jawabku saat kamu bertanya pendapat tentang sepetak kontrakan yg hanya berukuran 2x3 itu. Tak ada lahan untuk dapur. Hanya cukup untuk kasur kecil dan wc saja.
Tapi benar-benar, saat itu tak sedikitpun aku ingin menuntut lebih. Mungkin sudah terbiasa tinggal di kosan, hehe. Atau karena, asalkan denganmu, aku mau.
Keesokan harinya kita langsung pindahan. Berawal dari memberi kabar mertuamu kalau kita akan pindahan pada hari itu juga, mengangkut barang-barang (yang asalnya) berada di kosanku, dan mengangkut barang-barang di kamarmu. Ya, modal pertama kita adalah gabungan barang-barang kosanku dan barang-barang kamarmu. Hanya itu.
Masih teringat jelas, bagaimana perjuangan kita tidur beralaskan kasur yang hanya cukup untuk satu orang. Tak jarang di pertengahan malam aku terbangun karena terguling ke bawah atau karena rambutku terjepit oleh tanganmu, haha. Atau keesokan harinya, giliran kamu. Oh ya, sampai pernah satu malam sebelah lenganku keram karena terhimpit badan sendiri. Aku membangunkanmu, dan kamu sigap memijat tanganku sampai sembuh.
Masih teringat jelas, bagaimana bingungnya aku saat hendak menyimpan barang, karena hampir tak ada lagi lahannya.
Alih-alih menggerutu meminta ditempatkan yg lebih layak, aku lebih memilih mengalamkan do’a di depanmu.
Aku salut, untuk aku yg lemah dan suka mengeluh ini, kamu menjadi qawwam yg tangguh dan tak pernah sedikitpun mengeluh.
Dan, sayang, aku salut, kini kamu bisa menempatkanku di tempat berteduh yang lebih nyaman. Bisa menerima tamu sesuai pintaku dulu pada-Nya “semoga segera diberikan tempat yg ada ruang tamunya”, hehe.
Maksudnya, kita sudah sampai sini. Perjuangan kita.
Karena untuk umur rumah tangga yg baru satu tahun ini, tentu masih belum ada apa-apanya dibanding kisah para orangtua kita.
“Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa qurrata a’yun waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa.”