Menderita karena tidak ada tanda radar jodoh mendekat
Menderita karena kesulitan memilih siapa jodoh yang tepat
Keduanya tidak ada yang menyenangkan. Kadang, rasanya sama rata. Kita hanya diuji di titik terlemah kita. Entah kita yang kurang percaya akan janjiNya bahwa jodoh pasti datang di saat yang tepat. Entah ujian kita adalah tentang niat menikah itu sendiri.
Dan, sepertinya, tiap orang akan sampai di titik tersebut. Perasaan yang mulanya, mungkin tidak akan pernah terbesit sebelumnya. Saking menggebunya ingin menikah karena cinta maupun rasa ingin membalas kata-kata "kapan nikah?" Di saat hari raya.
Selamat datang di stasiun titik jenuh dengan gerbong tanda tanya. Tanda tanya akan "apa iya, sudah siap menikah?" "Apa iya, bisa bertahan?" "Bagaimana kalau langsung menjadi orangtua?" "Apa yang harus dikorbankan saat menikah?"
Ternyata, benar juga nasihat para sesepuh pernikahan, "Jodoh itu tidak usah dikhawatirkan." Karena, setelah jodoh datang, sangat banyak hal yang akan dikhawatirkan, direncanakan, dan dilakukan.
Engga heran kalau kata orang, "Menikah seperti menaiki satu anak tangga kehidupan." Seketika, kita akan menjadi orang yang berbeda. Beradaptasi besar-besaran dengan lingkungan, kebiasaan, dan pasangan.
Memang, memusingkan dan tiada habisnya jika hanya membicarakan teori tanpa eksekusi. Tapi, apalagi yang bisa dilakukan selain mengingat-ingat teori dan berdiskusi pada para sesepuh nahkoda rumah tangga?Pun begitu. Sesepuh sering menasehati, "Menikah tidak serumit itu ketika dijalankan." Dengan orang yang tepat, tentunya.
Semoga saja ... Semoga yang belum dipertemukan jodohnya, Allah pertemukan dengan skenario terbaikNya. Yang masih gundah gulana tentang pernikahan pun bisa segera yakin akan langkah ke depannya.
Seorang sahabat pernah mengingatkan ketika terlalu mengkhawatirkan tentang menyempurnakan separuh agama maupun goyah akan suatu keputusan, perbanyaklah membaca An Nas:
"Aku berlindung ke pada tuhannya manusia, raja manusia, sesembahan manusia."
"Dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi."
"Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia."
Mungkin, ada hal yang tidak terlalu disesali saat menjadi dewasa. Terutama dalam masalah romansa.
Topik apa lagi yang mudah diceritakan selain tentang percintaan? Yang tidak perlu pikir panjang, mungkin mencurahkan isi hati, atau tangan yang tergerak otomatis karena selalu ada cerita manusia yang berbeda dan tidak biasa.
Ketika menjadi dewasa, tidak ada rasa yang perlu ditutupi. Nyatakan saja. Toh, sudah terlalu jelas tanda-tandanya. Bedanya, akankah mereka berdua bersama? Bukannya karena tidak saling suka, sesederhana, karena timeline hidup yang tidak sama.
Miris bukan?
Padahal, tidak lagi ada yang perlu ditanya. Toh, apa yang diinginkan sudah ada pada dirinya. Apa yang dilakukan dan dipikirkan sudah tertuju pada orang yang sama.
Maka, semua kisah tentang hubungan antara laki-laki dan perempuan akan selalu berputar-putar hingga pada satu ujungnya. Pernikahan.
Sebelum itu, rasanya sulit untuk menerka-nerka apa maksudnya, tetap terbatas akan pengorbanan maupun kasih sayang, bahkan sering dihantui rasa bersalah. Entah dari agama maupun norma sekitarnya.
Namun, rasa itu selalu menjadi misteri. Antara percaya dan tidak, apakah bisa merasakan sesuatu yang dikatakan “cinta”. Jika terlalu jauh, maka standar “suka”, pun, lebih dari cukup.
Sampai, di satu titik, di satu moment, kepada seseorang laki-laki yang ia selalu memiliki ingatan pendek padanya. Tidak pernah “melihat” bahkan kadang tak sadar akan keberadaannya. Ia akhirnya merasakan hal yang berbeda.
Ia kemudian menertawakannya. Awalnya ini bercanda. Berawal dari permainan kata teman-teman yang memasang-masangkan dirinya dan laki-laki tersebut. Namun, lama-kelamaan rasa ini menjadi nyata.
