Approved Y Banner 60cm x 160cm #dauroh #markaz #riwayah #soreangku #printondemand (di Print on Demand Soreangku) https://www.instagram.com/p/B3OONKqDzeo/?igshid=egyk8uix4dr0

seen from New Zealand
seen from Finland

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Portugal
seen from China
seen from Bangladesh
seen from China

seen from Czechia
seen from United States
seen from China
seen from China

seen from United States

seen from United States
seen from Belgium

seen from Ireland
seen from Uzbekistan
seen from United States
seen from United States
Approved Y Banner 60cm x 160cm #dauroh #markaz #riwayah #soreangku #printondemand (di Print on Demand Soreangku) https://www.instagram.com/p/B3OONKqDzeo/?igshid=egyk8uix4dr0
Iman, Islam, dan Ihsan
Hari itu, baginda Nabi Muhammad Rasulullah SAW sedang duduk di hadapan orang banyak. Tiba2 datang seorang pria menghadapnya dan langsung bertanya: "Apakah Iman itu?" Baginda Rasul SAW menjawab dengan suara lembutnya: "Iman adalah, engkau percaya kepada Allah ta'ala, malaikat-Nya, pertemuan dengan-Nya, Rasul-Nya, dan percaya kepada hari kebangkitan." Pria tadi bertanya lagi: "Apakah Islam itu?" Baginda Rasul SAW menjawab dengan wajah tenangnya: "Islam adalah, engkau menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun, lalu engkau mendirikan shalat, mengeluarkan zakat yang telah diwajibkan, dan berpuasa di bulan Ramadhan." Lalu pria itu bertanya lagi: "Apakah Ihsan itu?" Dengan sabarnya baginda Rasul SAW menjawab: "Ihsan ialah, engkau "beribadah" untuk-Nya -Azza wa Jalla- seakan-akan engkau melihat-Nya, sesungguhnya DIA melihatmu. Kembali pria tadi bertanya lagi: "Kapankah hari kiamat itu tiba?" Beliau (SAW) menjawab: "Hanya Allah SWT yang mengetahuinya." Setelah itu, pria tersebut pergi meninggalkan baginda Rasulullah SAW. Pria itu meninggalkan pertanyaan dan rasa penasaran bagi sebagian sahabat dan sebagian orang yang hadir dan menyaksikan, akhirnya ada yang bertanya tentang "siapakah pria tersebut?" Baginda Muhammad SAW menjawab dengan senyum indahnya: "Itulah Jibril Alaihissalam. Ia datang untuk mengajar manusia tentang agamanya." Allahu Alimun Khabirun Wa Allahu A'lamu bissawwab -------------------------------------- آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya, dan mereka mengatakan: Kami dengar dan kami taat. (Mereka berdoa): Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali. Surah Al-Baqarah (2:285)
Yang Menemani Nabi Musa AS di Syurga
Sekali waktu, baginda Kalamullah, Nabiullah Musa bin Imran AS bertanya kepada Allah Subhana Wa Ta'ala, tentang siapa teman beliau kelak di syurga. Setelah mendapatkan jawaban dan informasi tentang orang tersebut, dengan rasa penasaran, berangkat lah Nabi Musa AS untuk mencarinya.
Sesuai informasi, beliau tiba di satu tempat, dan di sana ternyata orang yang dimaksud adalah seorang pemuda penjual daging. Lalu dihampiri lah pemuda tersebut (dengan menyembunyikan identitas Nabi Musa AS sebenarnya).
Setelah berkenalan, Nabi Musa AS berusaha mengorek informasi tentang amal pemuda tersebut yang menjadikannya “teman beliau” di syurga. Seluruh gerak-gerik nya diperhatikan oleh Nabi Musa AS dari jam ke jam, namun semuanya biasa, sewajarnya tingkah laku pemuda biasa dan pedagang daging biasa. Hanya satu hal, dia sempat menyisihkan sedikit daging “terbaiknya” lalu dibungkusnya daging tersebut lalu disimpannya.
Karena masih merasa belum terjawab tentang amal apa yang dikerjakan si pemuda tersebut, Nabi Musa AS meminta izin untuk ikut (dan berkunjung) ke rumah pemuda itu. Sesampainya di sana, kondisi rumahnya biasa, tetapi begitu masuk ke dalam rumah, pemuda tersebut memohon izin sebentar untuk mengerjakan sesuatu. Karena ingin tahu, Nabi Musa mendekat perlahan ke arah bilik di belakang dinding ruang tamu.
Nabi Musa AS melihat pemuda tersebut sedang merebus daging yang dibawanya lalu mempersiapkan air hangat di sebuah baskom. Setelah keduanya siap (daging dan air), lalu pemuda tadi masuk ke dalam kamar, lalu mengangkat sebuah keranjang, dan dalam keranjang itu ada seorang wanita yang sudah tua dan tak berdaya.
