Terlalu lekat melihat membuat kita tak bisa mengeja--nama baiknya
Di pagi yang tak lagi buta aku terpana. Melihat ruangan yang semula penuh pepak dengan barang-barang begitu lengang. Bersih, rapi dan nyaman sekali.
Aku mengambil gelas di rak kemudian mengaduk kopi sachet yang bercampur air panas. Tadi pagi, aku tidak membuatkan minum untuknya. Seingatku aku justru menarik kembali selimutku saat ia berangkat kerja. Obrolan yang tak berkesimpulan di malam hari membuatku enggan menyambutnya di pagi buta.
Kursi panjang yang biasanya penuh dengan mainan kini bisa kududuki dengan nyaman. Aku menyesap kopi hitam yang menjadi favorit kami setiap pagi. Mataku dengan leluasa mengamati setiap inchi ruangan kontrakan kami.
Penanda waktu yang tertempel di dinding sudah benar letaknnya. Meja yang semalam berserakan sisa makanan sudah bersih. Bahkan kelender dari tahun-tahun sebelumnya,tak lagi tertempel pada dinding kusam itu. Karung beras yang terletak di bawah meja makan sekaligus meja tv sudah tidak ada lagi.
Aku beranjak. Meletakkan gelas kemudian membuka pintu ruang kamar ke dua. Yang lebih mirip gudang bagiku. Suara pintu berderit. Bola mataku menangkap jelas kamar berukuran 3x 3 meter ini. Tak ada lagi buku- buku berserakan juga barang-barang yang lama tidak digunakan. Kamar ini kembali di sulapnya agar layak huni. Sepertinya, semalam ia membereskan kamar. Setelah ajakannya tak ku penuhi. Ia menyalurkan energinya yang menggelora.
Aku membuka ember cat besar yang kini terisi penuh dengan beras. Jemariku memainkannya. Bersamaan dengan bau beras yang khas, sesal menerabas dinding pertahananku. Keangkuhan juga kesombonganku untuk lebih dulu menyudahi kesalahpahaman. Aku enggan meminta maaf dan aku merutuki kebodohanku itu. Kembali aku mengingat sebuah pesan di akun media sosialku yang di kirim kawan lama. Ia menanggapi cerita yang sengaja kubiarkan mengudara.
"Ego pemimpin itu sensitif sama penolakan. Soal kepedulian suamimu yg lebih tinggi ke orang lain, mungkin karena kamunya ngeyelan. Karena sudah terlalu sering jadinya suami males ribut."
Aku kembali memikirkannya. yang disampaikan kawanku benar adanya. Penolakan demi penolakan kerap kutunjukan. Kadang aku membantah perkataannya. Ngeyel jika diberi tahu mana yang lebih baik. Seperti hari ini secara tersirat aku menolaknya mengantar kepergiannya. Aku yang biasa melambaikan tangan justru asik tertidur di kamar. Sesal yang muncul semakin bergumul.
Aku menutup ember beras, beralih ke dapur mini kontrakan kami. Setumpuk pakaian yang hendak tergiling dalam mesin sudah berpindah tempat. Separuh berada di ember kecil dan separuhnya lagi di dalam mesin pengering. Kembali aku merenungkan sikap burukku. Ya Tuhan...maafkan hambamu. Aku menurunkan bahuku kemudian segera melakukan tugas pertamaku. Sebelum malaikat kecil yang masih terbuai mimpi indahnya membuka mata.
Satu per satu pakaian tergantung di jemuran besi. Aku meraih baju lurik hitam putih. Seragam sekolah yang dipakai saat rapat koordinasi. Aku membaliknya lalu menggantungnya. Anganku mengembara pada pertemuan waktu itu.
************
Pembekalan Program Pembelajaran Teaching Factory dengan Narasumber Kasi SMK provinsi Jawa Tengah.
Pak Pri melangkahkan kaki, menghampiri pak Sukirman yang berada di barisan depan. Beliau mengambil kardus snack milik pak Sukirman kemudian meletakkannya. Tepat di depan mata pak Sukirman.
"Pak...coba baca tulisannya pak," suara pak Pri lewat pengeras suara terdengar hingga belakang. Peserta yang sedari tadi memerhatikan bertanya-tanya.
"Ndak bisa pak...Ndak keliatan ini," diikuti gelak tawa peserta rapat koordinasi, termasuk aku.
"Coba...sekarang baca pak!", Pak Pri menjauhkan kardus snack dari mata pak Sukirman.
"Rista Boga Pak" pak Sukirman menjawab mantap.
"Apa pak?"
"Rista Boga!"
"Kok kalau tak deketkan gini nggak bisa baca ya pak? Kenapa?" Pak Pri kembali menutup mata pak Sukirman.
"Ya terlalu dekat Pak," salah satu peserta yang berada di belakang menimpali.
"Nah...sama kayak sampean sampean itu. Saking deketnya..saking kenalnya sama istri sampean atau suami sampean kalau pas ada keliru sedikit saja sampean langsung...Hwaaaaaaa...kenceng-kenceng di telinga mereka." Pak Pri menjauhkan pengeras suaranya. Menunggu respon audiens.
"Terus seringnya baiknya anak, siswa kita, orangtua, atau pasangan nggak pernah itu di lihat sama sampean-sampean pada." Pak Pri mengedarkan pandangan. Melihat audiens yang ber oh ria sepakat dengan ucapannya.
Benar sekali apa yang beliau sampaikan.
Seringkali kita mengabaikan setiap kebaikan yang dilakukan orang terdekat kita. Alasan lamanya kebersamaan membuat segalanya terasa biasa. Kadang kita juga begitu mudah menyuarakan kesalahan kesalahan kecil yang dibuat mereka. Kita, tidak mampu mengeja--nama baik orang-orang di sekitar kita karena terlalu dekat memandangnya. Seperti membaca kisah dalam buku cerita. Jika lembar demi lembar aksara yang tersusun di sana tepat berada pada mata kita, jelas kita tidak bisa melihatnya.
******
Aku berdiri tegak di lantai dapur mini kontrakan kami. Menyalakan kompor. Berusaha menebus dosa dengan memasak menu favoritnya.
@safiralutfianisblog
Borobudur, 12 Juli 2019
#diselesaikan dengan ngumpet-ngumpet. Sebisa mungkin tidak terlihat Haifa yang mulai tertarik kembali dengan gadget ibunya.#
Selamat membaca rekan-rekan setia Tumblr.