Kesal rasanya. Tapi, apa mau dikata? Pernah merasa tidak suka ketika memiliki rasa suka? Ya. Begitulah kata² yang tepat.
Laki-laki ini sederhana. Tak banyak bicara. Namun, bahasa cinta mereka sama.
Mungkin, bahasa cinta tidak begitu terasa dampaknya. Tapi, layaknya kisah web series ala², sutradara tak kasat mata seperti menyatukan mereka. Atau memang karena rasa ingin dekat satu sama lain selalu ada.
Bisa jadi, hanya si perempuan yang merasa bahwa perhatian kecil tertuju padanya, beberapa pandangan tak sengaja terasa, dan cerita detil tentangnya terucap dengan mudah dari bibir yang bahkan tak sanggup ia tatap lama-lama.
Entah ada maksud si laki-laki untuk suka dan mendekati ataupun tidak. Pelaku utamanya adalah satu teman mereka yang memulai, lalu berakhir menjadi hiburan tongkorongan tiap kali ada kesempatan mereka bertatap muka.
Karena, membutuhkan energi lebih untuk mengelak skenario teman-teman yang telah dibuat sedemikian rupa. Si perempuan dan si laki² ini, berusaha menerima dengan lapang dada. Walaupun kebanyakan kata² tersebut di luar kamus mereka berdua. Spontanitas tidak menghalangi kekompakan teman² mereka. "Ceng²an" yang dilemparkan selalu mampu membuat si laki² salah tingkah dan juga membuat pipi si perempuan layaknya udang rebus.
"Za, za," si pelaku utama dari munculnya "ceng²an" ini sengaja membuat Maza menyimak kata² selanjutnya, "ini Sajad mau sama kamu, nih." Jelas. ini bukan pernyataan murni dari Sajad. Bahkan, Sajad terkejut akan apa yang Dita katakan barusan.
Maza yang baru saja ingin beranjakpun mengurungkan diri sekali lagi, tertarik akan apa jawaban Sajad selanjutnya, "Gue masih lama ..."
Maza paham apa yang dimaksud Sajad. Jangan tanya bagaimana tingkat kepahaman Dita.
"Tuh, tuh ... Gimana, Za? Lo mau nungguin Sajad, ngga?" Tanpa jeda sedetikpun. Sekarang, Dita persis seperti mak comblang profesional dadakan.
Maza dengan segudang pengalaman percintaannya dahulupun, spontan menjawab, "Yah ... Boleh, lah ... gue pertimbagin." Dengan nada setengah bercanda sambil melengos pergi.
Rasanya ingin menolak, namun khawatir kualat. Jodoh tidak ada yang tahu datang dari arah mana. Tapi, kalau mengiyakan, rasanya itu bukan sebuah pertanyaan murni, karena masih dibumbui hiburan dan ceng-ceng-an. Jadi, Maza rasa itu jawaban yang cukup bijak.
Walaupun yang menjadi biang keladinya adalah Dita, teman tongkrongan mereka yang lain juga tidak ingin kalah dalam memainkan peran "kompor" ini.
Pernah suatu ketika Sajad dipanggil Riko, salah satu anggota tongkrongan mereka.
“Jad, ini Maza suka sama lo!” Fitnah Riko. Yah, mungkin setengah fitnah. Karena, bisa jadi setengahnya benar.
Sajad membalas, “Kamu terlalu baik untukku, Za.”
Maza yang tidak mau kalah menimpali, “Ah, jawaban kayak gitu, biasanya jawaban penolakan, tuh. Iya, ngga, Ko?” Riko mengangguk kencang.
Maza puas. Ia lihat Sajad kalah telak dalam permainan ini.
Prinsip yang Maza dapatkan baru-baru ini adalah: Ketika dibully atau dijadikan bahan ceng-ceng-an. Daripada energi dialokasikan untuk mengelak-yang sudah pasti akan kalah karena melawan sejuta anak tongkrongan lebih baik ikut menjadikan dirinya sendiri juga objek.
Seseorang tidak akan menderita jika ia tidak menganggap diri nya menderita.
Pengalaman “dipasang-pasangkan” secara paksa ini bukan kali pertamanya dirasakan Maza dan Sajad. Yah, Sajad dengan “pasangan”nya dulu, begitu pula dengan Maza. Namun, kali ini rasanya seperti terlalu memungkinkan untuk mereka bersama. Bisa jadi, hanya satu musuhnya: waktu masing-masing yang berbeda.