Diangkatnya wanita itu perlahan keluar dari keranjang, lalu dibersihkannya dengan air hangat dari baskom tadi, lalu digantikan pakaiannya, diberikan wewangian, setelah rapih lalu disuapi wanita tua itu dengan bubur yang dicampur daging rebusan yang dia bawa tadi.
Sembari disuapi, Nabi Musa melihat bibir wanita tua itu bergerak dan sayup-sayup terdengar suara wanita tua itu berdoa dengan suara lemah dan pelan: “Yaa Allah, jadikan lah anak ku kelak teman nya Nabi Musa di syurga.”
Setelah prosesi tadi selesai, digendongnya wanita tua itu, seperti seorang ayah yang sedang menidurkan buah hatinya, hingga tertidur dikembalikan lah wanita itu ke dalam keranjangnya.
Lalu dengan penuh rasa ingin tahu dan takjub, Nabiullah Musa AS kembali ke posisi awal, dan tak lama kemudian keluar lah si pemuda sambil berkata, “mohon maaf telah membuat mu menunggu, sampai di mana tadi obrolan kita?” Tanya si pemuda itu. Nabi Musa justru menimpalinya dengan pertanyaan lagi, “saudaraku, mohon maaf, saya tadi menyelinap dan memerhatikan semua yang kamu kerjakan di belakang, jika diperkenankan saya bertanya, siapakah wanita tua di belakang tadi?” Pemuda itu tersenyum, “itu wanita yang telah melahirkan ku dan mengorbankan hidup nya untuk ku, dia adalah ibu ku. Karena usia dan penyakit yang dideritanya, dia tak mampu berbuat apa-apa lagi. Aku diberi oleh Allah kesempatan untuk menyuapinya, memberinya minum, memandikannya, membersihkannya, dan mencukupi keperluannya yang lain.”
Mendengar jawaban dan penjelasan tersebut, Nabiullah Musa AS segera memeluknya dan berucap, “berbahagia lah engkau wahai pemuda, karena aku lah Musa, dan insyaAllah kita akan bertemu di syurga nya Allah Subhana wa Ta'ala.”
Tanpa diragukan lagi, berkat bakti dan doa ibu nya lah si pemuda tersebut memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah SWT dan dimasukan syurga bersama Rasul Allah, Musa Kalamullah Alaihissalam.
Wallahu'alam bissawwab. ===================================
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Surah Al-Ahqaf (46:15)
Islam Menginginkan Mu Bahagia
Sedih dan bahagia adalah Sunnatullah..Janganlah Bersedih Kehidupan ini tak selamanya indah. Senang dan duka datang silih berganti. Hal ini semakin memantapkan hati untuk menilai kehidupan dunia ini adalah semu. Kebahagiaannya semu. Kesedihannya semu. Ada kehidupan selanjutnya di hadapan kita. Itulah negeri akhirat. Abadi dan hakiki. Di sanalah tempat istirahat dan bersenang-senang yang hakiki, yakni di surga-Nya yang penuh limpahan rahmad dan kenikmatan. Atau kesengsaraan hakiki, di nereka yang panas membara. Tempat kembali orang-orang durhaka kepada Sang Pencipta. Teringat olehku perkataan yang tersimpan dalam kalbu. Di mana seorang pernah menasehatkan, “Ketahulilah yang selamat hanyalah sedikit. Sesungguhnya tipuan dunia akan hilang. Semua kenikmatan selain surga akan sirna. Dan semua kesusahan selain neraka adalah keselamatan.” Perlu kita sadari bahwa kesenangan dunia dan kesengsaraannya adalah ujian dari Tuhan semesta alam. Apakah menjadi hamba yang bersyukur saat diberi nikmat dan sabar saat diberi cobaan, ataukah sebaliknya. Karena dunia ini adalah daarul ibtilaa’ (negeri tempat ujian dan cobaan). Allah ‘azzawajalla berfirman, وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ “Wahai manusia, Kami akan menguji kalian dengan kesempitan dan kenikmatan, untuk menguji iman kalian. Dan hanya kepada Kamilah kalian akan kembali” (QS. Al-Anbiya: 35). Senang dan duka adalah sunatullah yang pasti mewarnai kehidupan ini. Tidak ada seorang manusia pun yang terus merasa senang, dan tidak pula terus dalam duka dan Kesedihan. Semuanya merasakan senang dan duka datang silih berganti. Jangankan kita, generasi terbaik umat ini, para wali Allah, yakni para sahabat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pun pernah dirundung kesedihan. Allah menceritakan keadaan mereka saat kekalahan yang mereka alami dalam perang uhud. وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِين “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah ingin memberi bukti kebenaran kepada beriman (dengan orang-orang kafir) dan menjadikan sebagian diantara kalian sebagai syuhada’. Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim” (QS. Ali Imran: 140). Allah yang menciptakan kebahagiaan dan Kesedihan agar manusia menyadari nikmatnya kebahagiaan, sehingga ia bersyukur dan berbagi. Dan sempitnya Kesedihan diciptakan agar ia tunduk bersimpuh di hadapan Tuhan yang maha rahmat dan mengasihi, serta tidak menyombongkan diri. Hinggalah ia mengadu harap di hadapan Allah. Merendah merengek di hadapan Allah. Bersimpuh pasrah kepada Tuhan yang maha penyayang. Seperti aduannya Nabi Ya’qub saat lama berpisah dengan putra tercinta; Yusuf ‘alaihimas sasalam إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ “Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan penderitaan dan kesedihanku” (QS. Yusuf: 86). Ada saja hikmah dalam ketetapan Allah yang maha hakim (bijaksana) itu. وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَىٰ “Dialah Allah yang menjadikan seorang tertawa dan menangis” (QS. An-Najm: 43). Oleh karena itu, tidaklah tercela bila seorang merasa sedih. Itu adalah naluri. Tak ada salahnya bila memang sewajarnya. Terlebih bila sebab-sebab kesedihan itu suatu hal yang terpuji. Seperti yang dirasakan orang beriman saat melakukan dosa, di mana Nabi mengabarkan bahwa itu adalah tanda iman. مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَاتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَاتُهُ فَهُوَ الْمُؤْمِنُ “Barangsiapa yang merasa bergembira karena amal kebaikannya dan sedih karena amal keburukannya, maka ia adalah seorang yang beriman” (HR. Tirmidzi). Atau seorang merasa sedih saat tertinggal shalat jamaah di masjid, menyia-nyiakan waktu, tertidur di sepertiga malam terakhir hingga luput dari sholat tahajud, ini suatu hal yang terpuji. Ini tanda adanya cahaya iman dalam hatinya. Yang tercela adalah saat seorang larut dalam sedihnya. Hingga membuat hatinya lemah, tekadnya meredup, rasa optimisnya menghilang, kesedihan yang menghancurkan harapan. Sampai membuatnya tidak mau bergerak, tidak ada ikhtiyar untuk mengubah keadaannya untuk menjadi insan yang bahagia. Yang tercela kesedihan yang membuatnya lemah untuk meraih ridha Allah, bahkan membawanya pada keputusasaan dan membenci takdir Allah. Karena seringkali setan memanfaatkan kesedihan untuk menjerumuskan manusia. Betapa banyak orang-orang yang tergelincir dari jalan Allah karena larut dalam kesedihan. Oleh karenanya, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam senantiasa berlindung dari rasa sedih. Di antara doa yang sering dipanjatkan Nabi adalah, اللهم إني أعوذ بك من الهم والحزن .. Allahumma innii a’uudzubika minal hammi wal hazani… “Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari gundah gulana dan rasa sedih…” (HR. Bukhari dan Muslim). Tidak perlu berlama-lama memendam kesedihan dalam hatimu. Banyak yang tak menyadari, ternyata setan senang melihat seorang mukmin bersedih. Ia amat menginginkan kesedihan itu ada pada orang-orang beriman. Allah ‘azzawajalla mengabarkan dalam firmanNya, إِنَّمَا النَّجْوَىٰ مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيْسَ بِضَارِّهِمْ شَيْئًا إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ “Sesungguhnya pembicaraan bisik-bisik itu hanyalah dorongan dari setan. Supaya menjadikan hati orang-orang beriman sedih. Padahal pembicaraan rahasia untuk menggunjing tidak akan merugikan orang-orang beriman sedikitpun, kecuali dengan kehendak Allah. Hanya kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal” (QS. Al-Mujadilah: 10). Tahukah anda. ternyata bila kita amati, kata-kata sedih dalam Al-Qurán tidaklah datang kecuali dalam konteks larangan atau kalimat negatif (peniadaan). Sebagaimana yang dijelaskan Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam bukunya Madaarijus Saalikiin. Dalam konteks larangan, misalnya adalah firman Allah ‘azza wa jalla, وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ “Janganlah kamu lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (QS. Ali Imran: 139). وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ “Dan janganlah kamu berduka cita terhadap mereka” (QS. An-Nahl: 127). Beberapa ayat juga berbunyi senada. Kemudian firman Allah ta’ala, لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita” (QS. At-Taubah: 40) Adapun dalam konteks kalimat negatif (peniadaan) misalnya firman Allah ta’ala, لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ “Mereka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS. Al-Baqarah: 38) Apa rahasia dari semua ini? وسر ذلك أن الحزن موقف غير مسير، ولا مصلحة فيه للقلب، وأحب شيء إلى الشيطان :أن يحزن العبد ليقطعه عن سيره ويوقفه عن سلوكه، قال الله تعالى : {إِنَّمَا النَّجْوَى مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آمَنُوا } Rahasianya adalah, karena kesedihan adalah keadaan yang tidak menyenangkan, tidak ada maslahat bagi hati. Suatu hal yang paling disenangi setan adalah, membuat sedih hati seorang hamba. Hingga menghentikannya dari rutinitas amalnya dan menahannya dari kebiasaan baiknya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, إِنَّمَا النَّجْوَىٰ مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آمَنُوا “Sesungguhnya pembicaraan bisik-bisik itu adalah dari syaitan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita” ([QS. Al-Mujadalah: 10]. Madaarijus Saalikiin hal: 1285). Islam Menginginkanmu Bahagia Bersyukurlah anda atas nikmat Islam. Karena Islam adalah agama yang menginginkan anda untuk senantiasa bahagia. Allah ‘azza wa jalla. Sang Pembuat Syariat ini tak ingin melihat hamba-Nya bersedih hati. Oleh karenanya, Islam diturunkan untuk membawa kebahagiaan bagi segenap makhluk, bukan untuk menyusahkan. Dalam surat Thaha Allah berfirman, مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ “Kami tidaklah menurunkan Al Quran ini kepadamu untuk membuatmu susah” (QS. Thaha: 2). Artinya, Islam diturunkan untuk membuatmu bahagia. Bahkan, saat seorang jauh dari Islam, saat Itulah kesedihan hakiki akan menghampirinya, dia memang pantas untuk mendapat kesedihan, Bila kita perhatikan sebuah hadis Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, maka kita bisa memyimpulkan sebuah kesimpulan yang indah. Di mana Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda, إِذَا كُنْتُمْ ثَلَاثَةً فَلَا يَتَنَاجَى رَجُلَانِ دُونَ الْآخَرِ حَتَّى تَخْتَلِطُوا بِالنَّاسِ أَجْلَ أَنْ يُحْزِنَهُ “Jika kalian bertiga maka janganlah dua orang berbicara/berbisik bisik berduaan sementara yang ketiga tidak diajak, sampai kalian bercampur dengan manusia. Karena hal ini bisa membuat orang yang ketiga tadi bersedih” (HR. Bukhori no. 6290 dan Muslim no. 2184). Sekedar berbisik bila membuat saudaranya sedih saja dilarang. Ini menunjukkan bahwa Islam begitu menjaga perasaan penganutnya dan amat menginginkan kebahagiaan dalam hati setiap insan. Bahkan Allah senang melihat tanda-tanda bahagia, itu tampak dalam diri kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ يُحِبَّ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ Sesungguhnya Allah senang melihat bekas nikmat-Nya pada seorang hamba” (HR. Tirmidzi dan An Nasai). Maka betapa indahnya Islam, agama yang mencintai kebahagiaan pada dirimu, dan mengenyahkanmu dari duka cita, di dunia dan di akhirat. Wahai saudara ku usirlah kesedihan dari hatimu. Jangan biarkan setan memanfaatkannya. Karena setan selalu mengintai setiap gerak-gerik kita. Sebagaimana Rasulullah kabarkan, إِنَّ الشَّيْطَانَ يَحْضُرُ أَحَدَكُمْ عِنْدَ كُلِّ شَيْءٍ مِنْ شَأْنِهِ، حَتَّى يَحْضُرَهُ عِنْدَ طَعَامِهِ “Sesungguhnya setan mendatangi kalian dalam setiap keadaan kalian. Sampai setan ikut hadir di makanan kalian” (HR. Muslim). Terakhir sebagai penutup tulisan ini, kami ingin katakan, “Anda seorang muslim? Berbahagialah!” Wallahu ta’ala a’laa wa a’lam. .
Sang Syaikh Kecil dan Perampok
Al Habib Al Kamil Syaikh Abdul Qadir Jailani Al-Hasani terlahir sebagai yatim. Beliau mendapatkan pendidikan dari Ibu nya. Di usia nya yang masih belia, sang Ibu memerintahkan beliau untuk menuntut ilmu lebih lanjut di “telaga Rasul” di kota Baghdad, Iraq. Beliau dibekali uang 40 dinar yang disimpan di dalam sebuah kantung kecil dan kantung tersebut dijahit dalam gamisnya (bagian bawah ketiak). Sebelum berangkat sang ibu memeluknya dan berkata; “tuntutlah ilmu lebih lanjut di telaga Rasul dan jadilah engkau hamba Allah yang jujur.”
Berangkat lah sang Syaikh kecil ke Baghdad. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan perampok, dan perampok itu bertanya “apakah kau membawa uang?” “Ya aku punya, ada di sini,” jawab sang Syaikh kecil sambil menunjuk ke arah bagian bawah ketiak nya. Si perampok tertawa melihat itu, dia bertanya kembali, “berapa uang yang kaubawa disitu?” “40 Dinar,” Al Kamil kecil menjawabnya dengan polos. Perampok itu terkesima melihat kejujuran sang Al Kamil cilik ini sambil bertanya, “Mengapa engkau menunjukan apa yang kau punya? Apakah kau tidak takut kepada ku?” Syaikh Abdul Qadir Jailani kecil menimpali kembali sambil tersenyum, “Ibu ku mengajariku untuk takut hanya kepada Allah dan untuk menjadi hamba Allah yang jujur.”
