Jiwa Manusia & Sains Sekuler
Dalam pandangan Islam, unsur terpenting dari manusia adalah jiwanya. Karena itu, jika mendefinisikan manusia, maka definisi yang terpenting adalah definisi tentang jiwanya. Teori perkembangan fosil manusia hanyalah menyentuh aspek jasadiah, yang tidak substansial sebagai manusia. Suatu makhluk baru disebut manusia jika ia punya jiwa atau punya akal; tidak masalah apakah jalannya ngesot atau tegak; apakah mulutnya monyong atau tidak; apakah ia berekor atau tidak. Jiwa atau akal manusia itu tidak mengalami evolusi. Dan sumber informasi tentang jiwa dan ruh manusia hanyalah dari wahyu, karena ruh manusia merupakan entitas yang insensible. Karena sains sekuler menolak wahyu, maka sains itu pun akhirnya tidak mampu memahami manusia secara sempurna. (Husaini, 2015)










