SEBUAH CERPEN : MENDEFINISIKAN ULANG ARTI KEAJAIBAN
Suatu hari, seorang pemuda desa tampak tergesa-gesa mengendarai sepedanya. Di ujung perjalanannya, ia telah dinanti oleh Sang Guru yang katanya hendak menunjukkan sebuah keajaiban jika si pemuda tersebut datang menemuinya tepat pada waktu yang telah ditentukan oleh Sang Guru.
Sang pemuda yang saat itu sangat bersemangat, memacu sepedanya secepat kilat supaya ia bisa hadir tepat pada waktu yang telah ditentukan oleh Sang Guru. Baginya yang disebut keajaiban oleh gurunya, pasti sesuatu yang sangat berharga dan ia idam-idamkan. Sebab, ia sudah menantinya sejak lama, sejak ia mulai belajar ilmu kehidupan dari Sang Guru beberapa tahun silam.
Sang Guru memang pernah menjanjikan bahwa suatu saat ia akan menunjukkan keajaiban tersebut sebagai tanda bahwa pemuda tadi telah siap naik ke tingkat pembelajaran berikutnya yang lebih tinggi.
Selama ini dia selalu sabar menanti kapan saatnya ia naik tingkat, tapi tak kunjung diberikan oleh Sang Guru. "Mungkin memang aku masih harus mengabdi pada Guru", pikirnya berulang-ulang kali ketika kesabarannya sedang agak mengendur.
Tak heran, ketika Sang Guru memberinya kesempatan untuk naik tingkat, ia tak kuasa menahan kesabarannya lagi dan sangat berambisi ingin segera mendapatkannya. Inilah saat yang sangat tepat dan tak boleh disia-siakan.
Perjalanan yang dilaluinya tidak mudah, sebab tempat Sang Guru menunggu berada cukup jauh dari tempat tinggalnya. Ia harus melewati pematang dari beberapa hektar sawah dan kebun dengan hati-hati, menyeberangi sungai-sungai, melewati jalan raya yang sangat panjang yang kala itu belum ramai dilewati oleh kendaraan bermotor, dan juga masih perlu menaiki perbukitan kecil yang dinaungi rimbunnya pepohonan.
Di tengah perjalanannya yang penuh rintangan itu, tiba-tiba saja laju sepedanya mulai tidak stabil, menunjukkan tanda-tanda bahwa ada yang tak beres di sana.
Benar saja, setelah turun dari sepedanya, ia mendapati ban sepedanya telah kempes karena tertusuk sebuah paku.
"Ah sial sekali, kenapa sih pakai kempes segala, padahal waktu yang ditentukan Guru tidak lama lagi segera berakhir. Aku bisa gagal mendapatkan keajaiban yang kuidam-idamkan kalau begini.", gerutu si pemuda itu.
Ia yang tak tahu lagi harus berbuat apa, terpaksa melanjutkan perjalanannya dengan menuntun sepedanya sampai ke bengkel tempat untuk menambal ban sepedanya. Cukup jauh dan sangat melelahkan.
Sesampainya di bengkel, ia pun memasrahkan urusan ban sepedanya pada pemilik bengkel, seorang bapak-bapak kurus yang senyumnya menunjukkan eksistensi giginya yang sudah mulai jarang-jarang dan rambutnya hampir semua memutih.
Di benak si pemuda, lintasan-lintasan pikiran tentang keajaiban yang akan batal ditunjukkan oleh Sang Guru karena ia terlambat terus saja menghantuinya. Ia masih saja murung dan meratapi nasibnya sampai ban sepedanya sudah selesai ditambal.
"Terima kasih pak, ini uangnya, silahkan ambil saja kembaliannya...", tutur si pemuda yang sudah tak berminat mengambil uang kembaliannya karena pikirannya memang sudah campur aduk.
"Terima kasih kembali, Nak. Semoga perjalananmu selalu dimudahkan dan diberkahiNya. Aamiin...", balas bapak pemilik bengkel itu.
Ia tak terlalu menghiraukan ucapan si bapak tadi dan langsung memutuskan untuk melanjutkan perjalanan meskipun ia tahu bahwa ia sudah terlambat. Yang ia lihat, saat mulai ia tinggalkan, bapak tadi masih terus menengadahkan tangannya ke langit sambil berkomat-kamit.