Di beberapa riwayah lain menjelaskan, sang perampok akhirnya mengikuti Syaikh Abdul Qadir Jailani hingga ke Iraq dan ikut belajar bersamanya.
Alangkah dahsyatnya pendidikan seorang Ibu. Merasuk dan berkembang di pikiran, hati, dan jiwa sang anak. Manusia-manusia shaleh, berilmu, dan bermanfaat lahir dari Ibu-ibu yang shalehah, berilmu, dan bermanfaat juga. Sangat lah tepat jika Baginda Rasulullah SAW menyebut para Ibu sebanyak 3x, beliau juga menyebut Ibu adalah sebaik-baik madrasah untuk putra putrinya, dan Beliau memuliakan para Ibu dengan kalimat “syurga di bawah telapak kaki ibu.”
Wallahu'alam bissawwab. Semoga bermanfaat.
Min Akhlakin Nabiy
Baginda Rasulullah SAW telah sampai pada puncak sifat iffah. Beliau adalah teladan terbaik dalam segala sifat utama. Dan sifat iffah itu bertautan erat dengan sifat utama lainnya seperti amanah, adil, kanaah, zuhud, dan itsar (mengutamakan orang lain). Rasulullah selalu menjaga lisan meskipun ketika sedang berselisih dengan orang lain. Belum pernah beliau mengucapkan kata-kata kotor. Rasulullah saw. juga tidak memperbolehkan memaki-maki orang musyrik yang terbunuh di Perang Badar. Beliau berpesan, “Janganlah mereka dimaki-maki, apa yang kamu katakan tidak akan sampai pada mereka tetapi yang demikian itu membuat sakit hati orang yang masih hidup. Ketahuilah, sesungguhnya kata-kata kotor itu adalah perbuatan rendah.” Seorang Arab datang memohon wasiat kepada Rasulullah. Beliau berkata, “Bertakwalah kepada Allah; jika ada orang mencelamu dengan sesuatu yang dia tahu ada padamu, janganlah kamu mencela dia dengan sesuatu yang kamu ketahui ada padanya; biarlah dia yang menanggung dosanya sedangkan kamu memperoleh pahala dan janganlah kamu sekali-kali memaki sesuatu. Ketika Rasulullah meninggalkan Bani Tsaqif, seorang sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, mohonkan kepada Allah supaya mereka ditimpa musibah.” Rasulullah pun berdoa, “Ya Allah, berilah petunjuk kepada Bani Tsaqif dan bawalah mereka [ke jalan yang benar].” Demikian juga ketika beliau diminta memohonkan kepada Allah agar kabilah Daus memperoleh musibah. Sesudah Perang Uhud, seseorang memohon kepada beliau supaya berdoa agar kabilah Quraisy memperoleh musibah. Beliau menjawab, “Sesungguhnya aku diutus sebagai rahmat dan bukan pelaknat. Ya Allah, berilah ampunan kepada kaumku karena mereka sesungguhnya belum mengerti.” Beliau tidak mau memohon kebinasaan meskipun pada musuhnya. Dan bila diminta supaya dia berdoa memohon kebinasaan terhadap seorang muslim atau orang kafir, beliau malah mendoakan kebaikannya. Apakah Rasulullah saw suka mengatakan sesat, kafir atau melaknat orang yang telah membaca syahadat? Tidak ada sifat yang paling dimuliakan dan diagungkan oleh bangsa Arab lebih daripada sifat pemurah dan berani. Para penyair menjunjung tinggi dan memuji-muji mereka dengan mengkhususkan dua sifat utama itu dalam syair-syair mereka. Sifat dermawan Nabi Muhammad saw. lain daripada yang lain. Polanya baru dan belum dikenal oleh bangsa Arab, juga belum dikenal oleh bangsa lain. Kedermawanan beliau bukanlah untuk mencari pujian atau untuk menutupi kekurangan. Bukan pula untuk berbanggabangga, mencari keuntungan, atau sanjungan. Kedermawanannya semata-mata karena Allah dan untuk mencapai ridha-Nya, untuk melindungi agama, menguatkan dakwah, dan melawan orang-orang yang menghalangi agama Allah. Sifat pemurah beliau untuk menolong kaum miskin yang telah membelanjakan harta mereka sampai habis di jalan Allah atau mereka yang tidak sanggup bekerja lagi, yatim piatu, para janda, para budak yang sedang menebus diri mereka dari majikannya. Kepemurahannya juga untuk menarik hati orang-orang yang