Meski sudah melewati seratus purnama dalam menunggu hadirmu kembali, ternyata masih belum cukup membuatku tak merasa kehilangan. Kini aku terperangkap di terungku sepi.
Selama ini mungkin aku lebih banyak mengandalkan khayal yang tak pasti nyata; merasa bahagia. Meski hanyalah semu. Kita pernah lancang menuliskan skenario cinta kita tanpa berdialog dengan-Nya. Hingga mengheningkan sesal adalah kebaikan yang kita terima untuk rela menjadi sepasang asing.
Semua berjalan tak biasa, seluruh cerita kulalui tanpa pernah membaginya pada siapapun. Lagi-lagi gemuruh di dada bersuara lantang; entah menyapa luka yang sengaja dibiarkan menganga atau kepedihan yang terkubur dalam. Kita sebenarnya sedang merangkul dilema perihal hati. Kita tak salah menanti restu semesta, karena perasaan tak harus dinyatakan terang-terangan.
Mungkin saja rasa akan segera memudar di lain waktu. Namun, aku tak ingin menyudahinya, biar saja tersimpan rapi. Walaupun, aku berduka atas diriku sendiri. Kudetakkan doa-doa dari hati yang retak, lalu air mataku rebas tak berkesudahan. Dan aku mulai merumbai hujan abadi.
Sampai kapan pun kau akan menjadi bagian hidupku meski aku tak tahu apakah kau kelak akan menjadi masa depanku atau tidak. Namun tetap kusemogakan.











