Entah kenapa, justru puisi ini yang teringat ketika menonton Musikalisasi Puisi dari Sacitaka semalam. Puisi berjudul Dalam Do'aku, karya Sapardi Djoko Damono ini, begitu membuat takjub, tentunya dengan kemasan musik dari Sacitaka. Ada sepenggal bait yang aku suka: Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya.. Mengibaratkan dia (kamu) seperti jantung, bukanlah hal yang dilebih-lebihkan. Kata memiliki semestanya sendiri. Buktinya, entah kenapa, aku selalu berdebar karenamu. Semacam kalut ketika jauh, sekaligus berantakan. Mereka, dalam penampilannya juga mengakatan, bahwa sedang terjadi prahara kemanusiaan yang dimulai dari cinta. Ah, siapa yang berani-berani mengatas namakan cinta untuk ini? menyebalkan. Bukankah cinta itu tentang kasih? kasih juga mengenai sayang. Ya, saat ini, memang sedang terjadi prahara karena fanatisme. Semacam cinta berlebih. Cinta yang over dosis. Kasihan. Karena aku masih suka ngopi, aku lebih memilihnya sambil menikmati puisi dan teman-temannya. Meskipun mereka yang diluar teriak atas nama cinta. Cinta agama, cinta suku, cinta ras, cinta yang marah, bukan cinta yang ramah. Ah, nampaknya, kita memang berbhineka, namun belum tunggal ika. "Aku mencintaimu. Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu," Dalam Do'aku (Sapardi Djoko Damono) #Sacitaka #Musikalisasi #Puisi #Poem #Art #Poetry #Gresik #Cager #Seni #seniGresik (di Gresik)