hatinya sudah cenderung masuk Islam, untuk menambah kekuatan Islam. Kepemurahan Nabi sampai mengalahkan kepentingan dirinya sendiri dan keluarganya. Beliau memberikan suatu barang padahal beliau sendiri membutuhkan barang itu; beliau mengasihkan pemberian yang banyak sedang beliau sendiri membutuhkan sedikit saja dari apa yang diterimanya itu, karena beliau bisa menahan diri dan bersabar. Bagi beliau, cukuplah hidup sebagai zahid. Beliau dianggap sebagai pelindung, bapak penuh rasa kasih sayang, mendahulukan keperluan putra-putranya daripada keperluan dirinya sendiri. Lantaran inilah Aisyah berkata, “Rasulullah tidak pernah kenyang selama tiga hari berturut-turut sehingga beliau meninggal dunia. Sesungguhnya bila kami mau, kami bisa makan kenyang, tetapi memang kami mengalahkan kepentingan kami sendiri." * Rasulullah adalah contoh terbaik tawadhu', derajatnya tertinggi di sisi Allah dan termulia di antara manusia tapi beliau tidak sombong kepada mereka, malah merendahkan diri sebagai orang besar yang mencintai temannya seperti mencintai saudara-saudara dan anak-anaknya. Beliau tahu bahwa mereka mencintai, menghormati, dan mengutamakannya daripada diri mereka sendiri. Ketawadhu'an Rasulullah menambah kewibawaan beliau di mata mereka dan memperkuat cinta terhadap beliau di hati mereka. Sikap tawadhu' Nabi tampak nyata dalam berinteraksi, gerak langkah, dan kenyataan umum. a. Abu Sa‘id al-Khudri bercerita. Rasulullah menambatkan dan memberi makan sendiri untanya. Beliau menyapu rumahnya, memerah susu kambingnya, memperbaiki sandalnya, membetulkan bajunya, suka makan bareng pembantunya, membuat tepung gandum bila pembantunya berhalangan, pergi ke pasar membeli keperluan dan menentengnya sendiri ke rumah, suka berjabat tangan dengan orang kaya, orang fakir, orang tua, dan anak kecil. Rasulullah mendahului memberi salam kepada siapa saja yang bertemu dengan beliau, baik anak kecil, orang tua, orang hitam, orang mereah, merdeka atau budak. b. Ketika dalam perjalanan, beliau menyuruh para sahabat memasak kambing. Maka mereka berebut melaksanakannya. “Aku yang menyembelih!” yang lain berkata, “Aku yang mengupas kulitnya.” Ada yang berkata, “Aku yang memasaknya.” Rasul pun berkata, “Aku yang mencari kayu.” Para sahabat berkata, “Biarlah kami saja yang bekerja, Ya Rasul.” Beliau menjawab, “Aku tahu kalian sanggup memikul kewajibanku, tapi aku tak mau berbeda dengan kalian. Sungguh Allah tidak menyukai hamba-Nya yang membedakan diri dari kawan-kawannya.” c. Sayyidah Aisyah berkata: Rasulullah memperbaiki sendiri sandalnya, menjahit sendiri bajunya, bekerja di rumah sebagaimana dilakukan seorang di rumahnya. Suatu malam, keluarga Abu bakar mengirim kambing kepada kami; aku yang memegang daging kambing itu dan beliau yang memotong-motongnya. Rasulullah melarang sikap takabur dan mendorong kaum muslim untuk tidak menyukai sifat itu. Rasulullah menyuruh mereka bersikap tawaduk dan memotivasi mereka agar menyukai sifat itu. Beliau sering membuat perumpamaan dan contoh dalam sabdanya. a. “Rasulullah menunaikan haji dengan kendaraan yang kain atasnya sudah agak rusak seharga tidak sampai empat dirham. Beliau berdoa, “Ya Allah, jadikan hajiku ini haji yang bersih dari riya dan mencari nama.” b. “Cukuplah bagi seorang kejahatan bila ia menghina saudaranya yang Islam.” c. Rasulullah ditanya tentang berpakaian serba bagus, apakah yang demikian itu takabur? Beliau menjawab, “Tidak. Takabur itu mengingkari yang benar dan merendahkan orang lain.” Wallahu'alam bissawwab (Diambil dari buku Min Akhlakin Nabiy diterjemahkan dalam bahasa indonesia dengan judul Rujukan Induk Akhlak Rasulullah, karya Dr. Ahmad Muhammad Al-Hufy).