Mungkin, rasa yang Maza rasakan pun tidak seyakin itu. Karena, jika diukur dari segi agama-parameter utama Maza dalam memandang kaum adam-Sajad mungkin tidak begitu kaku dalam pelaksanaan agamanya. Kadang, terkesan agak longgar, bahkan terlalu longgar.
Tapi, Maza “berkaca”, ia juga masih tidak begitu baik. Kalau boleh ia nilai sendiri, kepemahaman agama mereka berdua masih dalam satu server yang sama.
Yang membuatnya kadang tidak habis pikir akan “ulah” Sajad: Terlalu peka dan memiliki cara sendiri agar Maza selalu terlindungi. Baik secara fisik maupun kata-kata. Kepakaannya pun tidak berlebihan yang menjadikannya mudah terbawa perasaan alias baperan dan posesif
Mereka tahu bahwa permainan pasang-pasangan ini tidak hanya peran dari teman-teman mereka saja. Kadang, Maza dengan sadar sengaja memasang-masangkan mereka. Tapi, Sajad selalu berhasil mendapatkan saat yang tepat untuk menerima, menolak halus, kadang menolak secara spontan, tetapi teman-temannya tahu bahwa sebenarnya ia menerima, bahkan Sajad pernah membalasnya dengan kata-kata puitis yang sanggup membuat Maza meleleh. Walaupun, Maza tahu itu hanya untuk hiburan di depan teman-temannya. Tapi, ia kadang mempercayai bahwa kata² itu juga tulus dari hati Sajad.
Maza tidak tahu atau tidak berniat ingin tahu akan kebenaran "permainan" yang di awali Dita. Sampai, apa yang menggerakkan Dita hingga idenya kali ini pun jatuh untuk bertanya pada Sajad, “Coy, menurut lu, Maza potensial untuk lu sukain, ngga?”
“Potensial.” jawab Sajad jujur. Tanpa embel². Rasanya itu adalah jawaban yang ingin ia keluarkan dari dadanya.
Tidak berhenti di situ, Dita langsung menanyakan Maza di tempat yang sama, di depan Sajad pula.
Awkward moment tidak dapat dihindari ketika Maza menjawab dengan jawaban jujur yang sama. Detak jantung dan frekuensi pernapasan Maza pun berlomba-lomba mendapatkan gelar "siapa cepat". Tubuhnya mulai merasakan sensasi tidak nyaman namun lubuk hatinya merasakan kehangatan yang selalu Maza sukai. Merasa disayangi dan dicintai.
Hormon endorfin mengalir di pembuluh darah mereka berdua. Sebuah pernyataan sederhana yang memberi tanda bahwa candaan dan hiburan ini memiliki arti lebih dari sekedar “ceng-cengan” belaka.
Entah siapa yang memiliki rasa “itu” pertama, tapi,mereka berdua tahu bahwa rasa itu terbalaskan.
Bagaimana tidak? Siapa perempuan yang sanggup menahan perasaan ketika selalu diperlakukan istimewa? Mulai dari mengingat apa yang disukai Maza, hafal di luar kepala apa keseharian yang Maza, sampai berhasil membuat Maza menceritakan kisah kelamnya. Semua sukses Sajad lakukan dalam kurun waktu yang tidak lama.
Belum lagi ketika bahasa cinta mereka berbicara. Tiba-tiba Sajad berada di dekatnya. Menyenggol Maza dengan benda apapun di sekelilingnya. Bahkan menutupi muka Maza dengan jaket Sajad sendiri. Aroma tubuh bercampur parfum khas Sajad, sukses memasuki memori limbik Maza.
Ketika teman tongkrongan mereka menonton bersama, entah kenapa mereka selalu bersebelahan. Yang semakin membuat Maza kagum adalah Sajad tidak pernah menyentuhnya walaupun bahasa cinta mereka sama. Sentuhan.
Kadang, secara tidak sengaja, mereka bersentuhan langsung. Seperti saat Maza pernah secara tidak sengaja menabrak dada bidang Sajad. Ingin rasanya Maza mengecam dirinya sendiri, tetapi malu mengakui bahwa hal tersebut bisa jadi sesuatu yang ia syukuri.
Atau, saat mereka tidak sengaja berada di posisi depan dan belakang saat berjalan menyusuri gelapnya malam paska acara bersama anak tongkrongan, Sajad selalu meminta Maza mengulurkan benda yang ada dalam jangkauannya. Entah tas, payung, agar Sajad tetap bisa melindungi dan menggenggam Maza, walaupun secara tidak langsung. Bagi Sajad, kulit Maza terlalu berharga apabila tersentuh olehnya.