Akhirnya, setelah menempuh jarak yang lumayan jauh, bertemulah ia dengan Sang Guru yang sedang khusyu' berdzikir di bawah pohon tepat di puncak sebuah bukit.
Sang Guru tersenyum ketika menyadari murid yang ia tunggu-tunggu telah tiba.
"Bagaimana perjalananmu, Nak?" tanya Sang Guru.
"Maaf Guru, aku terlambat, sepertinya aku tidak pantas mendapatkan apa yang engkau janjikan.", kata pemuda tersebut sambil terus menceritakan perjalanannya, termasuk kesialan yang ia alami.
Sang Guru lalu menepuk pundak murid kesayangannya itu dan berkata, "MasyaAllah Nak... bukankah perjalananmu tadi adalah keajaiban juga? Kejadian buruk yang kau alami pun juga keajaiban. 😊"
Si pemuda mengernyitkan dahinya, tak paham apa yang dikatakan oleh Sang Guru.
"Nak, kau keliru mengartikan keajaiban. Keajaiban itu tidak selalu berwujud engkau mendapatkan apa yang kau inginkan. Ketika engkau menjadi saluran kebahagiaan bagi orang, itu juga keajaiban.", tambah Sang Guru.
Sambil mencerna maksud Sang Guru, pemuda itu mengingat lagi perjalanannya. Terutama ketika ia bertemu dengan bapak tua pemilik bengkel. Bapak itu raut wajahnya begitu girang saat kedatangannya beserta sepeda dengan ban kempesnya. Sepertinya sudah lama ia tidak menunggu dan tak kunjung mendapatkan pelanggan.
Cukup lama si pemuda terlihat melamun. Ia ingat lagi ketika ia membayar ongkos perbaikannya, bapak tua itu terlihat sangat bahagia dan begitu terharu mendapatkan uang yang lebih dari si pemuda. Tak heran dari lisannya muncul doa-doa tulus yang spontan.
Si pemuda pun mulai tersenyum riang.
"Kau sudah paham, Nak? Apa pelajaran yang kau dapatkan?", tanya Sang Guru.
Pemuda itu mengangguk sambil tetap tersenyum, kali ini lebih lebar. "Alhamdulillah sudah Guru... Keajaiban sama sekali tidak identik dengan mendapatkan apa yang kita inginkan. Selama ini aku berpikir ketika aku gagal mendapatkan apa yang aku inginkan, maka tak ada yang namanya keajaiban. Padahal bisa jadi saat itu diriku sedang berperan menjadi keajaiban bagi orang lain dan tak ada yang lebih ajaib daripada diperankan sebagai kurir keajaiban bagi orang lain. Aku semakin sadar betapa indahnya pengaturan Sang Maha Adil, Guru.", jawab si pemuda yang semakin sumringah wajahnya.
"Sang Nabi pun pernah bersabda dengan kiasan bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Artinya ketika aku selalu berharap apa yang aku inginkan akan terwujud tanpa menghiraukan orang lain, maka saat itu tanganku selalu di bawah. Sedangkan ketika aku selalu berbahagia dengan membantu orang lain mewujudkan keinginan baiknya, meskipun nampaknya tidak selalu nyaman bagiku, maka saat itu aku sudah menempatkan tanganku berada di atas 😊 ", tambahnya lagi.
"Baiklah, selamat Nak, kau boleh naik ke tingkat pembelajaran yang selanjutnya. Itulah keajaiban yang ingin kutunjukkan padamu dan kau telah melihatnya pada apa yang kau lalui dengan upayamu, atas izinNya... 😊", kata Sang Guru sambil tersenyum pula.
"Alhamdulillaaaahh.... Terima kasih Guru... 😭", si pemuda pun berterima kasih sambil mencium tangan Sang Guru, lalu tersungkur bersujud ke arah kiblatnya seraya memuji Tuhannya atas pelajaran baru dan sangat berharga tentang keajaiban yang ia dapatkan hari ini.
Sesekali bikin cerpen, biar kayak orang-orang. 😊
Abaikan gambar ilustrasinya yang agak nggak sesuai, yang penting ada ban-nya 😁