiga adalah tante Teti, ia adik dari tante Ina, adik ibuku juga. Ia yang paling hobi mengeluarkan emosinya kepada kedua anaknya yang sangat jagoan dan cengeng. Ia paling pemberani, lalu diikuti tante Ina. Mereka berdua sangat kompak dalam hal keberanian, apalagi jika mereka mengetahui kalau posisi mereka tidaklah sala. Tanteku ini sangat unik, ia bisa dengan mudah tersulut amarahnya, dan dengan mudah pula membuangnya ke entah berantah seperti tak terjadi apapun. Ia juga salah satu tanteku yang humoris. Ia memiliki buanyak sekali teman, berbagai pelosok negeri mungkin ada.
Keempat adalah Tante Diah, ia adalah istri dari adik terakhir ibuku. Ia tanteku yang paling muda. Paling gaul, dan paling metal. Hihihi.. ada satu kesepakatan tak tertulis dalam keluarga kami, beginilah kurang lebih isinya “jalan sama diah tuh kaya ditemenin radio”. Pastilah kalian semua tau apa lah arti dari pernyataan kami semua itu. Iya, benar, ia sangat suka berbicara, bukan bawel dan cerewet tapinya. Ia senang menjadikan apapun sebagai topik pembicaraan, ia bagaikan gugel berjalan bagiku. Aku sering menanyakan pelbagai hal dengnannya. Mulai dari universitas dan jurusannya, trayek angkutan umum, alamat ataupun lokasi sebuah daerah plus penunjuk jalannya, rekomendasi tempat makan yang enak (kalau yang ini saingan dengan Tante Nila), rekomendasi salon, hingga ke percetakan. Susah mengetahui apa yang t idak ia ketahui. Belakangan aku tau dari ceritanya sendiri dan tingkah laku anak – anaknya, bawha ia adalah perempuan yang tak bisa berdiam saja dirumah. Ia memiliki 3orang anak dengan selisih yang tak begitu jauh. Anak pertamanya kelas satu sd, keduanya masih 3 tahun, dan yang terakhir bulan juni nanti tepat satu tahun.
Nah dari uraian tadi, akulah keponakan sekaligus cucu paling tua dikeluarga ibuku. Jika mereka sedang berkumpul (seperti saat ini) aku akan menyelamatkan diri dikamarku dan menuliskan apapun. Tidak bergabung jika tak diperlukan. Sekarang dibawah sedang berkumpul delapan buah anak anak dengan baterai yang full charge. Bisa kalian bayangkan seberapa ramainya sekarang. Aku nanti sajalah turunya, ketika semuanya sudah pulang, dan meninggalkan beberapa tumpuk cucian piring dan ruangan yang jauh dari kata rapi . aku mencintai keluargaku . nah, sudah waktunya aku dipanggil. Lain kali akan kuceritakan bagaimana suami – suami dari tante ku ini semua.