Tuhan di Mata Manusia
Pada akhirnya, manusia jadi hakim Mengukur takwa dengan kerling dan bisik Seolah shalat mesti diumumkan dan sedekah harus disiarkan
Padahal yang tak rukuk di hadapan kita Bisa jadi bersujud di sunyi malamnya dan yang tak berbagi di tengah pesta Telah lama menyisihkan rezeki tanpa cerita
Bukankah orang yang diam bukan berarti bisu? Ia hanya menimbang kata agar tak jadi debu Begitu pula yang menyimpan ibadahnya Karena tak ingin niatnya terkikis pujian fana
Tapi kita terlalu cepat mengukur iman Dari poster doa dan stiker pengajian Padahal tak semua yang riuh itu khusyuk dan tak semua yang sunyi itu lalai atau rusak
Biarlah manusia menilai sesuka Selama Tuhan tahu isi dada Karena yang benar tak selalu ramai dan yang suci tak selalu terlihat anggun di permukaan damai
Jika harus dijawab dengan senyum dan gurauan Maka itulah cara meredakan tekanan Tak perlu marah pada penilaian semu Karena hidup ini bukan panggung tuk disanjung, melainkan ladang tuk berlalu.. dan bersatu















