Ternyata Papa masih ada di dunia ini. Beberapa tahun ini, Papa seperti raib begitu saja. Tak ada kabar. Tak ada kunjungan per 5 tahun untuk bertemu Ra dan Sa.
Ah ya, bagi Ra, bukan hanya pemilu yang berlangsung 5 tahun sekali. Kedatangan Papa juga. Papa yang datang tiba-tiba pada akhir pekan, bertanya kabar pada Ra dan Sa, bercerita tentang apa yang terjadi 5 tahun ke belakang, kemudian pergi lagi.
Pernah suatu kali, Papa datang membawa anggur, kemudian dengan bangga berkata, "Ra kecil paling suka anggur, Papa ingat." Ra bertanya-tanya, apakah Ra pernah sesuka itu pada anggur? Karena saat itu, Ra lebih menyukai alpukat atau mangga. Ra hanya menyampaikan terima kasih dan mengunyah anggur-anggur itu dalam diam.
Saat Ra remaja, Papa bilang Ra harus pintar menjaga diri, karena Ra cantik. Ra hanya mengangguk, membenarkan poin "harus pintar menjaga diri". Tapi, sesungguhnya, Ra tidak pernah merasa cantik. Ra tahu Ra paling mirip dengan Papa. Adakalanya hal itu membuat Ra enggan berlama-lama menatap cermin. Ra tumbuh menjadi gadis yang tidak mempercayai pujian atas fisik Ra. Tidak sepenuhnya salah Papa. Ra tahu, bahwa ada banyak hal yang lebih berharga dari keindahan paras.
Papa selalu datang seolah semua baik-baik saja. Entah apa yang ada di balik benak Papa, Ra tidak ingin tahu. Tapi bagi Ra, selalu butuh perjuangan untuk menekan rasa takut saat bertemu Papa.
Papa tidak perlu tahu. Betapa setiap kali Ra bertemu dengan orang yang mirip dengan Papa, tangan Ra gemetar. Teman Ra bilang, wajah Ra pun berubah pucat pasi. Rasa takut yang muncul dari masa kecil, ternyata tak semudah itu menghilang. Ada trauma yang menetap.
Pa, saat Aru datang, trauma itu menguat kembali. Ra kembali pada titik di mana Ra merasa tidak berdaya. Seolah-olah Aru adalah Papa dan Ra adalah gadis kecil yang kerap menerima perlakuan negatif dari Papa. Seolah-olah Ra bisa dibawa kabur dari rumah kapan saja, dipukuli, dimarahi saat menangis; dan Ra tidak bisa berbuat apa-apa. Ada banyak mimpi buruk yang membuat Ra takut untuk tidur.
Padahal Ra tahu Aru bukan Papa.
Ra memutuskan untuk bertemu dengan psikolog klinis di dekat tempat kerja Ra. Bercerita tentang ingatan dan perasaan Ra tentang Papa mulanya bukan hal yang mudah. Ra menangis untuk hal yang Ra ingat. Ra merasa hampa untuk hal yang tidak mampu Ra ingat. Masa kecil membuat Ra memindahkan sosok Papa dari ruang "cinta" menuju ruang "bukan apa-apa". Dan setiap memasuki ruang itu, rasanya dingin sekali. Syukurlah psikolog Ra adalah wanita paruh baya yang sabar dan cerdas, sehingga Ra kembali memegang kendali atas diri Ra. Dan, ada Aru, yang mendorong Ra untuk berani menghadapi trauma yang Ra hindari selama 20 tahun ini.
Pa. Ada banyak hal yang Papa tidak ketahui tentang Ra, begitu juga hal yang Ra tidak ketahui tentang Papa. Namun tak apa. Setiap orang memiliki kisah yang berbeda.
Satu hal yang Ra yakini, ketetapan Allah selalu baik. Ra mendewasa menjadi gadis mandiri. Ra bertemu dengan orang-orang yang baik dalam kehidupan Ra. Ra belajar untuk memiliki empati untuk setiap bentuk kesedihan orang lain. Ra juga belajar untuk bersyukur atas setiap hal sederhana yang ada dalam hidup Ra.
Allah nggak pernah membiarkan Ra sendirian, bahkan di saat Ra merasa sendirian.
Pa. Bila Allah mengizinkan, satu bulan lagi Ra akan bertemu Papa. Duduk di satu ruangan yang sama. Mungkin Ra akan menangis, sedikit (semoga benar hanya sedikit). Semoga Allah senantisa menghadirkan kedamaian ke dalam hati Ra. Hati Papa.