Penghakiman Restu
Mengapa kamu seperti mereka, menilai manusia hanya dari apa yang terlihat?
Wajah yang rupawan, rumah yang megah, harta yang melimpah. Padahal sedari dulu kita diajari bahwa sekadar rupa dan harta tidak ada nilainya; bahwa yang sejatinya dinilai adalah isi; bukan sekadar kulit belaka, lebih-lebih jika kulit itu pemberian Allah yang kita tak berkuasa apa-apa atasnya.
Mengapa kamu masih memilih kaya padahal yang miskin sebenarnya lebih banyak berkah di sana? Ataukah ilmumu belum mengantar pemahamanmu sampai pada berkah itu karena tertutup harta?
Apa kamu malu jika kamu lahir di keluarga yang kurang mampu? Apakah kamu malu jika saudaramu yang melarat duduk bersama kerabat-kerabatmu yang konglomerat? Lalu, renungkan pertanyaan-pertanyaan ini, adakah yang salah dari kulit gelap? Berdosakah jika tubuh seseorang tidak tinggi? Nistakah jika mata, bibir, dan hidung tak memenuhi standar ambisimu itu?
Tidak.
Aku percaya hatimu pun menjawab tidak. Tapi nyatanya egomu yang berani bersuara.
Kurasa kita perlu melepas standar keliru yang telah terpasang. Menempatkan objektivitas bebas dari segala bentuk hawa nafsu. Jujurlah pada diri sendiri. Pada beberapa peristiwa yang telah datang di sekitamu, aliran-aliran nasihat begitu lancar kau akui kebenarannya. Kau begitu tegas mengatakan “benar”. Namun aliran-aliran itu tiba-tiba tersendat, nasihat yang sama itu menjadi lambat mengalir ketika yang dituju adalah hatimu sendiri. Setelah itu, egomu pun mulai membela. Mulai meminta toleransi-toleransi istimewa. Bahwa apa yang kau alami adalah berbeda, tak mudah seperti yang lainnya.
Jujurlah pada kebutuhan batinmu sendiri. Bukan gengsi.
Tak perlu berlelah-lelah mengikuti standar kepuasan orang lain. Jika cukup dengan yang sudah ada, untuk apa mengada-ada hanya untuk dianggap berada?
Memangnya orang miskin tidak bisa mendapatkan kemuliaan surga? Memangnya surga untuk orang yang cantik saja?
Buat apa kaya kalau keras hatinya? Berarti apa cantik kalau perilakunya lebih banyak menyesakkan dada?
Lalu mengapa menolak dia yang lahir di keluarga miskin padahal kau tahu hatinya begitu sempurna?
Sebenarnya inti dari semua ini adalah keyakinan, ya, imanmu itu.
Heh! Kau ini terlalu banyak bicara. Memangnya orang tuamu akan dengan mudahnya memberikan restu menikahkanmu dengan yang kekurangan harta dan rupa?
________
Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian. (HR. Muslim no. 2564)
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. (QS. Al Hujurat ayat 13)
Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua” (at-Tirmidzi : 1899)
Dan jika keduanya (orang tua) memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mentaati keduanya! (QS. Luqman ayat 15)













