Source
#phm#ryland grace#rocky the eridian#project hail mary spoilers


seen from United States

seen from United States

seen from Poland
seen from China

seen from South Africa
seen from United States

seen from Puerto Rico
seen from Yemen
seen from Brazil

seen from Puerto Rico
seen from Netherlands

seen from Australia

seen from Argentina

seen from Philippines
seen from Yemen

seen from Malaysia
seen from Netherlands

seen from Singapore

seen from Russia
seen from China
Source
diaLOG Translation Announcement
I am translating the novella diaLOG (会話記録) by r-906.
In celebration of DID awareness day, I am posting the prologue and the first chapter. Please follow my blog for updates on new chapters!
And if you have 500 JPY to spare, please consider supporting r-906's official release here.
Read on Reiou
Yuko: this rain is depressing
Finn: atleast its not taxes thats worse than rain.
Jake: atleast the pokemon are liking it
Quagsire: Quag quag !
So, i've heard/read a few theories on Jason Todds father, and I gotta say, the idea of Joker being Jasons dad is hysterical
Also, this is just an excuse for me to write stupid dialog between the three of 'em (and Alfred & Dick somewhere)
--
Jason: Dad!
Joker: Yes?
Bruce: ?!
Jason: ...
Joker: ...
UMAD World Race got to P3 Kefka, and I got asked what the transition Cutscene said since Poikos [JP] got there first.
I'm enjoying watching the race. :3 Thought I'd share these here too since I tend to post things here when I do a translation by request. lol
Spoilers for Dancing Mad (Ultimate) / UMAD below.
Rudolf Bonvie
Dialog, 1973
Dialog yang Terlambat;
"Kalau sudah tahu tak sejalan, buat apa dipertahankan? Kalau sudah tahu tak sepemikiran, buat apa menjadi bahan pertimbangan? Kalau sudah tahu tak ada restu, buat apa diteruskan kalau keberkahan itu hilang?"
Dahulu, kata-kataku itu adalah angin yang kau biarkan lewat tanpa sempat menyentuh logika.
Aku berdiri di hadapanmu, merapal mantra tentang "..jalan yang tak seiring, pikiran yang tak seirama, dan restu yang enggan bertamu.." Namun bagimu, saat itu aku hanyalah suara bising di tengah ambisimu yang sedang menyala-nyala.
Malam tadi, kau datang kembali. Bukan dengan kemenangan yang dulu kau agung-agungkan, melainkan dengan raut wajah yang luruh, seperti bangunan tua yang dipaksa tegak tanpa fondasi keberkahan.
"Aku bertahan karena yakin," katamu pelan.
Padahal, keyakinan tanpa restu hanyalah bentuk lain dari keras kepala yang sedang menyamar.
Kini, cerita tentang keteguhanmu berbuah empedu. Tentang pahitnya hari-hari yang kau jalani bersamanya, tanpa perlindungan doa, persis seperti apa yang aku takutkan tiga tahun silam. Ternyata, memaksakan sesuatu yang tak sejalan hanya akan membuat kita sampai pada tujuan yang salah, dengan jiwa yang penuh luka menganga.
Ada rasa sesak yang aneh saat melihatmu sekarang. Ingin rasanya aku berkata, "Sudah kukatakan," namun lidahku kelu. Melihatmu hancur oleh keputusanmu sendiri adalah cara semesta menunjukkan bahwa keberkahan yang hilang tidak pernah bisa digantikan oleh usaha sekeras apa pun.
Kau telah sampai pada titik di mana ingatanmu tentang ucapanku di tahun 2022 bukan lagi sekadar kalimat, melainkan sebuah kebenaran yang datang terlambat.
Kini, aku hanya bisa bilang : "Hidupmu tidak berakhir saat kau menyadari kesalahanmu. Hidupmu baru saja dimulai kembali dengan mata yang jauh lebih terbuka, tapi bukan bersamaku.."
~ buat seseorang yg tadi malam datang