Ibu Bumi wis maringi ibu bumi dilarani ibu bumi kang ngadili #saverembang #rembangbangkit #rembangmelawan (at Alun-alun Kota Rembang)

seen from Ecuador
seen from United States
seen from Yemen

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from China
seen from Russia

seen from Germany

seen from United States
seen from China

seen from Türkiye
Ibu Bumi wis maringi ibu bumi dilarani ibu bumi kang ngadili #saverembang #rembangbangkit #rembangmelawan (at Alun-alun Kota Rembang)
Salut untuk Rembang. Negara harus patuh pada warga bukan modal. Panjang umur perlawanan! l @Regrann from @purplerebel - Moment yang mengharukan saat petani-petani tiba di kantor Gubernur Jawa Tengah, mengakhiri sebuah long march sejauh 150km dari Rembang. Kita lihat apakah Gubernur Ganjar Pranowo mendengarkan tuntutan mereka untuk segera patuhi Putusan MA.#RembangMelawan #RembangMenang #longmarchrembangsemarang #KendengKawalPutusanMA - #regrann
Aksi Teatrikal Kawan-Kawan ‘Kolong Tosari’ Dalam Solidaritas Rembang di Car Free Day
Surat Cinta Dari Jakarta: Untuk Ibu-Ibu Rembang Yang Sedang Berjuang
Selamat pagi bu ... Apakah matahari di sana masih bersinar cerah untuk ibu-ibu yang berada di pelataran tenda? Ataukah matahari bersinar cerah hanya untuk alat-alat berat, dan kontraktor buaya darat PT. Semen Indonesia yang cemas akan nasib pekerjaannya? Entahlah, namun sambutlah matahari dengan senyuman kalian bu. Karena jika negara dan pemilik modal sudah tak adil, matahari tetaplah adil, membagikan sinar cerahnya dengan sama hak dan sama rasanya.
Bagaimana kabarnya bu? Saya mendengar dari Jakarta, sudah sembilan bulan lebih ibu-ibu di Rembang menjalani kehidupan dengan penuh cinta meski dibayang-bayangi areal persawahan, peternakan, dan tempat bermain anak-anak bersama alam Kendeng akan hilang. Tak habis pikir saya, sembilan bulan bukan waktu yang sebentar bu, kalau analogi perempuan hamil, sudah ada anak-anak revolusi yang lahir di negeri ini! Lalu, ketika anak ini lahir yang ia butuhkan adalah makan makanan dan minum air dari tanah kelahirannya, bukan semen. Pahamlah saya mengapa ibu-ibu berjuang mendirikan tenda menolak pabrik semen yang akan berdiri di sana. Ini perkara tanah kelahiran dan masa depan anak-cucu.
Ketika saya menulis surat ini, masih banyak teman dan kerabat saya yang tidak tahu perihal apa yang terjadi di Rembang sana. Mengapa demikian bu? Apakah karena ibu bukanlah artis dan pejabat? Yang tak layak kabar kehidupannya diinformasikan kepada khalayak umum. Saya bosan bu, melihat media-media hanya memberitakan pertengkaran Ahok dan H. Lulung, bukan berita tentang ibu yang mendapat perlakuan kekerasan dari aparat. Ah, sudahlah saya tak ingin membicarakan mereka, minggu-minggu ini bapak polisi sedang galak kepada orang yang sok mengkritisi negeri ini bu.
Perkara nasib ibu-ibu yang hidup di tenda, tak adanya arus informasi kondisi ibu, hingga pabrik semen milik Negara , ini bukanlah takdir Tuhan bu. Ini sengaja diciptakan oleh manusia rakus secara terstruktur, sistematis, dan massif. Jangan menyerah bu, segala sesuatu yang dibuat oleh manusia bakal bisa dirubah pula oleh manusia, kita harus meyakini itu.
Bulan ini proses pengadilan ibu-ibu melawan semen akan selesai. Saya berdoa semoga hakim yang memimpin persidangan malamnya shalat tahajud, agar otaknya sehat dan bersih dalam menegakkan keadilan. Ibu-ibu masih punya harapan, surat ini saya buat diperuntukkan menguatkan harapan itu bu.
Di Jakarta saya telah kehilangan tanah kelahiran. Semua habis dimonopoli oleh mafia properti. Saya tidak ingin ini juga terjadi di Rembang yang memiliki Karst (sumber mata air) Jawa Tengah. Atas dasar cinta, surat ini kutuliskan bu agar apa yang telah terjadi di Jakarta tak terjadi pula di Rembang sana. Demi anak-cucu kita bu, generasi mendatang yang menitipkan tanah ini kepada kita. Saya selalu mendukung apa yang ibu-ibu lakukan demi membela hak ibu yang dirampas oleh semen milik Negara. Saya berharap jangan ada lagi eksploitasi di Jawa, karena menurut bung D.N. Aidit “Jawa adalah Koentji”.
Sebelum saya akhiri surat ini, saya ingin menyampaikan bahwa Jakarta mencintai Rembang bu. Walaupun memang, beberapa penduduknya terlihat malu-malu untuk mengatakan, atau bahkan sarang induk semen berada di sini. Tetapi itu bukanlah alasan untuk Jakarta tidak mencintai Rembang, karena mereka tadi hanyalah segelintir kecil (imitasi, seakan-akan terlihat besar) dari hiruk-pikuk penduduk Jakarta. Teruskan perjuangan kalian bu, karena kalian adalah bidadari-bidadari surga yang membawa palu cinta peroboh tembok kelaliman.
TTD
Azami Mohammad