“Hidup adalah seberapa banyak dan seberapa indah kau mempersembahkan kebajikan.”
― Helvy Tiana Rosa
Bagaimana aku mengenalmu untuk menjadi kita? Bagaimana akhirnya jalan takdir mempertemukan kita pada titik ini setelah sekian lama kita berkelana sedemikian jauh, namun akhirnya dipertemukan di sini, di rumah milik seluruh umat Islam ini?
Siapa menduga bahwa setelah tiga tahun berorganisasi di kampus, akhirnya amanah itu sampai pada pundak yang masih butuh banyak dikuatkan ini. Membawa mimpi besar untuk sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa kerohanian Islam di tingkat universitas. Bagaimana bisa? Latar belakangku sangat minim di bidang ini. Mungkin benar apa kata mereka, “Amanah tidak akan salah memilih pundak.” meski aku belum paham sepenuhnya makna kalimat itu.
Kupikir ini hanya tentang amanah. Tentang program kebaikan, timeline, deskripsi kerja, anggaran, dan juga tidak lupa pertanggungjawaban terhadap-Nya. Kupikir hanya itu Namun semakin aku mendalaminya, semakin aku menemukan hal berbeda di sana.
Aku tidak bisa menjamin bahwa seluruh PI BPH Salam UI adalah orang-orang baik. Namun aku bisa menjamin, bahwa mereka adalah orang-orang yang selalu ingin menjadi lebih baik. Apa yang membedakan kini mulai terasa dan tampak di depan mata. Bagaimana cara memulai syuro’, taujih yang disampaikan selalu dapat menyemangati, dan juga ukhuwah di antara sesama saudara muslim hangat terasa.
Dan benarlah, jika di sini, kita dipersatukan bukan hanya tentang amanah. Namun tentang bagaimana hati kita terikat satu sama lain. Bagaimana kita saling menjaga dan melindungi bangunan Islam dari bidang syi’ar yang harus mewarnai tanpa terwarnai. Dan membersamai mereka, orang-orang yang selalu ingin menjadi lebih baik, membuat kita malu tidak malu, tergerak untuk menjadi lebih baik pula.
Aku ingat betul saat itu. Para Pengurus Inti mengadakan teambuild ke Bandung. Dalam perjalanan sekitar pukul sembilan pagi, Captain (sebutan untuk Pak Ketua) meminta agar singgah dulu di Rest Area agar kami dapat melaksanakan salat dhuha. Betapa sejuknya, melaksanakan salat di tengah perjalanan bersama orang-orang shalih dan shalihah ini. Tak hanya sampai di situ, sepanjang perjalanan terputar lagu-lagu nasyid mulai dari yang jadul sampai yang terbaru. Pada akhirnya kami bernostalgia, betapa cinta kami kepada satu zat yang sama, pada akhirnya mempertemukan kami dalam perjalanan ini, menuju tujuan yang sama. Saat perjalanan pulang, kami berzikir Al-Ma’tsurat bersama-sama di dalam mobil. Ditemani rintik syahdu, senja, dan kemacetan, rasanya ingin berlama-lama dalam kedamaian ini bersama mereka.
Maka nikmat Tuhanmu mana yang kamu dustakan?
Ah, mereka itu. Seringkali aku merasa sangat tidak ada apa-apanya dibanding dengan mereka yang memiliki segudang hafalan, bahkan sudah menjadi Hafidz. Tutur perilaku santun dan lembut seorang muslimah, etika yang mencerminkan muslim sejati, dan banyak lainnya. Meskipun mereka masih memiliki ketidaksempurnaan, namun rasanya akulah yang paling tidak sempurna di sana.
Kembali bicara tentang Salam UI. Apakah yang menjadi pembeda hanya sekadar itu?
”Kita adalah pemimpin publik, bukan sekadar komunitas. Konsekuensinya,
perlu ada upaya sungguh-sungguh baik dalam bentuk penyadaran internal
pengurus, pembangunan karakter, maupun program riil untuk menanam
kebiasaan berdialog dengan publik yang berada di basis sosial. Sekaligus
meyakinkan publik bahwa Islam yang dibawa SALAM UI bukan sebatas
spiritual, namun ia adalah solusi untuk seluruh sisi kehidupan.”
dikutip dari buku SALAM UI dan Kekuatan Tersembunyi: Refleksi Gerakan Lembaga Dakwah Kampus Nasional, hlm. 324
MasyaAllah. Aku berkali-kali merinding membaca bagian utuhnya dalam buku tebal itu. Tanggung jawab ini bukan hanya sebatas di tingkat universitas, ternyata. Ya, perhatikan kalimat di atas, “...solusi untuk seluruh sisi kehidupan.”
Berkali-kali pula aku meyakinkan diri. Benarkah langkahku untuk berada di sini, di lembaga yang tanggung jawab amanahnya sedemikian luas? Berkali-kali pula aku kembali menyemangati diri. Melihat sekelilingku, melihat wajah-wajah teduh itu, merasakan ghirah mereka dalam barisan perjuangan ini. Dan seketika aku merasa malu atas ketidakpercayaan diriku sendiri.
Bulan kedua berjalan. Semoga diberikan kekuatan. Dan masih akan ada halaman-halaman untuk kutulis tentang perjalanan ini. Masih akan ada banyak rintangan sekaligus kemudahan yang insyaAllah menyertainya. Tak peduli sesulit apa pun perjalanan ini, yakinkan diri bahwa ada saudara-saudari kita yang siap menggenggam menguatkan, dan Allah di hati kita yang akan selalu menjadi tujuan.
Laa haula wa laa quwwata illaa billaah...