Jodoh = Kecocokkan
Sebaik dan sesholeh apapun orangnya tapi jika tidak cocok dengan kita maka tidak akan berjodoh. Sama halnya Abu Bakar as siddiq yang ditolak oleh Rasulullah shallallahu alaihi wassalam karena tak ada kecocokan dengan anaknya yakni Fatimah az Zahra. Akan tetapi ketika Ali bin Abi thalib datang, Rasulullah shallallahu alaihi wassalam mau menerimanya. Rasulullah shallallahu alaihi wassalam menolak Abu Bakar as siddiq bukan karena tidak baik akhlaq dan agamanya, tapi karena ketidakcocokan antara keduanya.
Jadi sebenarnya, bukan hanya masalah akhlaq dan agama yang harus diperhatikan tapi kecocokan antara keduanya agar bisa menyatu serta saling melengkapi. Sehingga kita boleh menolak lamaran orang yang baik agama dan akhlaqnya jika diri kita sendiri merasa tak cocok dengannya, ntah pemikirannya, karakternya, dsb.
Saya baru tahu akan hal ini setelah menemui kasus seorang sahabat yang sama seperti ini. Ada sesuatu hal yang belum bisa dia terima atas keinginan calonnya, meskipun calonnya sudah baik agama dan akhlaqnya tetapi karena menemui ketidakcocokan antara kedua belah pihak maka dia memutuskan untuk menolaknya.
Meskipun ada suatu hadist yang mengatakan bahwa jikalau datang seseorang yang baik agama dan akhlaqnya yang telah kamu ridhoi, maka nikahilah segera. Karena jika tidak akan terjadi kerusakan di muka bumi. Ternyata terdapat kata 'telah kamu ridhoi' yang mana artinya telah menemui kecocokan antara keduanya dan ada keinginan untuk menikah dengannya maka walinya harusnya mempermudah dan memberi izin mereka untuk menikah.














