Malam Minggu di Bulan April
MAHESTI HASANAH
Sabtu (18/4) sore ini aku keluar untuk bertemu dengan teman-temanku di Sakapatat, suatu tempat nongkrong di dekat Tugu Jogja. Akhirnya, aku melihat dunia setelah hampir lima minggu. Membeli buah dari tukang sayur di dekat perempatan besar, yang berjarak kurang dari 20 meter, adalah jajahan terjauhku selama lima minggu terakhir.
Keramaian adalah hal pertama yang aku lihat di jalan raya. Aku agak kaget melihat banyaknya kendaraan di sepanjang Jalan Palagan dan A.M. Sangaji di Jogja. Sepertinya tidak ada yang banyak berubah selama masa karantina ini. Tapi, aku tidak mau memberi label yang macam-macam karena aku sendiri juga masih keluar. Hahaha.
Ketika aku sampai di Sakapatat, empat orang temanku sudah duduk manis sambil memegang botol minuman dan beberapa snack. Aku memang agak terlambat karena temu kangen dulu dengan teman-teman kuliahku via internet.
Rindu bertemu manusia adalah alasan utama kami berkumpul. Sebenarnya, kami sudah beberapa kali mengagendakan untuk berkumpul di tempat ini. Tapi, tempat ini tutup pada awal-awal lockdown. Sakapatat menjadi tempat favorit kami untuk mengobrol. Selain karena suasananya yang nyaman, nasi goreng jawa dan belgian fries-nya juara!
Korona membuat pengelola harus memutar otak untuk mempertahankan tempat ini. Sakapatat hanya beroperasi dari pukul 4 sore hingga 9 malam. Tapi, pada akhir pekan, mereka buka sampai pukul 11 malam. Jam buku itu hanya sepertiga dari waktu beroperasi mereka pada masa normal. Selain membuat promo-promo menarik untuk take away, mereka juga membatasi jumlah tamu.
Kami datang sejak 4 sore. Dan selama empat jam awal, kami berlima adalah tamu tunggal mereka. Di satu sisi, aku senang karena pelayanan mereka menjadi cepat. Tapi, di sisi lain, aku juga prihatin. Pada waktu normal, tempat ini selalu ramai dikunjungi orang, termasuk para ekspatriat di Jogja. Hingga akhirnya pada pukul 8, ada dua orang laki-laki yang datang. Sedikit lega melihat ada orang lain di tempat ini. Dan tidak lama kemudian, dua orang laki-laki bule menyusul.
Pada pukul 9 malam, kami memutuskan untuk pulang. Aku sendiri sudah senang karena bisa menenggak beberapa botol minuman dan menghabiskan seporsi nasi goreng jawa yang lezat itu. Setibanya di kasir, aku membungkus beberapa botol minuman untuk persediaan di kos. Ketika menunggu di kasir, temanku bertanya, “Mbak, kenapa kemarin tutup? Padahal kami pengen ke sini.”
“Kami tidak pernah tutup, Mbak,” serobot Mas Doni, Manajer Sakapatat yang juga berada di meja kasir. “Heleh, kemarin pengumumannya tutup tiga bulan, pada sedih tahu,” timpal temanku yang lain.
“Oh iya, itu cuma di awal karantina doang. Sekarang kami buka terus. Cuma Senin saja libur,” jelas Mas Doni.
Setelah menyelesaikan strukku, mbak-mbak kasir pun ikutan menjawab, “Kalau mbaknya sedih, bagaimana dengan kami? Jauh lebih sedih, Mbak, nggak punya duit.” Aku senyum-senyum sendiri sembari mendengarkan obrolan dan menerima struk belanjaan pada saat yang bersamaan. Bukan karena isi obrolannya. Tapi, karena nama kasirnya. Di struk itu, tertulis nama kasirnya adalah Tatik. Itu nama kesayangan dari nenekku untukku. Hahaha. Ah, jadi rindu. Besok aku teleponlah (padahal awal minggu kemarin kami baru saja teleponan, hehehe).
Oke, kembali ke malam mingguku. Pembicaraan tentang kekhawatiran keuangan tidak hanya sekali dua kali aku dengar. Mas Tri, pemilik warung penyetan yang hanya berjarak 5 meter dari kosku pun mengalami hal yang sama. Padahal, dia merupakan warung penyetan yang cukup ramai. Satu-dua minggu pertama masih banyak orang yang datang. Tapi, pada awal minggu ini, dia mengeluh.
“Stok makananku masih banyak, terpaksa kumasukin kulkas ini. Semoga besok bisa lebih ramai,” ucapnya pada suatu sore ketika aku membeli lele goreng dan sambal bawang. Aku hanya bisa mendengarkan sembari melontarkan pertanyaan normatif. Aku tidak kuat jika menanyakan hal-hal yang lebih sensitif.
Selain itu, ketika pulang dari Sakapatat, aku menemukan Indomaret, yang biasanya selalu ramai, pun sudah tutup. Padahal, jam tanganku baru menunjukkan pukul 21.20. Pemerintah memang memberikan imbauan untuk tutup lebih awal. Tapi, aku jadi sedih sendiri membayangkan dampak ekonominya terhadap karyawan-karyawan itu.
Bahkan, beberapa teman kuliahku yang bekerja di organisasi nonpemerintah internasional di Thailand juga harus kembali ke negara asal mereka karena korona. Aku tidak menyangka bahwa mereka juga terkena imbas korona. Seorang dari mereka menjadi temporary jobless, yang entah sampai kapan, karena kontrak kerjanya ditangguhkan oleh International Labour Organization (ILO) di Bangkok. Semua benar-benar tidak terkendali.
“Calamity is a great teacher” adalah kutipan artikel yang dibagikan oleh dosenku yang sedang S-3 di Inggris. Memang benar, aku pribadi, belajar banyak hal selama masa karantina ini. Tapi, tetap saja, tahun 2020 adalah the wildest year ever bagiku. Tidak ada yang tahu bagaimana tahun ini akan berakhir dan bagaimana dunia akan meresponsnya. Apakah warna dunia akan berubah pada Desember 2020? Only God knows.
Yogyakarta, 18 April 2020















