Marrying #You
Bismillah.
Dua minggu yang lalu, saya melangsungkan sebuah pernikahan yang begitu saya nantikan. Saya mengikat janji suci sehidup-semati, dengan seseorang yang dengannya, somehow saya yakin bahwa saya bisa melangkah lebih jauh.
Sebenarnya Ia bukanlah orang asing, bukan seperti ala pernikahan metode ta’aruf yang awalnya saling tidak mengenal kemudian dipertemukan dan berjodoh, namun bukan juga orang yang selama ini membersamai saya di kehidupan sehari-hari. Hingga bahkan banyak orang-orang (yang padahal selama ini memang membersamai saya) bilang bahwa jodoh saya ini tak tertebak. Bukan karena Ia orang tak dikenal, tapi ya, tidak terduga bahwa ternyata saling punya rasa dan saling berjodoh.
Sungguh, saya merasa Allah amat sangat sayang kepada saya. Berkenannya Allah yang menjodohkan saya dengan istri saya, adalah hal yang tidak akan habis saya syukuri setiap hari hingga akhir hayat. Sebagian mungkin berpikir: Ya jelas, namanya juga pengantin baru, pastilah bahagia dan penuh rasa syukur. Namun, menikahnya saya dan istri saya, sebenarnya jauh lebih berharga daripada sekedar berjodoh dengan seseorang. Karena Istri saya, adalah seseorang yang sudah saya nantikan semenjak 6 tahun yang lalu, yang hampir selama itu pula saya memendam rasa, dan hanya bisa saya lihat dari kejauhan.
Bayangkan, saya dan istri saya satu angkatan dan satu jurusan di kampus yang sama, dengan dua kali kepanitiaan dan organisasi yang sama. Berpapasan hampir setiap hari, tapi benar-benar tanpa saling bicara, tanpa saling bertatap muka. Hanya saling menyembunyikan rasa. Dari semester 2 kuliah, hampir setiap hari hingga saya benar-benar lulus kuliah.
Istri saya juga lah seseorang yang kerap saya sisipkan dengan simbol #you di tulisan-tulisan blog saya selama bertahun-tahun ke belakang. Bisa dibayangkan? selama bertahun-tahun saya memendam, dan hanya bisa menuangkan perasaan melalui tulisan, tanpa bisa melakukan apapun. Demi menjaga satu sama lain.
Saya menulis begini, bukan karena saya bangga karena saya akhirnya bisa menikah dengan seseorang yang didamba. Namun karena dengan akhirnya menikah, kegalauan menahun yang saya alami, godaan maksiat yang selama ini menghantui, virus-virus merah jambu yang mengalihkan perhatian dari Allah, kini bisa terobati dan benar-benar dilakukan hanya untuk Allah. Alhamdulillah, betapa Allah Maha Baik menyelamatkan saya dari maksiat yang lebih lama.
Memang, menikah ataupun belum menikah, godaan maksiat pasti akan selalu ada, hanya dalam bentuk yang berbeda. Karena pada dasarnya, hidup itu sendiri adalah ujian, baik ujian dalam suka maupun ujian dalam duka. Namun semoga, Allah berkenan menolong dan menguatkan kita semua, menggolongkan kita ke dalam orang-orang yang sabar dan bertakwa.
Mari berlayar, untuk menggapai cinta-Nya















