Cerpen: Merelakan (2)
Tubuh saling bersandar Ke arah mata angin berbeda Kau menunggu datangnya malam Saat kumenanti fajar
Fira tertegun ketika baru saja mendaratkan dirinya di kursi belakang mobil, lagu ini berputar. Lagu Tulus, Pamit. Sekelebat wajahnya muncul, lagu ini selalu mengingatkannya pada kisahnya di masa-masa kuliah.
Jalanan Jakarta malam ini cukup lengang. Mata Fira tertuju pada jalan-jalan yang dilihatnya dari balik kaca mobil, tapi pikirannya jauh mengingat masa lalunya. Tersenyum. “Lucu ya, gimana bisa sebuah lagu mengingatkan pada seseorang dengan segala kisah di dalamnya,” ujar batinnya.
Sudah coba berbagai cara Agar kita tetap bersama Yang tersisa dari kisah ini Hanya kau takut kuhilang
Fira masih mengingat kenangannya bersama Naufal, sahabat baiknya di masa kuliah. Teman sejak SMA yang kemudian menjadi teman satu jurusan di kuliah, satu organisasi, bahkan menjadi salah satu support system terbaik. Naufal mengenal baik Fira, tau sifat baik dan buruknya, kelebihan dan kekurangannya. Fira pun begitu memahami Naufal. Mereka begitu naif, merasa aman dari perasaan yang diam-diam menyelinap di hati masing-masing. Mereka, diam-diam saling menyimpan perasaan.
Memori itu terus beputar, pada satu waktu Naufal menyampaikan perasaannya. Ya, hanya menyampaikan, tidak ada maksud lebih. Namun, Fira kesal dengan sikap Naufal, karena menurutnya itu malah membebani hati Fira. Mereka sama-sama tau bahwa mereka gak mau pacaran, pada saat itu pun belum ada kesiapan untuk jenjang pernikahan. Akhirnya, untuk pertama kalinya mereka memutuskan tidak ada komunikasi, tidak ada cerita, curhat, sharing, tanya kabar. Berhenti.
Fira diam-diam menunggu Naufal. Mungkin Naufal pun begitu, diam-diam mempersiapkan. Hingga, satu tahun berlalu, tidak ada kemajuan. Tidak ada Naufal datang ke rumah Fira. Fira pun bersikukuh dengan ucapannya untuk tidak berkomunikasi. Hingga satu hari, Fira perlu memperjelas semuanya, tepatnya memperjelas untuk apa dia menunggu.
Perdebatan apapun menuju kata pisah Jangan paksakan genggamanmu
Sebuah surat dikirimkan, mempertanyakan apa dia sungguh-sungguh dengan ucapannya kala itu dan apakah perasaan itu masih ada? Tak hanya itu, Fira menyampaikan bahwa dia tak ingin terjebak dengan bayang-bayang pernyataan perasaan Naufal, sudah cukup baginya menunggu jika tidak ada titik temu. Terkirim.
Sepekan kemudian, Naufal membalas surat Fira. Tak pernah tau bahwa selama ini Fira menunggu. Selama setahun Fira menerka lanjutan kisah itu. Naufal benar-benar mencintai sahabatnya itu, sejak SMA. Entah bagaimana harus membalas surat itu, Naufal tak enak hati, ternyata Ibunya tidak merestui, Ibunya tidak memilih Fira. “Carilah perempuan Jawa untuk dijadikan istri.” Dia pun masih harus menyelesaikan studinya. Berat jika harus merelakan seseorang yang dicintai dan dia sudah menunggu. Tapi, dia pun gak yakin meminta Fira menunggu lebih lama lagi, masa depan itu masih belum pasti.
Surat balasan datang, Naufal sampaikan semuanya, keraguannya, tentang pilihan Ibunya, studinya. Dia melepaskan Fira dari perasaan terikat itu dan meminta Fira jangan menunggunya lagi.
Izinkan aku pergi dulu Yang berubah hanya Tak lagi kumilikmu
Kau masih bisa melihatku Kau harus percaya Ku tetap teman baikmu
Sepanjang perjalanan pulang, Fira mengenang kisah itu. Tersenyum. “Memang gak jodoh dan gak cocok juga, mau diusahain seperti apa juga gak akan bisa bersama,” batinnya. Perlahan, semua pertanyaan kala itu terjawab. Jangan dipaksa untuk terus bersama jika hanya membawa luka. Takdir kita memang seperti ini, jadi teman baik bukan teman hidup.
Potret Memori | Jakarta, 27 September 2020










