Motor di Bawah Hujan
Setelah menjengukmu, teman, di ranjang sakitmu,
langit tiba-tiba membuka luka lama.
Hujan turun, seperti air mata
yang lupa ditahan oleh awan.
Motorku, tua dan setia,
menggeram pelan di bawah guyuran,
seperti doa yang kehabisan suara.
Jaketku basah, seperti puisi
yang ditulis di kertas buram, luntur.
Di saku, ada kunci motor
dan sehelai tisu dari kamarmu,
bekas tangismu yang tak kuseka.
Kau bilang, “Hati-hati di jalan,”
tapi hujan ini, teman,
mengapa seperti cermin yang retak?
Aspal mengkilap, menertawakan ban motorku
yang licin, seperti hidup yang tak pernah pasti.
Aku ingin menulis tentangmu,
tentang teh pahit di sisi ranjangmu,
tapi hujan ini menulis duluan,
menggores garis-garis kelabu
di helmku yang penuh goresan.
Di lampu merah, aku berhenti,
menatap genangan yang memantulkan wajahku.
Wajah itu bukan aku,
melainkan bayang seorang pengendara
yang lupa jalan pulang ke dirinya sendiri.
Mungkin besok aku akan kembali,
dengan motor yang lebih kering,
tapi malam ini, biar hujan saja
yang menyanyi tentang kau dan aku.









