Si Rangsel dan Lampu Merah
Si Rangsel yang sedikit sekali di beri waktu istirahat. Tuhannya selalu beri dia tugas dinas dadakan di tempat-tempat yang tak pernah terfikit sebelumnya. Bahkan di saat cuti pun ada saja yang buat handphonenya bunyi, entah telpon atau pesan singkat panggilan untuk merapat.
Si Rangsel yang sudah tak punya waktu tidur normal seperti manusia pada umumnya. Kadang menghitam. Kadang berkantung. Kadang kelihatan gendut. Tapi gak lama kelihatan kurus. “Tergantung urusan” bilangnya sambil tertawa.
Si Rangsel yang selalu kelihatan baik-baik saja, bahagia-bahagia saja, ketawa-katawa terus, tapi siapa yang kira saat menunggu lampu merah menjadi hijau itulah renggang waktu buatnnya bisa perpikir untuk dirinya.
“Gue bakal pilih jalan itu”, di lampu merah pertama.
“Gue bakal ambil langkah begini untuk step pertama” di lampu merah kedua.
“Gue mau pake strategi A B C buat ke arah sana” di lampu merah ke empat.
“Gue bisa begini, begini, begini kalau kalau ada apa2 di tengah2”
Begitu terus sampai akhirnya di depan rumah, pukirannya bertanya padanya : “Apa gue bakal terus jalani semua sendiri?”. Tak bisa terjawab sampai perjalanannya berakhir di sofa depan TV. Ini kali pertama pertanyaan itu muncul. Tauk lah itu bisikan setan apa malaikat, yang jelas sejak itu stop-an lampu merah terasa kosong. Lowong dari segala rancangan buat besok.