FILSAFAT ILMU : KLASIK HINGGA KONTEMPORER
FILSAFAT ILMU : KLASIK HINGGA KONTEMPORER Andre Angkawijaya
KEBENARAN DALAM ETIKA DAN FILSAFAT KOMUNIKASI
Susahnya mendefinisikan kebenaran, sebagaimana telah diuraikan pada penjelasan terdahulu. Ada orang buta yang mengatakan gajah itu panjang, karena yang ia sentuh adalah belalai gajah. Sedangkan temannya yang juga buta akan mengatakan bahwa gajah itu tipis dan lebar saat ia menyentuh telinga gajah. Bahkan ada pula orang buta yang mendefinisikan gajah itu lembek (menunjuk pada kotoran gajah). Masing-masing definisi tidak salah, namun juga tidak bisa dikatakan benar seratus persen. Tiap ahli memaparkan ide tentang sudut pandang kebenaran termasuk bagaimana membuktikannya.
Kebenaran secara etimologi memiliki arti:
Tidak salah, lurus, dan adil.
Contoh dalam kalimat, “hitungannya benar”.
Sungguh-sungguh, tidak bohong.
Contoh dalam kalimat, “kabar itu benar”.
Sesungguhnya, memang demikian halnya
Contoh dalam kalimat, “benar ia tidak bersalah, tetapi ia terlibat perbuatan ini”.
Contoh dalam kalimat, “enak benar mangga ini”.
Sedangkan secara epistemologi (istilah), pengertian kebenaran dapat dilihat dari berbagai teori mengenai kebenaran, yang antara lain:
Menurut teori ini suatu pengetahuan, teori, pernyataan, proposisi atau hipotesis dianggap benar bila ia sejalan dengan pengetahuan, teori, proposisi atau hipotesis lainnya. Kalau proporsi atau meneguhkan dan konsisten dengan sebelumnya.
Suatu pernyataan adalah benar jika ia berhubungan dengan objek yang dituju oleh pernyataan itu.
Suatu oernyataan dinilai benar jika konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis bagi kehidupan manusia.
Menurut teori ini, sesuatu dianggap benar bila ia berkaitan dengan pernyataan sebelumnya yang sudah pasti benar.
KEBENARAN ILMIAH DAN KEBENARAN NON-ILMIAH
Kebenaran yang diperoleh secara mendalam berdasarkan proses penelitian dan penalaran logika ilmiah. Kebenaran ilmiah ini dapat ditemukan dan diuji dengan pendekatan pragmatis, koresponden, dan koheren. Berbeda dengan kebenaran ilmiah yang diperoleh berdasarkan penalaran logika ilmiah, ada juga kebenaran karena faktor-faktor non-ilmiah.
Diantaranya kebenaran non-ilmiah adalah:
Kebenaran Karena Kebetulan
Kebenaran yang diperoleh dengan kebetulan dan tidak ditemuka secara ilmiah. Tidak dapat diandalkan karena kadang kita sering tertipu dengan kebetulan yang tidak bisa dibuktikan. Namun satu atau dua kebetulan bisa menjadi perantara kebenaran ilmiah.
Kebenaran Karena Akal Sehat
Akal sehat adalah serangkaian konsep tang dipercayai dapat memecahkan masalah secara praktis. Kepercayaan bahwa hukuman fisik merupakan alat utama untuk pendidikan adalah termasuk kebenaran akal sehat ini. Penelitian psikologi kemudian membuktikan hal itu tidak benar.
Kebenaran Agama dan Wahyu
Kebenaran mutlak dan asasi dari Tuhan. Beberapa hal masih bisa dinalar dengan pancaindra manusia, tapi sebagian hal lain tidak dan karenanya membutuhkan keyakinan/keimanan.
Kebenaran yang didapat dari proses luar sadar tanpa menggunakan penalaran dan proses berpikir. Kebenaran intuitif sukar dipercaya dan tidak bisa dibuktikan, hanya sering dimiliki oleh orang yang berpengalaman lama dan mendarah daging di suatu bidang.
Kebenaran karena Trial and Error
Kebenaran yang diperoleh karena mengulang-ulang pekerjaan, baik metode, teknik, materi, dan parameter-parameter sampai akhirnya menemukan sesuatu. Memerlukan waktu lama dan biaya tinggi.
