Cak Dlahom dan Senja yang Tak Pernah Berakhir 1000 Tahun
Syukurlah salamku dijawab oleh Cak Dlahom. Dan aku disuruh masuk. Aku mau bertanya mengapa senja ini berlangsung lebih lama dari biasanya.
“Cak, kenalkan saya salah seorang yang sering mendengar ceritamu.”
Cak Dlahom diam saja. Dia duduk di sebuah padepokan. Matanya tenang melihat langit berwarna oranye. Dia bersila.
“Aku mau bertanya Cak. Aku dari pulau seberang. Katanya Cak Dlahom tahu apa penyebab senja tak berakhir juga. Kami kira kiamat, ini hari jumat Cak. Senja begitu lama di tempat kami,”
Cak Dlahom masih membatu. Hanya salamku di awal yang di jawabnya.
Cak Dlahom. Kami butuh petuahmu. Kami membaca cerita-ceritamu. Kau bilang kami harus ikhlas. Tapi bagaimana kami harus ikhlas dalam kebingungan.
“Dunia kita cuma sampai di sini,” jawabnya.
Selama satu jam dia diam. Aku terpaksa diam. Ikut-ikut dia melihat langit yang berwarna oranye terus menerus. Tibia-tiba dia mengoceh.
Cak Dlahom mengoceh. Dia bicara padaku:
Kau, aku dan semua di dunia ini harus kuat. Tanpa cerita-ceritaku kalian harus tetap istikamah. Kalian tahu, bagaimana sahabat-sahabat rasulullah dulu bersedu-sedan kehilangan junjungan mereka? Kau tahu? Mereka tiba-tiba merasa tak ada tempat bertanya. Tapi Rasul mengatakan kita tidak boleh meratap. Yang diinginkannya kita tetap berpikir dengan akal yang sudah diberikan
Dia meludah sekali. Suaranya mendadak serak.
Begitu banyak masjid-masjid yang didirikan, tapi kita semakin tak peduli dengan tetangga. Kita sering meributkan secara serius hal-hal yang sebenarnya remeh. Itu sebenarnya sudah diperingatkan ribuan tahun lalu. WAktu Rasul masih ada. Kita harus tetap berjalan.
Senja ini akan terus menerus begini. Sebab dunia kita akan berakhir. Tapi siapa yang tahu. Hari ini memang hari jumat. Semua berhenti Jumat pagi. Tapi ternyata jam terus berjalan hingga senja. Kau kira aku tahu jawabannya.
Aku juga mencoba bertanya, mengapa semuanya berhenti sampai disini. Semua celotehku yang kata orang bermanfaat dan membuat orang terdiam, itu bukan hal yang luar biasa sebenarnya. Hanya kita saja yang belum mematikan nafsu kita. Nafsu-nafsu kita. Nafsu serakah manusia.
“Cak, kejahatan muncul dengan satu nilai yang mudah dicerna. Tapi kebaikan selalu butuh cara baru untuk disampaikan,” kataku memancing.
Kau kira setelah Rasul wafat, Jibril tak lagi ada tugas? Kau kira darimana hidayah-hidayah ini. Aku tak mengenalmu, mengapa kau tiba-tiba kesini?
“Tempat kami terlalu banyak tangisan Cak. Mereka tak tahu harus bagaimana,”
“Kau seharusnya tahu, jika berpikir,”
Cak Dlahom kemudian diam memandang senja. Senja yang tak berubah-ubah. Dunia kita cuma sampai disni, dan terus begini. Senja indah yang tak ingin berakhir.
Aku tak tahu harus bagaimana. Aku diam dan menunduk. Tak sadar ikut memandangi senja dengan mata yang tiba-tiba terasa pedas. Hati yang merasa kehilangan, tapi tak tahu apa yang hilang.
Senja yang dipandangi Cak Dlahom tak pernah bergeser ke malam hingga ribuan tahun selanjutnya. Begitu pula Cak Dlahom yang tetap duduk disitu selama ribuan tahun selanjutnya.
“Ilmu tak akan hari menjadi gelap, ini hari baik,” gumamnya.