Usai Disini
sedang bersiap-siap untuk pindah ke rumah baru, kubereskan beberapa barang-barang yang berserakkan di lantai,
tak sengaja, sepucuk surat jatuh dari tumpukan barang yang aku sendiripun lupa itu apa,
tintanya berwarna biru terang, hatiku terkesiap mellihat warna itu,
aku tau siapa dengan jelas dalam ingatan memoriku mengenai siapa yang berani menggunakan tinta berwarna biru tersebut untuk menulis, selain karena warnanya yang sangat terang, dan juga sedikit tidak etis untuk digunakan sebagai warna untuk berkomunikasi,
namun dia adalah pengecualian,
aku terduduk sambil memegang surat tersebut, aku tau aku akan melakukan suatu tindakan bodoh yang akan paling kusesali setelah ini,
"dear my sunflower" baru satu kalimat pertama saja, rasanya sudah ingin ku hancurkan bumi ini, kilas balik mengenai memori-memori yang berkelana manis di otakku mulai menari-nari seakan diijinkan langsung oleh pemiliknya,
ternyata aku belum sekuat itu untuk bersinggungan langsung dengan hal-hal tentang kamu.
tinta biru muda yang kamu gunakan sebagai representasi warna dalam suratmu itu sengaja kamu gunakan karena kamu tau aku selalu berteriak kepada semesta bahwa kamu adalah wujud dari crayon berwarna biru muda yang hadirnya mewarnai langit kehidupanku,
banyak harap dan ingin pada saat itu, pada saat kami masih kami yang seutuhnya, namun semuanya gagal
aku masih dalam posisi bersandar kepada lemari, aku menatap nanar sekelilingku; kosong, hampa,
menyesali apakah keputusanku untuk berpindah ke rumah yang baru adalah tepat, sebab sewaktu bersamamu semuanya seperti hikmat.
kami gagal mencinta dengan baik, segala ekspetasi yang sebenarnya receh saja, tak mampu kami realisasikan dengan baik karena lebih banyak nafsu untuk saling menghancurkan atas nama cinta,
dengan posisi yang sama, ku buka handphoneku dan muncul pikiran jahil di otakku untuk mengetikkan namamu di laman website yang bahkan tak pernah mengenal dan tak lagi saling mengikuti,
tersentak hatiku,
ternyata yang bersamamu sekarang, mampu lebih kamu cintai secara hebat,
segala catatan harapanku sewaktu aku bersamamu, yang isinya aku tuliskan dan tunjukkan kepadamu di buku berwarna merahku, sengaja kamu centang bersama gadis barumu di hadapanku,
senyummu merekah manis seperti biasa, namun itu semua karena perempuan di sebelahmu,
sempat sakit sedikit, namun lebih banyak perasaan bangganya
cintailah ia dengan sebaik-baiknya, eh tapi disini aku bukan ingin menyampaikan pesan seperti masa lalumu yang menyedihkan, bagaimanapun kamu sekarang, itu karena keinginanmu untuk mencinta lebih baik dan lebih benar.
semesta, titip dua orang yang sedang memadu kasih itu ya. rawat dan biarkan cinta mereka tumbuh dengan manis dan baik, bukan saja untuk mereka berdua, biarlah kasih bermekaran untuk sekeliling mereka.



