Yang Terkenang
Masa-masa indah menyenangkan itu telah berlalu, dimana kebebasan terpatri, ialah sebuah momen yang selalu ditunggu-tunggu hadirnya kala itu.
Aku ingin menumpahkan rinduku pada semua nenek dan kakekku.
Sebagai keluarga yang sedikit jauh jarak rumahnya dengan sanak saudara manapun, maka aku dan adikku akan selalu menanti kapan akan berkunjung ke rumah nenek kakek baik dari ibu maupun dari ayah. Kampung Ayah : Ayahku anak terakhir dari 7 bersaudara, nenekku dan kakekku tinggal di rumah yang merupakan rumah masa kecil ayahku dan kami menyebutnya kampung. Saat kami masih kecil, aku dan adikku akan selalu senang ketika pergi berlibur ke kampung, "yeay ke kampung" sorak kami, nenek yang sudah sangat tua saat itu selalu menunggu kedatangan cucunya yang paling jauh, karena sepupu²ku yang lain tinggal disekitar rumah nenek kakek, hanya kami yang rumahnya terpencar sendiri.
Nenek kampung adalah sosok yang paling memanjakan kami, di kampung nenek adalah guru ngaji, kalau aku menginap aku akan ikut mengaji dengan nenek. Lambat laun masuk SD aku dan adikku cukup berprestasi di bidang lomba quran, dan aku tau nenek sangat bangga pada cucunya, ingin sekali rasanya melihat dan mendengar cucunya tampil di kampung. Namun, waktu tak berkehendak, aku belum mumpuni sebagai qori saat masih kelas 6 SD sehingga belum berani memenuhi undangan baca maulid dan sebagainya, dan saat itu nenek di panggil oleh Allah, rasanya sedih dan haru, apalagi melihat tangisan semua orang kala itu.
Di hari duka itu, ayah menyuruhku untuk membaca yasin dan ikut bagian khataman, dan mungkin disitulah momen pertama kalinya nenek mendengar suara kedua cucunya saat melantunkan alquran dan diketahui banyak orang bahwa yang mengaji adalah cucunya, tak terasa semua air mata uwak uwakku menetes sambil bilang "nenek pasti seneng ini udah denger cucunya baca merdu dan dikenal". Momen itu yang membuat semakin sakit, karena kesempatannya tidak terlalui saat masih ada. Dan dari situlah orang tau bacaan ku dan mulai di undang untuk mengisi di kampung, dan uwakku akan selalu menangis melihat aku membaca sebagai qori di acara maulid kampung karena teringat nenek.
Rumah kecil mamak : Kali ini nenek kakek dari mamak. Kalau di ayah kami menyebutnya "kampung", kalau di mamak kami menyebutnya "Rumah Uwo Medan" karena memang rumah nenek di Medan. Kami memanggil uwo karena mamakku orang minang. Kalau bisa dibilang, masa kecil kami lebih dekat dengan keluarga uwo, rasanya setiap minggu kami ke rumah uwo, saat libur semester sekolah menginap berhari-hari di rumah uwo, saat pergi liburan banyak dengan keluarga uwo. Ibuku anak pertama dari 5 bersaudara, dan kami sangat dekat dengan bibi dan paman kami.
Kenangan di rumah uwo begitu banyak, dulu ketika TK sampai SD, aku akan selalu meminta menginap di rumah uwo, karena bertemu dengan sepupu laki-laki ku satu satunya kala itu, kami akan menghabiskan waktu bersama bermain sepeda, bermain rumah-rumahan, cerita dengan paman, dikerjai paman, bereksplor banyak sekali, dan uwo dirumah sebagai penjual jajanan, jadi kami akan selalu betah karena tinggal catat jajan dan saat mau pulang mamak akan marah-marah karena banyak kali yang diambil 😂, apalagi kalau adik mamakku alias kami panggil ibu yang suka mengajak kami jalan-jalan, contohnya ke Yuki haha, sudah pasti jaman itu Yuki adalah kesukaan anak-anak. Rasa-rasanya masa kanak² adalah masa yang sangat menyenangkan kala itu.
Kemana kakek-kakekku ? Saat kecil kakek dari ayah dan ibuku masih ada namun tidak ada momen yang dekat yang bisa diingat, kini keduanya telah berpulang, semoga Allah mengampuni segala dosa kesalahan nenek kampung, kakek kampung, dan ayah uwo (kakek medan). Alfatihah.
Tersisa uwo, semoga uwo sehat selalu dan makin bahagia, aamiin
Semuanya menjadi kenangan manis, menghiasi masa kecil menjadi indah, dengan mereka yang akan selalu terkenang🖤
📷pict by pinterest
~Faa










