Gadis Itu Bernama Sambelia
#1 [Malam Pertama Sambelia]
Tepat di penghujung bulan agustus semusim yang lalu kami pertama kali bertemu dia. Sambelia. Duduk menunggu, tangan lentik nan eksotiknya meyangga dagu yang tajam menawan itu. Di pinggiran jalan yang mulai sepi, di malam yang sunyi, segerombolan angin membisikan sebuah nyanyian "Kalian akan menemaninya sampai bulan tak utuh lagi". Samar kami lihat di bawah sorot lampu jalan yang kuning temaram wajahnya tampak sendu pilu. Sorot matanya sayu, gelap. Tak ada terang, tenang. Dingin angin malam menyadarkan kami, tak sepantasnya menuntut jawab pada mereka yang pertama kali kami temui.Toh tubuh kami sudah merengek menuntut rebah, lelah. Apa yang akan kami temui esok hari? Sampai kapan? Nyanyian keraguan ini dan itu mengiringi kami bermimpi.
Suara adzan lembut membelai telinga, mengajak raga dan jiwa untuk segera bertemu dengan-Nya, Sang Pencipta. Dalam sujud kami serahkan segala rasa syukur, doa dan harapan selalu mengguyur, kami lepaskan semua kesombongan yang tak terukur, dan tak lupa mengharap selamat dan kemudahan hingga kami gugur. Bukan bermaksud mendahului skenario-Nya, tapi karena kami tak tahu. Kami tahu, ketidaktahuan itu lah yang mengingatkan kami betapa kecil dan rapuhnya hamba-Mu ini. Seusainya, raga menuntut tanya, "Aku dimana?". Sambelia.
Fajar tiba, menyapa Sambelia. Untuk pertama kalinya, Oh ini kah Sambelia sebenarnya?. Berdiri di belakang Tenda, memejamkan mata, direntangkan kedua tangannya, rambut hitam panjang dibiarkan terurai diterpa hembusan angin laut pagi itu. Aku terdiam, terpukau lebih tepatnya. Melihat siluet hidung mancung terpapar sinar fajar yang semakin membuat dia menawan. Bak Romeo dan Julietnya, Lancelot dan Guineverse, Rama dan Dewi Shintanya, dan segala kisah romansa lainnya, akanku tambahkan Sambelia dan Fajarnya. Aku terpesona.
Waktu memaksa Fajar berganti Siang. Sang tokoh antagonis aku bilang. Siang adalah Rahwana untuk Sambelia, panas membakar semua semangat yang kami bawa dari Utara. Sambelia berubah karena Siangnya, kami tatap wajahnya sangat berbeda dibanding semalam saat pertama kali bertemu. Tapi karena Siang juga kami tahu ada apa dengan Sambelia. Sambelia adalah Bencana. Aku terdiam. Sekarang kami mengerti sikap dan tatapan nya semalam, dibalik tenangnya ada nestapa yang berusaha mereka hilangkan. Bangkit dengan kaki sendiri atau Mati dalam kesedihan?. Sebagian dari mereka memilih untuk bangkit, dan sebagian besar lainnya memilih untuk menunggu, menunggu sesuatu yang sebenarnya abu-abu.
Kami disambut bak pahlawan, mereka mengalungkan harapan dan sanjungan yang mencekik kerongkongan kami. Mereka meninggikan kami bak dewa tempat dimana menggantung semua puja-puji segala asa. Tapi harapan dan sanjungan mereka seakan cambuk yang menyiksa kami. Di sisi lain kami harus cepat bergerak tapi di sisi lain regulasi harus dipenuhi. Mereka anggap kami pahlawan, padahal kami adalah segerombolan pecundang yang lari dari Peperang Besar di Utara. Kami pergi sebelum Tajung benar-benar berjuang.
—Kapan berakhir Sambelia?