Rasulullah Pingsan dan Menangis Saat Mendengarkan Jibril Mengisahkan Pintu Neraka
Yazid Ar raqqasyi dari Anas bin Malik ra. berkata: Jibril datang kepada Rasulullah pada waktu yang ia tidak biasa datang dalam keadaan berubah mukanya, maka ditanya oleh Rasululah :"Mengapa aku melihat kau berubah muka (wajah)?" Jawabnya: "Ya Muhammad, aku datang kepadamu di saat Allah menyuruh supaya dikobarkan penyalaan api neraka, maka tidak layak bagi orang yang mengetahui bahwa neraka Jahannam itu benar, siksa kubur itu benar, dan siksa Allah itu terbesar untuk bersuka-suka sebelum ia merasa aman daripadanya". Lalu Rasullulah bersabda:"Ya Jibril, jelaskan padaku sifat Jahannam". Jawabnya: "Ya. Ketika Allah menjadikan Jahannam, maka dinyalakan selama 1000 tahun sehingga merah, kemudian dilanjutkan 1000 tahun sehingga putih, kemudian 1000 tahun sehingga hitam, lalu menjadi hitam gelap, tidak pernah padam nyala dan baranya. Demi Allah, andaikan terbuka sebesar lubang jarum niscaya akan dapat membakar semua penduduk dunia karena panasnya. Demi Allah, andaikan satu baju ahli neraka itu digantung di antara langit dan bumi niscaya akan mati penduduk bumi karena panas dan basinya. Demi Allah, andaikan satu pergelangan dari rantai yang disebut dalam Al-Quran itu diletakkan di atas bukit, niscaya akan cair sampai ke bawah bumi yg ke 7. Demi Allah, andaikan seorang di ujung barat tersiksa, niscaya akan terbakar orang-orang yang di ujung timur karena sangat panasnya. Jahannam itu sangat dalam, perhiasannya besi dan minumannya air panas bercampur nanah, dan pakaiannya adalah potongan-potongan api. Api neraka itu ada 7 pintu, jarak antar pintu sejauh 70 tahun, dan tiap pintu panasnya 70 kali dari pintu yg lain". Dikatakan dalam Hadith Qudsi: "Bagaimana kamu masih boleh melakukan maksiat sedangkan kamu tak dapat bertahan dengan panasnya terik matahariKu. Tahukah kamu bahwa neraka jahanamKu itu: mempunyai 7 tingkat. ⏩Setiap tingkat mempunyai 70.000 daerah. ⏩Setiap daerah mempunyai 70.000 kampung. ⏩Setiap kampung mempunyai 70.000 rumah. ⏩Setiap rumah mempunyai 70.000 bilik.⏩Setiap bilik mempunyai 70.000 kotak. ⏩Setiap kotak mempunyai 70.000 batang pokok zaqqum.⏩Di bawah setiap pokok zaqqum mempunyai 70.000 ekor ular.Di dalam mulut setiap ular yang panjangnya 70 hasta mengandung lautan racun yang hitam pekat. ⏩Dan di bawah setiap pokok zaqqum terdapat 70.000 rantai. Setiap rantai diseret oleh 70.000 malaikat". "Api yang ada sekarang ini, yang digunakan bani Adam untuk membakar hanyalah 1/70 dari api neraka jahannam" (HR. Bukhari-Muslim). "Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka akan mendengar kegeraman dan suara nyalanya". (QS. Al-Furqan: 11). "Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya, mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak, hampir-hampir (neraka) itu terpecah lantaran marah". (QS. Al-Mulk: 7). Air di jahannam adalah hamim (air panas yang menggelegak), anginnya adalah samum (angin yang amat panas), sedang naungannya adalah yahmum (naungan berupa potongan-potongan asap hitam yang sangat panas) (Lihat QS. Al-Waqi'ah: 41-44). Rasulullah meminta Jibril untuk menjelaskan satu per satu mengenai pintu-pintu neraka tersebut. ⏩"Pintu pertama dinamakan Hawiyah (arti harfiahnya: jurang), yang diperuntukkan bagi kaum munafik dan kafir. ⏩Pintu ke 2 dinamakan Jahim, yang diperuntukkan bagi kaum musyrikin; ⏩Pintu ke 3 dinamakan Saqar, yang diperuntukkan bagi kaum shobiin atau penyembah api; ⏩Pintu ke 4 dinamakan Ladha, diperuntukkan bagi iblis dan para pengikutnya; ⏩Pintu ke 5 dinamakan Huthomah (artinya: menghancurkan hingga berkeping-keping), diperuntukkan bagi kaum Yahudi; ⏩Pintu ke 6 dinamakan Sa'ir (arti harfiahnya: api yang menyala-nyala), diperuntukkan bagi kaum kafir. Rasulullah bertanya: "Bagaimana dengan pintu ke 7?" Sejenak malaikat Jibril seperti ragu untuk menyampaikan siapa yang akan menghuni pintu ketujuh. Akan tetapi Rasulullah mendesaknya sehingga akhirnya Malaikat Jibril mengatakan, ⏩"Pintu ke 7 diperuntukkan bagi umatmu yang berdosa besar dan meninggal sebelum mereka mengucapkan kata taubat". Mendengar penjelasan yang mengagetkan itu, Rasulullah