Sumpah saya lagi kesel deh kalau baca artikel soal cewek ‘crazy’.
Ya, saya ga tahu deh apa istilah ini ada di Indonesia atau engga. Tapi entah kenapa saya menatap spektrum perempuan di Indonesia jauh lebih kaku daripada di luar negri. Entahlah, cewek Indonesia ini antara terbagi antara cewek hijab dan non-hijab (kata saya lho). Jadi lebih kaku aja pembagiannya... seolah cewek hijab itu kalem, cewek non-hijab itu gaul. Eh kalau saya salah, ya boleh disalahin lho.
Tapi serius, kalau untuk urusan ‘cewek crazy’ itu entah kenapa asa ga ditemui di narasi cewek Indonesia kebanyakan.
Sekali lagi, silakan salahin saya kalau salah.
Ya entah juga sih yah, saya juga ga terlalu merhatiin cewek Indonesia itu distigmakan gimana. Selain hijab non-hijab, mungkin ada stigma cewek ayu dan ga ayu. Atau cewek independen sama cewek domestik. Atau cewek gaul dan cewek rumahan. Atau cewek... ya saya sebagai cewek kok malah ngotak-ngotakin sesama cewek lagi sih? Ya ini ketiga kalinya saya bilang, kalau saya salah, silakan disalahin =))
But seriously, spektrum cewek crazy ini ada di mana?
Oke, karena narasi ‘crazy girl’ ini saya dapetin dari film-film Amrik. Rata-rata ditunjukan ke sikap cewek yang nuntut, demanding, terus posesif dan jealous ga beralasan, nagging, and tingkah lakunya super ga logis. Alias ini beneran satu spektrum terendah cewek dari sudut pandang cowok. Kamu boleh pacaran ma slut, tapi as long as she’s not crazy, go on with it. Ya kan? Iya, ini sebagai pemerhati pop-culture Amrik, saya merasanya seperti itu.
See? Saya ga tahu di spektrum mana crazy-girl ini ditempatkan pada stigma cewek Indonesia. Karena mungkin cewek crazy ala Indonesia ini punya kroni-kroni yang mendukung si crazy-girl ini sehingga yang jadi disalahin, “Ya si cowok lo itu aja yang brengsek.” Tapi ya, sebab akibat sih. Kadang kenapa cowok jadi dingin, rata-rata ga tahan ma tingkah ceweknya terlalu ‘crazily absurd’. Atau cewek jadi crazy, karena ga tahan sama tingkah cowoknya terlalu dingin. Atau ya sebenernya cewek Indonesia jauh lebih behave sehingga spesimen ‘cewek crazy’ ini jarang ditemukan di sekitar kita. Atau gimana? Saya juga ga tahu. Lol.
Terus kenapa saya nulis soal ini yah?
Jadi saya sadar mungkin saya ada di spektrum ‘cewek crazy’.
Makanya saya bilang di awal paragraf kenapa saya sebel sama narasi soal ‘cewek crazy’ karena saya ngerasa, “Lu kagak perlu nyindir gue WOI sini ngomong langsung ke gue!” And seriously, I see a lot of crazy women around me, termasuk saya.
Kenapa yah? Iya, saya juga bingung kenapa kok mau-maunya ditempatkan di spektrum ini. Cuman saya sadar diri aja sih kalau saya bisa obsesi terus gila terus demanding sampai posesif parah, tapi di belakang sok-sok cool. Tapi ya kadang cewek suka kadang ga terkontrol, tahu-tahu meledak sana-sini, yang mana akhirnya citra saya sebagai cewek berhijab kalem membuat orang-orang tertegun karena di dalam sanubari terdalam ini tersimpan ‘ke-crazy-an’ yang bikin orang ga paham, “Ga nyangka yah.” Tapi ya kalau dibilang saya salah, ya udah sih, salah. Tapi di satu sisi, ya karena lagi-lagi stigma cewek Indonesia ‘ga sekaya’ di luar, jadi spesimen kayak saya ini terasa baru padahal ya... sebenernya banyak aja tapi ketutupan.
Tapi ya gitu... karena sadar diri, saya juga tahu ke mana saya mengarahkan diri saya. Jelas tidak ke dalam jurang ke-crazy-an si cewek-cewek crazy ini. Maunya minimal kayak mama yang bisa ngurus cockpit, terus ga baper kalau punya pasangan yang cuek, keep being cool and tetep keep being emak-emak yang mengayomi anaknya. Alias being cool woman/religious/smart/tidak baperan.
Maka setiap kali saya baca narasi soal ‘crazy woman’ ini, saya berdoa, berdoa banget di dalam hati yang terdalam...
...kalau pun kalian, wahai crazy women, merasa berada pada stigma terendah yang dipandang oleh cowok, keep moving, keep your heads up, value lo tidak dipengaruhi oleh pandangan cowok. You can change, or you can pour your craziness into something useful. You can keep being nurtured woman and you’re still beautiful. Still lah, embrace your weakness, darling, nanti kamu tahu di mana letak-letak weakness itu harus diletakan, dan di mana weakness itu harus diperbaiki.
Keep being you dulu, love yourself, Insya Allah others will follow. Kalau engga, ada kok sebenernya, but you’re too crazy to realize that a lot of people love you. Ya kali yah.