Rumput Tetangga
Belajar bersyukur dengan apa-apa yang engkau punyai saat ini. Ketika engkau melihat seseorang memiliki apa-apa yang engkau dambai, janganlah ber-iri-hati. Engkau belum tahu, kan, seberapa besar perjuangannya jatuh dan kemudian bangkit kembali untuk mencapai apa yang ia raih kini. Engkau tak tahu, kan, seberapa banyak air mata yang ia habiskan dalam munajatnya kepada Sang Maha Pemberi.
Belajar bersyukur dengan apa-apa yang engkau punyai saat ini. Tetapi jangan lalu patah hati untuk meraih mimpi. Karena Sang Maha Pemberi sedang melihat seberapa pantas doa-doa mu Ia ijabahi dari ikhtiar-ikhtiarmu di sepanjang hari.
Kini aku menyadari, justru ketika aku banyak berharap, banyak pula yang harus aku relakan untuk kulepas karena tak tercapai. Berusaha ridha dengan hasilnya dan dengan segala kondisinya. Tetapi ketika aku berusaha berpasrah pada suatu kondisi dengan apa yg sebelumnya telah kuusahakan dan kuperjuangkan dengan sebaiknya, justru Allah memberikan yang lebih baik dari yg kuekspektasikan. Sungguh, hal itu membuatku lagi-lagi jauh lebih bersyukur.
Sudahkah kau benar-benar bersyukur dengan segala apa yang kau dapat hari ini? Atau hanya ucap keluh saja yang keluar dari bibirmu? Atau bahkan hati yang selalu kecut menahan segala emosi karena tak dapat ridha dengan kondisi?
Kita mungkin sering memandang rumput tetangga yang terlihat lebih hijau dan subur. Tetapi, daripada sibuk memandangi rumput tetangga, lebih baik kita sibuk menggarap ladang sendiri, dan itu merupakan sebentuk syukur atas apa-apa yang telah Allah berikan kepada kita. Dan dengannya semoga menjadi jalan keberkahan yang melimpah-limpah.
