Kebenaran karena adanya pertimbangan meskipun kurang dipikirkan secara matang. Dikerjakan dengan penuh resiko, relatif lebih cepat, dan biaya lebih rendah daripada trial-error.
Kebenaran karena Kewibawaan
Kebenaran yang diterima karena pengaruh kewibawaan seseorang. Seseorang tersebut bisa ilmuwan, pakar atau ahli yang memiliki kompetensi dan otoritas dalam suatu bidang ilmu. Kadang kebenaran yang keluar darinya diterima begitu saja tanpa perlu diuji. Kebenaran ini bisa benar tapi juga bisa salah karena tanpa prosedur ilmiah.
Kebenaran karena Kekuasaan
Yaitu, sesuatu menjadi benar atau salah karena adanya intervensi kekuasaan.
Kebenaran kefilsafatan harus memenuhi empat aspek, yakni objek materi, forma, metode, dan sistem yang terkait dengan kebenaran, dengan penjelasan sebagai berikut:
Objek Materi, dimana filsafat mempelajari segala sesuatu yang ada, sehingga dapat kita pahami bahwa kebenaran ilmu pengetahuan filsafat umum-universal, yang berarti tidak terkait dengan jenis-jenis objek tertentu.
Objek Forma, kebenaran ilmu pengetahuan filsafat itu bersifat metafisika, yakni meliputi ruang lingkup mulai dari konkret-khusus sampai kepada yang abstrak-universal.
Metode, kefilsafatan tearah pada pencapaian pengetahuan esensial atas setiap hal dan pengetahuan eksistensial daripada segala sesuatu dalam keterikatan yang utuh.
Sistem, kebenaran bersifat dialektris, yakni senantiasa terarah kepada keterbukaan bagi masuknya ide-ide baru dan pengetahuan-pengetahuan baru yang semakin memperjelas kebenaran.
KEBENARAN SEBAGAI NILAI FUNDAMENTAL
Komitmen terhadap kebenaran merupakan salah satu nilai fundamental dalam kehidupan manusia, yang telah ada sejak zaman dahulu kala. Immanuel Kant, misalnya mengatakan bahwa kebenaran merupakan sesuatu yang harus ditegakkan, apapun resiko yang ada. Bahkan Socrates rela dihukum mati demi mempertahankan kebebasan berbicara sebagai sebuah norma kebenaran. Sehingga dengan demikian, sejatinya kebenaran sebagai sebuah norma adalah bukan hal yang baru. Tidak seperti demokrasi misalnya, norma ini tentu saja lahir dalam masyarakat modern. Dalam konteks Indonesia, bahkan, demokrasi sebagai norma kehidupan bernegara baru muncul pasca reformasi tahun 1998.
Dalam teori interaksi simbolis hakikat manusia adalah makhluk relasional. Setiap individu pasti terlibat relasi dengan sesamanya. Tidaklah mengerankan bila kemudian teori interaksi simbolik segera mengedepan bila dibangkan dengan teori-teori sosial lainnya. Alasannya ialah diri manusia muncul dalam dan melalui interaksi dengan yang di luar dirinya. Interaksi itu sendiri membutuhkan simbol-simbol tertentu. Simbol itu biasanya disepakati bersama dalam skala besar. Simbol-misalnya bahasa, tulisan, dan simbol lainnya yang dipakai bersifat dinamis dan unik.
Keunikan dan dinamika simbol dalam proses interaksi sosial menuntut manusia harus lebih kritis, peka, aktif, dan kreatif dalam menginterpretasikan simbol-simbol yang muncul dalam interaksi sosial. Penafsiran yang tepat atas simbol tersebut turut menentukan arah perkembangan manusia dan lingkungan.
DIKOTOMI KEBENARAN DALAM KOMUNIKASI
Jaringan komunikasi yang berskala global telah menggiring ke arah proses komunikasi dan arus informasi yang berlangsung cepat dan padat. Peningkatan tempo kehidupan di dalam skema globalisasi informasi telah menciptakan kebergantungan tinggi pada berbagai teknologi informasi dan komunikasi. Akan tetapi, teknologi informasi dan komunikasi yang kecepatannya bertumbuh secara eksponensial telah mengondisikan pola komunikasi yang juga semakin cepat, ringkas, instan, dan padat.