Achmad Ghifari Firdaus / 14140110256
Secara etimologi, istilah epistemologi berasal dari Bahasa Yunani yakni episteme dan logos. Jadi epistemology dapat dimengerti sebagai teori pengetahuan. Adapun menurut Milton D. Hunnex, epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas sifat dasar, sumber dan validitas pengetahuan. Jadi, pada dasarnya epistemologi merupakan satu upaya evaluative dan kritis tentang pengetahuan manusia.
Sumber pengetahuan itu sendiri merupakan apa yang menjadi titik tolak atau apa yang merupakan objek pengetahuan. Sumber pengetahuan ini dapat berasal dari dunia eksternal dan dunia internal. Aristoteles berpandangan bahwa sumber pengetahuan adalah pengalaman. Menurutnya, ilmu pengetahuan harus didasarkan atas metode empiiris-eksperimental, sehingga kebenarannya dapat dibuktikan.
Dalam epistemology Barat, ada dua pandangan, yakni rasionalisme dan empiris, merupakan dua aliran yang banyak diterima dan paling dominan di antara sumber pengetahuan lainnya. Namun, disamping pandangan tersebut, ada juga beberapa pandangan yang menyebut sumber pengetahuan diluar rasionalisme dan empirisme. Bertrand Russell misalnya, membedakan dua macam pengetahuan yaitu:
Pengetahuan melalui pengalaman : Data indrawi, benda-benda memori, keadaan internal dan diri kita sendiri.
Pengetahuan melalui deskripsi : Pengetahuan yang diperoleh melalui orang lain, benda-benda fisik hasil konstruksi.
Ada enam sumber pengetahuan yang dikemukakan oleh Hospers maupun Honderich, yaitu:
Persepsi/pengamatan indrawi: Hasil tanggapan indrawi terhadap fenomena alam.
Memori: Ingatan melalui pengalaman langsung maupun tidak langsung agar hasil pengalaman dapat disusun secara logis dan sistematis.
Reason/akal/nalar: Proses yang harus dilalui dalam menarik kesimpulan.
Intropeksi: Sebagai salah satu sumber pengetahuan dimana manusia mendapatkan pengetahuan (pengenalan/pemahaman terhadap sesuatu) ketika ia mencoba melihat ke dalam dirinya.
Intuisi: Tenaga rohani, suatu kemampuan yang mengatasi rasio, kemampuan untuk menyimpulkan serta memahami secara mendalam.
Clairvoyance: Kemampuan mempersepsi suatu peristiwa tanpa menggunakan indra.
Telepati: Kemampuan berkomunikasi tanpa menggunakan suara atau tanpa menggunakan bentuk simbolik lain.
Otoritas: Mengacu pada individu atau kelompok yang dianggap memiliki pengetahuan sahih dan memiliki legitimasi sebagai sumber pengetahuan.
Prakognisi: Kemampuan untuk mengatahui sesuatu peristiwa yang akan terjadi.
Ada beberapa model penalaran, yakni:
Induksi : Proses penalaran atau penarikan kesimpulan dimana benar-tidaknya tesis ditentukan oleh pengalaman.
Deduksi : Proses penalaran yang bertola dari generasi laludirumuskan kesimpulan yang lebih khusus.
Abduksi : Sebuah bentuk pembuktian berdasarkan silogisme.
Dialektika : Sebuah motode yang membongkar hal yang tidak konsisten dan tidak jelas. Dengan berdialog dapat dilakukan proses pembandingan, menyisihkan, memperjelas hingga menolak baru ditarik ke pengertian umum.
Objek pengetahuan adalah hal atau materi yang menjadi perhatian bagi pengetahuan. Dalam istilah epistemology, ini disebut dengan masalah ontology Honderich menyatakan bahwa objek pengetahuan adalah:
Gejala alam : Objek ilmu pengatahuan yang utama pada ilmu-ilmu alam.
Masa lalu : Sebagai objek pengetahuan yang bisa menjadi perhatian bagi ahli sejarah, arkeologi, etnologi, antropologi, dll
Masa depan : Ilmu bersifat prediktif
Nilai-nilai : Objek yang dibicarakan pada bidang tertentu
Abstraksi dan pikiran: Perhatian atau focus kajian pada psikobiologi, psikologi,cognitive science atau philosophy of mind.
