UNTUK SEORANG AYAH YANG MENUNGGU KABAR ANAK LELAKINYA.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat Sore, Pak Ridwan Kamil.
Saya menulis ini sebagai terapi untuk kegelisahan, keresahan, dan tentu saja kesedihan saya. Selama berhari-hari saya tidak pernah lupa untuk menengok semua media sosial yang saya punya untuk mencari kabar terbaru mengenai Eril. Seperti juga jutaan rakyat Indonesia yang mengetahui kabar duka itu, saya tidak pernah berhenti berdoa dan berharap ada keajaiban. Saya percaya, doa adalah penguat ketidakberdayaan hati dan raga. Betul kan, Pak?
Saya bukan siapa-siapa, Pak. Hanya seorang istri biasa, juga seorang ibu bagi seorang anak laki-laki berusia 8 tahun. Dan tidak lupa, juga seorang anak bungsu sepasang orang tua yang sudah berusia senja.
Saya tidak sanggup untuk tidak meneteskan air mata setiap melihat video atau foto bapak yang berdiri di pinggir sungai. Seperti ingin berbicara pada semesta, terutama pada seisi sungai, seraya bertanya, “Nak, kamu ada di mana?”
Saya tinggal jauh dengan orang tua. Ayah saya, yang merupakan seorang yang jarang sekali meneteskan air mata di hadapan anak-anaknya, sempat beberapa kali meneteskan air mata saat kami berpisah di bandara. Dengan berat hati, saya juga menahan diri sekuat tenaga untuk tidak terbawa suasana. Meski saya juga bersedih, entah mengapa saya tahu bahwa kesedihannya melebihi kesedihan anaknya. Sehingga, Pak. Rasanya saya tidak bisa mendeskripsikan kesedihan sedahsyat apa yang sedang bapak rasakan saat ini, gemuruh sehebat apa yang bapak kendalikan di dalam dada setaip detik, beban seberat apa yang sedang bapak tanggung saat ini, juga air mata sebanyak apa yang sedang berusaha bapak sembunyikan. Rasanya menyakitkan sekali menyaksikan itu semua.
Ada kutipan yang sangat membekas di ingatan saya, dari sebuah drama korea yang pernah saya tonton (Hi, Bye, Mama),
"Istri yang ditinggal suami itu janda. Suami yang ditinggal istri itu duda. Anak yang ditinggal orang tua itu yatim piatu. Tapi kenapa tak ada sebutan untuk orang tua yang ditinggal anak? Karena tak dapat dibayangkan. Tak ada kata yang bisa mendeskripsikan penderitaan itu."
Tak ada yang bisa mendeskripsikan kesedihan Bapak. Bahkan melalui tulisan, rasanya begitu sulit dan menyakitkan. Namun demikian, terima kasih untuk semua pelajaran yang bapak berikan pada kami. Kekuatan dan ketabahan itu, saya bisa merasakannya. Meskipun rasanya terlalu sakit, tapi terima kasih sekali lagi, Pak.
Doa kami akan selalu menyertai Bapak, Ibu, dan Adik Zara. Semoga Allah membuka pintu keajaiban itu, sekali lagi. Semoga semua doa dan amin yang kami lafazkan juga adalah doa yang dijawab dengan kebahagiaan.
Putussibau, 2 Juni 2022. | 15.23 WIB
Tia Setiawati









