Maafkan Kami Ibu Pertiwi,
Laut memerah, langit menghitam kelam, asap membumbung tinggi terurai api. Seakan menjadi saksi, melekat menjadi temanmu setiap hari.
Entah betapa hebatnya kengerian kala itu, sampai tak kuasa kami menahan tangis, menggemakan nyanyian kala mengingatmu.
Dulu, rela kau mati ikhlas demi anak cucumu kelak, bahkan tak sekalipun kau mengelak, dengan lantang rela kau serahkan darah dan keringatmu untuk kibarkan Sang Ia dibawah sengat matahari.
Bahkan kaki dan tanganpun rela kau serahkan, bukan untuk dikenang dikemudian hari, tapi setulus itulah kau bersumpah mempertahankan setiap jengkal tanah.
Entah apa lagi yang tak mampu kami ucap, saat legam wajahpun rela kau paksakan dalam percikan darah, berdiri tegak dalam sikap sempurna, pantang menyerah menggema dalam dada.
Tapi sekarang, entah apa yang pernah kami buat untukmu kenang ? Kami kotori segala baktimu, seakan kami paksakan sudahi segala awal kebebasan yang kau ingin ciptakan begitu lama.
Sedang kami disini merasa sangat hina, dengan sombong kami injak-injak harga dirimu, seakan pertumpahan darah hanya menjadi kenang, bahkan sibuk bergelut kami memperebutkan kata menang.
Bukan hanya mimpi yang hilang berlari, bahkan tak ada lagi jiwa sejernih air matamu yang dapat kami temui kembali saat ini.
“ Maafkan kami Ibu Pertiwi,
Terimakasih dari kami untukmu negeri,
Untukmu Merah Putih,
Kan kuukir rangkaian prestasi,
Tuk mengganti sisa harum nafasmu demi langit bumi yang kau kasihi ”
@rotiseribuan1 @badutcerdas