Struktur pengetahuan akan membahas mengenai hubungan ilmuwan dengan sense atau data atau hal/objek yang diketahui. Hubungan antara subjek yang mengetahui dan objek yang diketahui tergambar dari beberapa pandangan., yaitu:
Objektivisme : Objek-objek fisis yang diobservasi atau teliti bersifat independen dihadapan subjek yang meneliti.
Subjektivisme : Pandangan yang menekankan peran unsur atau dimensi subjek dalam menghasilkan pengetahuan.
Skeptisisme : Paham yang menyatakan ketidakmungkinan untuk mencapai atau memoeroleh kebenaran objektif (akhir) pengetahuan.
Relativisme : Pandangan yang menyatakan bahwa kebenaran bersifat absolut atau universal.
Fenomenalisme: Pandangan yang menyatakan bahwa kita hanya dapat mengetahui gejala-gejala yang diinrai atau gejala yang sebagaimana tampak lewat pengamatan.
Dalam epistemology dan filsafat ilmu pengetahuan dikenal sejumlah teori kebenaran, yaitu:
Teori kebenaran korespondensi: Teori atau proposisi benar bila proposisi atau teori itu sesuai dengan fakta.
Teori kebenaran konsistensi atau koherensi: Apabila adanya saling hubungan antar putusan atau kesesuaian dengankesepakatan atau pengatahuan yang telah dimiliki.
Teori kebenaran pragmatis:Aaliran filsafat yang menekankan pentingnya akal budi sebagai sarana pemecahan masalah dalam kehidupan manusia baik masalah yang bersifat teoritis maupun praktis.
Teori kebenaran performatif: pernyataan akan dinyatakan benar apabila apa yang dinyatakan (oleh seseorang) dilakukan sesuai dengan tindakan dan kewenangan yang ada padanya.
Teori kebenaran paradigmatik dan Konsensus: berkaitan dengan konsep aradigma sebagai dasar atau model yang diterima oleh kelompok ilmuwan dalam mengembangkan dan menguji teorinya. Dengan demikian dianggap/dinyatakan benar kalau dapat disetujui oleh komunitas ilmuwan pendukung paradigm tersebut.
Julienne ford, sebagaimana dikutip Lincoln dan Guba, mengemukakan bahwa kebenaran memiliki empat makna, yaitu:
Kebenaran empiris (kriterianya verifikasi dan falsifikasi)
Kebenaran logis-matematis (kriterianya koherensi dan konsistensi)
Kebenaran etis (ditentukan oleh nilai-nilai moral)
Kebenaran metafisik (kebenaran ini tidak dapat dibuktikan, akan tetapi diterima sebagai keyakinan paling dasar).
Kebenaran postulat, memiliki beberapa postulat ilmiah adalah:
Bahwa dunia ada dan kita dapat mengetahuainya. Pengakuan ini menjadi prinsip dasar untuk ilmu pengetahuan.
Bahwa dunia empiris dapat diketahui melalui pancaindra.
Bahwa fenomena alam ditentukan oleh hukum kausalitas dan hukum kausalitas tu dapat ditemukan melalui metode empiris-eksperimental.
Mengenai batas dan jenis ilmu pengatahuan, batas ilmu pengetahuan sangat tergantung pada asumsi ontologis dan tingkatan pengetahuan yang diterima oleh seseorang. Adapun terkait dengan jenis pengetahuan, Prof. Dr. Rasyidi mengemukakan jenis pengetahuan sebagai pengetahuan tentang benda-benda, tentang pikiran orang lain, tentang pikiran diri sendiri dan tentang nilai-nilai.
Dalam mempelajari epistemologi tentunya memiliki tujuan/alasan, menurut A. M. W. Pranarka (1987) mengemukakan tiga argumen mengapa epistemologi perlu di pelajari, yaitu:
Menjadi pertimbangan strategis karena ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi unsur yang dominan dalam zaman Modern.
Asumsi memengaruhi pandangan tentang realitas yang ada termasuk pandangan religius dan nilai-nilai yang tidak dinyatakan secara eksplisit dalam ilmu pengetahuan.
Berdasarkan pertimbangan edukatif, epistemology membantu mamahami berbagai bentuk pemahaman yang lebih holistik.