Terimakasih untuk Tidak Pernah Pergi.
Aku mungkin adalah salah satu dari jutaan orang yang menjadi pengagum dan penikmat senja.
Ya tentu saja sang senja.
Yang hadirnya selalu dinantikan setiap petang tiba.
Namun kau tau?
Aku adalah salah satu juga dari beberapa orang yang selalu menantikan terbitnya sang fajar.
Lalu kenapa fajar?
Sederhananya bagiku, fajar adalah simbol dari tumbuhnya harapan baru.
Kau pengagum keduanya?
Ya. Bukankah keduanya dihadirkan untuk saling melengkapi?
Jika kau mengatakan adalah salah satu dari beberapa orang yang selalu menantikan terbitnya sang fajar, lantas mengapa kau jua menjadi pengagum senja?
Apa salahnya?
Lalu kau juga bilang sang fajar adalah simbol dari tumbuhnya harapan baru, lantas mengapa harus ada senja yang nyatanya selalu mengakhiri sebuah harapan? Kau faham betul bukan!!
Hei heii.. Nampaknya aku baru menyadari, bahwa kau hanya belajar tentang harapan baru. Iya?
Apa maksudmu?
Sang fajar simbol tumbuhnya harapan baru, namun kau mungkin tak memahami kala senja selalu menyimpan harapan-harapan itu. Cobalah kau membaca sesuatu dari beberapa sudut pandang. Bukankah keduanya dilahirkan untuk saling melengkapi?
Senja tak pernah pergi dengan mengakhiri begitu saja harapan-harapan itu.
Pwrcayalah...
Esok ia akan datang lagi meski terkadang awan kelabu menjadi penguasa langit.
Senja kemarin dengan senja esok masih sama, ia takkan pernah pergi dan selalu menyimpan harapan-harapan kemarin dan harapan-harapan esok dan seterusnya.
Baik aku faham.
Fajar dan senja berbeda. Namun perbedaan itu yang nyatanya menjadi sebuah penyempurna dan ditakdirkan untuk saling melengkapi antara keduanya.
Bandung, 22 September 2017. 24:00 pm


