pun langsung pingsan, Jibril lalu meletakkan kepala Rasulullah di pangkuannya sehingga sadar kembali dan sesudah sadar beliau bersabda: "Ya Jibril, sungguh besar kerisauan dan sangat sedihku, apakah ada seorang dari umat ku yang akan masuk ke dalam neraka?" Jawabnya: "Ya, yaitu orang yg berdosa besar dari umatmu." Nabi Muhammad lalu menangis, Jibril pun ikut menangis. Kemudian nabi Muhammad langsung masuk ke dalam rumahnya dan tidak keluar kecuali untuk sembahyang. Setelah kejadian itu, beliau tidak berbicara dengan siapapun selama beberapa hari, dan ketika sholat beliau pun menangis dengan tangisan yang sangat memilukan. Karena tangisannya ini, semua sahabat ikut menangis, kemudian mereka bertanya: “Mengapa beliau begitu berduka?” Namun beliau tidak menjawab. Sayyidah Fathimah az-Zahra melihat beliau karena tangisan yang tiada henti. Wajah Nabi menjadi pucat dan pipinya menjadi cekung. Sebagaimana yang diceritakan oleh Kasyfi, bahwa bumi tempat beliau duduk telah basah dengan air mata. Sayyidah Fathimah berkata kepada ayahnya, semoga hidupku menjadi tebusanmu, “Mengapa Ayahanda menangis?” Nabi menjawab: “Ya Fathimah, mengapa aku tidak boleh menangis? Karena sesungguhnya Jibril telah menyampaikan kepadaku sebuah ayat yang menggambarkan kondisi neraka. Neraka itu mempunyai 7 pintu, dan pintu- pintunya mempunyai 70.000 celah api. Pada setiap celah ada 70.000 peti mati dari api, dan setiap peti berisi 70.000 jenis azab". Setelah mendengar ucapan tersebut, para sahabat Nabi menangis dan meratap, "Derita perjalanan alam akhirat sangat jauh, sedangkan perbekalan sangat sedikit".Sementara sebagian lagi menangis dan meratap, "Seandainya ibuku tidak melahirkanku, maka aku tidak akan mendengar tentang azab ini". Ammar bin Yasir berkata, "Andaikan aku seekor burung, tentu aku tidak akan ditahan (di hari kiamat) untuk di hisab". Bilal yang tidak hadir di sana datang kepada Salman dan bertanya sebab-sebab duka cita itu. Salman menjawab: "Celakalah engkau dan aku, Sesungguhnya kita akan mendapat pakaian dari api, sebagai pengganti dari pakaian katun ini dan kita akan diberi makan dengan zaqqum (pohon beracun di neraka).Sungguh dialog yang sangat mengerikan. Para sahabat meratap dan menangis, bahkan Nabi dan malaikat Jibril pun menangis saat mengetahui tentang dasyatnya siksa di neraka. Bagaimana dengan kita..?
Doa Pelunas Hutang
Pada suatu hari, Baginda Nabi SAW masuk ke masjid dan menjumpai seorang sahabat, Abu Umamah yang sedang duduk termenung. Beliau heran menyaksikan Abu Umamah duduk sendiri, sementara suasana masjid sepi karena memang belum masuk waktu shalat. Baginda Nabi mendekatinya dan bertanya, "hai Abu Umamah, mengapa kamu duduk di dalam masjid di luar waktu shalat?" Abu Umamah menjawab, "Hatiku sedang gelisah wahai Rasulullah. Dan aku mempunyai hutang yang harus kubayar." Mendengar keluhan ini, Baginda Nabi SAW bersabda; "Ingatlah, kuajarkan kepadamu suatu ucapan (doa) yang apabila kamu mau mengucapkannya Allah SWT akan menghilangkan kegundahan hatimu, dan Dia akan memberikan jalan untuk menyelesaikan hutangmu. Sesungguhnya, Allah lah yang akan menyelasaikan hutangmu. Ucapkanlah di kala pagi dan sore hari: Allahumma inni a'udzubika minal hammi wal hazan, wa a'udzubika minal jubni wal bukhl, Wa a'udzubika min ghalabatid dain wa qahri rijaal." Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegundahan hati dan kesedihan, dari rasa lemah dan malas, dari rasa takut dan bakhil, dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan dipaksa (diperas) orang. Setelah mengamalkan doa yang disarankan oleh Baginda Nabi SAW di atas, tak lama kemudian Abu Umamah berhasil melunasi hutangnya dan hilang lah kesedihannya. Dalam beberapa hadits diriwayatkan, Baginda Nabi SAW mengamalkan dan menganjurkan para sahabat untuk membaca berbagai dzikir dan doa, khususnya di waktu pagi dan sore hari, satu di antaranya adalah doa di atas. ===================================== فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi. Surah Al-Mu'min (40:55) وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. Surah Al-A'raf (7:205) ===================================== Wallahu'alam bissawwab