Kemana perginya senja dalam netramu yang selalu kamu tampakkan kepadaku, dan lengkung pelangi yang tidak pernah hilang dari parasmu itu?
Puan, aku memang tidak tahu bagaimana caranya berbicara dari hati ke hati kepadamu. Itu sebabnya kenapa aku lebih sering berkata sepatah, atau dua patah kata ketika berada di hadapanmu.
Namun, jika kamu mengijinkan, aku ingin mencoba. Agar aku pun bisa ikut merasakan apa yang tengah kaurasakan itu. Mungkin, dengan cara itulah diriku dapat memahami dirimu, Puan.
Kita memanglah berbeda, Puan. Dan apa yang kau sembunyikan itu adalah sesuatu yang terasa berat untuk kamu bagikan kepada orang lain yang belum kamu kenal dan percayai seutuhnya.
Pintaku kepadamu adalah jangan pernah menyerah pada hidup, Puan. Asal kau tahu, kamu adalah satu orang yang selalu kuingat ketika aku berada dalam titik terendah dalam hidupku.
Mungkin, kini aku sudah menjadi seseorang yang putus asa, jika saja dulu kamu tak pernah datang tanpa sengaja ke semestaku; dengan membawa keindahan yang ada pada dirimu.
—Iwan Widi. @hardkryptoniteheart—
Magelang, 28 April 2022 | 05.04 PM |


















