Masih Di Sini
Alunan lagu menemani menghabiskan waktu. Ini malam minggu, tapi aku memilih duduk sendiri di sudut cafe yang tak lagi banyak pengunjung. Menanti seseorang? Jelas tidak. Hanya sedang berkencan dengan diri sendiri sambil menyesap segelas latte panas yang masih mengepulkan asap.
"Kenapa sendirian?" Samar terdengar suara lirih menyapa.
Aku tersenyum tipis. Mengabaikan suara yang terdengar.
"Ish. Lagi-lagi kau mengabaikanku. Memang siapa yang tadi sore mengatakan rindu?" Suara itu kembali terdengar. Tak lupa gerutuan samar yang menyertai.
Aku kembali mengabaikannya. Lebih memilih menatap jalanan yang mulai ramai dengan lalu lalang kendaraan. Aku lihat rintik hujan mulai turun dengan perlahan.
"Hai, kau tak mendengarku?"
"Apa suaraku tidak cukup jelas?"
"Ya sudah. Aku akan marah kepadamu dan tidak akan berbicara kepadamu."
Aku menghela napas lelah. Dan kembali menyesap latte yang mulai sedikit dingin.
"Di sini lagi?" Seru seseorang yang datang menghampiri.
Aku menatap ke arah sumber suara dan tersenyum tipis.
"Iya kak." Jawabku singkat.
Seseorang itu duduk di hadapanku. Dan mengikuti arah pandangku.
"Sudah 7 tahun berlalu. Aku rasa dia telah bahagia di sana." Ujar seseorang di hadapanku.
"Tapi dia masih di sini." Jawabku tanpa mengalihkan pandanganku.
"Kamu benar. Dia masih di sini. Di dalam kenangan dan hati kita. Lihat saja sendiri. Aku dan dirimu masih mengunjungi tempat ini hanya untuk mengingat kebersamaan dulu. Meski telah banyak hal yang berbeda."
Aku terkekeh kecil. Mungkin benar 7 tahun telah berlalu, tapi seolah itu tidak cukup untuk melepas semuanya. Dia telah pergi itu kenyataan yang harus aku terima. Sekeras apapun aku mencoba menghadirkan dia kembali, itu tidak akan merubah apapun. Dia tetap telah pergi dan tidak akan kembali.
"Aku ada di sampingmu" terdengar suara lirih.
Aku menghela napas.
"Terima kasih selalu hadir setiap kali aku duduk di sini, kak. Selalu menyadarkanku bahwa dia telah pergi." Ujarku.
"Ikhlaskan saja maka semua akan baik-baik saja."
Aku tersenyum. Menatap teduh seseorang yang berada di hadapanku.
"Huft...Dia benar. Sudah seharusnya aku pergi. Bukan malah di sini. Menghantui pikiranmu dan membuatmu seolah melihat kehadiranku. Nyatanya aku adalah ilusi dari segala pikiranmu. Berbahagialah. Aku tahu kamu gadis hebat. Selamat tinggal..."










