seen from China

seen from Mexico
seen from China

seen from Australia

seen from Japan

seen from Japan
seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from United States

seen from Qatar
seen from Sweden

seen from T1

seen from T1

seen from United States
seen from Vietnam
seen from China

seen from United Kingdom
seen from T1

seen from T1
Ranap in The Edge, Finally
Kemarin malam adalah jaga malam penutupku di ruang rawat inap. Empat bulan yang mulanya biasa saja, di tengah-tengah kurang betah (karena beberapa drama, as we know ruang rawat inap memiliki kompleksitas siklus interaksi sosial) dan di akhir mulai terbiasa.
Ada banyak, banyak sekali orang yang perlu dihadapi saat aku berada di ranap. Dokter spesialis, dokter umum senior, dokter struktural (para petinggi RS yang hobi ngingetin kelengkapan rekam medis sebelum akre, sampai jemari tangan isip yang dua ini kapalan), dokter PTT (happily ada 3 kakak-kakak PTT yang juga mendapat jadwal jaga malam bersama isip, dan selain teman-teman sekelompokku, kakak-kakak ini adalah teman mengobrol yang menyenangkan), perawat (mulai dari yang paling senior sampai yang masih orientasi), bidan, petugas gizi, laboran, pekarya, satpam, pegawai administrasi, pasien, keluarga pasien sampai tetangga/teman pasien.
Dinamikanya juga banyak.
Aku senang sekali saat bekerja bersama dokter spesialis yang ramah, suka ngajarin (bahkan ada spesialis IPD yang tiap aku baru munculin muka tetiba nanya, “Gimana hasil EKG-nya Dok?” karena beberapa hari sebelumnya beliau ngasih bimbingan EKG setelah visit, saat aku sedang ngantuk-ngantuknya post jaga malam dan diminta menginterpretasikan EKG pasien aritmia.. atuh Dok.. semacam geli wajah beliau saat aku terpana dan terbata-bata melihat kertas EKG yang sangat indah itu..), suka mentraktir kalau jaspel sudah turun (”Saya tahu BHD kalan belum turun hahaha”), suka cerita dengan nada humoris sehingga visit sore (saat tinggal sisa-sisa tenaga dari shift pagi) serasa menyegarkan.
Aku bersyukur saat bertemu dokter spesialis yang menegurku dengan baik saat aku hampir terlupa sesuatu. Aku tidak dibentak di depan orang lain, beliau menyampaikan dengan perlahan. Aku sangat menghargai hal itu.
Aku belajar bersabar saat berinteraksi dengan dokter spesialis yang kurang baik dalam berkomunikasi dan keunikan-keunikan lain yang somehow membuatku menangis karena lelah sepulang aku dari RS.
Menghadapi manusia memang memerlukan seni, ya?
Yaa akhirnya 4 bulan yang wow ini terlalui. Alhamdulillah.
Terima kasih Fifi, Oya, Nisa, Nydia, Kak OJ, Gilang dan Akbar karena sabar nemenin Fifah yang fragile di ranap ini. Terima kasih dr. Naniiik, aku belajar banyak banget dari Mamah Nanik :”
Empat bulan terakhir di Puskesmas, insya’ Allah bisa terlalui dengan baik juga. Aamiin.
Maafkanlah sang pembenci itu, Tapi jangan lupakan nama mereka...
MANGKUK
Beri harapan, kemudian hilang. Tak pasti sama ada kau ini manusia atau mangkuk jamban.
Sesungguhnya manusia yg suka beri harapan palsu kepada hati itu lebih kejam dari pembunuh bersiri.