Memang, rasanya selalu ada magnet di dekat Maza, sehingga apa yang kebanyakan Sajad lakukan saat berkumpul dengan anak tongkrongan adalah: menggoda Maza, mengisenginya, mengobrol ngalor ngidur bersamanya, meminjam HPnya, hingga bisa mengkorek-korek isinya.
Maza pun tidak mau kalah, sadar tidak sadar, Sajad adalah orang yang selalu ia cari pertama, Maza selalu kagum pada perhatian-perhatian kecil yang diberikan Sajad padanya. Di saat teman-teman yang lain tidak menyadarinya.
Maza juga selalu merasa Sajad menyayangi dan melindunginya. Sesederhana ketika mereka menyusuri jalan dan ada kendaraan yang kan lewat-bahkan jaraknya tidak terlalu dekat-Sajad refleks menarik tas selempang Maza, mencegah agar Maza baik-baik saja.
Maza kembali mengonfirmasi rasa yang ada padanya. Karena, ia berhasil merasakan cemburu. Cemburu yang sederhana. Ketika Sajad dekat dengan Dita di suatu kondisi. Tidak. Tidak setiap saat kecemburuan itu muncul. Entah kenapa saat itu suasananya mendukung untuk melahirkan rasa cemburu yang berharga dari diri Maza.
Pertanyaannya, mau sampai kapan? Walaupun masih belia, orang tua Maza sudah memiliki banyak calon untuk disadingkan dengannya di pelaminan. Namun, Maza tidak terlalu tertarik dengan tawaran orang tuanya. Sedangkan Sajad? Ia merasa belum bisa bertanggung jawab penuh sebagai kepala keluarga.
Walaupun mereka sudah tahu, ketika orang tua Maza sudah sampai pada titik nadir menyegerakan pernikahan dan Sajad masih belum bisa mengambil langkah yang jauh, mereka tidak akan lagi bisa saling berbagi rasa.
Walaupun mereka juga sudah tahu, hubungan mereka yang berada dalam “komedi putar” ini lama-kelamaan akan mencelakai diri sendiri dan pasangan mereka.
Memori yang terlalu melekat antara Maza dan Sajad bisa jadi akan mengalahkan memori yang seharusnya dibangun bersama pasangan masing-masing kelak.
Pasangan mereka akan merasa tersakiti apabila memori lama itu masih muncul. Apalagi jika sampai mempengaruhi dan berdampak besar kepada kehidupan mereka sendiri.
“Andaikan kita ditemukan di waktu yang tepat, mungkin kita bisa bersama sekarang.”
Ya, dia manusia itu. Yang mungkin hampir setiap saat kau pikirkan, yang mungkin kau pikir tidak bisa kau raih, yang kau berharap bahwa dengannya, dunia akan begitu berwarna.
Haha, lagi-lagi, tentang cinta.
Berbicara dan menjadikan cinta sebagai topik yang bisa merekatkan hubungan memang tidak ada habisnya.
Jika kau sedang merasakannya, berarti kau amat beruntung. Karena cinta, sedikit banyaknya membuat seseorang berubah kearah kebaikan.
Bagi yang tidak merasakannya bahkan alergi saat membahasnya, hatimu sudah cukup tergores dan tercabik-cabik karenanya, tidak apa. Paling tidak, kau tahu kemana tempat untuk pulang, kan?
Kepada cinta yang tidak pernah habis itu. Membuatmu bisa menarik dan menghembuskan napas secara tidak sadar, menidurkan dan membangunkanmu di malam dan pagi hari.
Bahkan, jika kamu sudah mendaptkan itu semua. Cinta yang kau harapkan darinya. Sudah tidak perlu menunggu, semua harapanmu terwujud, perasaanmu terbalaskan, apakah kamu yakin itu akan bertahan?
Perasaan manusia yang secara naluriah berubah-ubah, tidak pernah sama,tidak ada yang bisa menjamin bahwa cinta itu kekal untuk selama-lamanya ...
Kebohongan ...
Penghianatan ...
Sampai akhirnya, perselingkuhan ...
Ya ... Inilah dunia kita, dunia sementara.
Hanya dunia, kok. Sehabis ini, ada sesuatu yang kekal.
Jika dia yang kamu harapkan menjadi bapak atau ibu bagi anakmu itu percaya akan dimensi yang kekal, percayalah ... cinta kepadamu bukan persoalan masih ada atau tidaknya lagi rasa, tapi ... cinta kepadamu itu untuk kebahagiaan selama-lamanya ...
surakarta, 5 Juni 2020
-pembicaraan Gena dengan hatinya sendiri
@afsy.lail @romanticallyromantic