butuh apa yang diinginkan
Hallo selamat pagi, Tuan. Kotaku sedang diguyur hujan. Pun begitu dengan pikiranku yang dipenuhi dengan hujan pertanyaan. Boleh aku sejenak mengambil waktumu dan bertanya tentang beberapa hal?
Pagi, Nona. Kotaku pagi ini sedang diselimuti mendung yang syahdu. Tentu, silahkan bertanya. Aku tidak akan ragu menjawab jika aku tahu jawabannya
Pernahkah kamu berada di titik yang membuatmu merasa tak bisa berkata apa-apa. Tak bisa melakukan apa-apa. Ingin memiliki namun entah karena apa. Ingin mendekap namun tak mengerti untuk apa. Pernah demikian?
Pernah, ah tidak.. Sering bahkan... Sepertinya saat ini pun aku sedang berada di situasi itu. Situasi yang membuatku berada di "antah berantah"
Lalu bagaimana kamu keluar dari situasi itu? Bagaimana melengkapi segala tanya di benakmu?
Jika kamu bertanya padaku bagaimana cara aku keluar dari situasi memuakkan itu, aku pun tak tahu jawabannya. Selama ini yang kulakukan hanyalah memendam pertanyaan-pertanyaan di benakku hingga akhirnya aku sendiri tertimbun dalam pertanyaan yang jawabannya belum kudapatkan
Jika begitu, maka itu berarti pertanyaanmu tidak cukup kamu inginkan untuk bisa terjawab? Atau memang kamu tak membutuhkan jawaban atas segala tanya itu?
Sepertinya jawaban dari kedua pertanyaanmu itu "iya". Tapi itu dulu. Sekarang aku berusaha untuk mencari jawab dari segala tanya yang berkecamuk di benakku. Tapi tetap saja, sepertinya aku terjebak di ruang hampa tanpa jawaban
Begini, menurutku tanyamu akan berlabuh pada sebuah jawaban ketika kamu membutuhkannya. Namun jika kamu hanya sekedar ingin agar pertanyaanmu menemukan jawaban, aku rasa kamu akan banyak menghabiskan waktu untuk mencari
Maaf, tapi aku belum sepenuhnya paham. Bisa kau jelaskan lebih rinci, Nona!
Butuh dan ingin bagiku berbeda, Tuan. Sebelumnya, aku ingin bertanya padamu. Apakah menurutmu butuh dan ingin berbeda makna?
Ah iya, memang mereka berbeda. Sangat berbeda. Hanya saja dulu aku sangat merasa tahu apa yang kukira menjadi kebutuhanku, hingga aku berani mendikteNya. Sekarang semesta membuatku bertemu dengan apa yang benar-benar kubutuhkan. Tapi, aku jadi ragu benarkah yang kutemukan sekarang adalah apa yang kubutuhkan?
Tak perlu meragu, Tuan. Bila kamu masih saja meragu, itu tandanya kamu meragukan-Nya pula. Apa yang saat ini kamu temukan bisa jadi memang apa yang sedang kamu butuhkan, saat ini. Mengenai esok belum tentu, karena kebutuhanmu tentunya akan terus berganti setiap harinya. Seperti halnya ketika kamu membutuhkan satu atau dua barang untuk memperbaiki barangmu yang rusak di hari ini. Hari ini mungkin kamu membutuhkannya, esok bisa jadi barang itu hanya menjadi sesuatu yang kamu inginkan untuk kamu miliki bila sekiranya sewaktu-waktu kembali dibutuhkan.
Ya, aku setuju dengan pendapatmu bahwa kebutuhanku akan terus berganti setiap hari. Yang kupikirkan sekarang adalah bagaimana jika kebutuhanku sekarang memaksaku untuk menyingkirkan apa-apa yang telah kumiliki. Apakah itu boleh?
Perkara boleh atau tidak itu sepenuhnya kuasamu. Kamu yang berhak menentukannya. Tapi biar kuberikan sedikit pandanganku. Begini, bila kebutuhanmu tersebut memaksamu untuk menyingkirkan hal-hal yang telah kamu miliki, bukankah itu berarti apa yang kamu miliki tersebut memang sudah sewajarnya untuk kamu lepaskan? Maaf, nampaknya aku sedikit melupa, di dunia ini tak ada yang benar-benar kita miliki, Tuan
Ah iya, lagi-lagi aku setuju dengan pendapatmu, Nona. Bahwa tidak ada yang benar-benar kita miliki. Aku ingin sekali melepaskannya, namun keadaan belum mengizinkanku. Sementara, aku ingin segera mendekap apa yang kubutuhkan atau yang kukira kubutuhkan. Sementara aku tak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Itulah sebabnya aku hanya bisa menunggu izinNya
Tak usah terburu-buru ingin segera melepaskan. Bisa jadi ada yang bisa kamu jadikan pelajaran dari apa yang akan kamu lepaskan itu. Apa yang kamu butuhkan akan bisa kamu dekap pada waktu yang tepat, jika sekarang belum bisa itu tandanya hal tersebut belum sedibutuhkan itu di hidupmu, mungkin esok akan segera dibutuhkan. Selagi menanti, coba lihat sekitarmu, barangkali kamu sedang menjadi hal yang dibutuhkan oleh seseorang :)
Ingin aku mempercayai kalimat terakhirmu. Namun kenyataan berkata lain. Apa yang kumiliki, sepertinya tidak pernah membutuhkanku. Ah, entahlah... Aku hanya tidak ingin mendikteNya lagi. Tapi aku pun ingin memenuhi harap ku. Ah, lagi-lagi aku terjebak diantara butuh dan ingin...
Sepertinya, semesta berteriak padaku "kamu tidak akan pernah mendekap apa yang kamu butuhkan. Kamu tidak akan bisa meraih impianmu. Inilah hukuman karena telah berani mendikteNya."
Tapi kini aku sadar, apapun yang kubutuhkan, Tuhan pasti akan memberikannya padaku. Kita hanya perlu berbaik sangka padaNya kan? Ah, sepertinya bukan kamu yang mengambil waktuku Nona. Tapi aku yang mencuri waktu dan pikirmu. Terimakasih untuk waktumu Nona..
Terima kasih untuk waktumu juga, Tuan. Semoga kamu bisa membedakan mana keinginan dan mana kebutuhanmu. Percakapan ini mungkin hanya sebuah keinginan, tapi siapa sangka kalau percakapan ini memang kita butuhkan untuk lebih memaknai hidup.
Sebuah tulisan hasil timpal-menimpal (?) dengan mas @roushonism. Semoga ada pelajaran yang bisa dipetik, setidaknya agar tulisan ini bermanfaat! Btw, mas @roushonism engga curhat toh? *eh hahaha















