Cuap - Cuap Kota Kelahiran
Dari judulnya saja udah cuap-cuap. Jadi ya sekedar komentar saya saja yang bukan mahasiswa hukum atau sejarah apalagi politik. Sekedar cuap-cuap peduli untuk kota yang telah berjasa membuat saya hidup dan dapat bernafas dari oksigen yang terkandung di udara Jakarta di pagi ini. Tentang berita yang lagi marak nih dan berhubungan banget sama "yang lagi mimpin" kota kelahiran saya ini, Jakarta. Kasusnya santer di berita namanya 'Reklamasi Teluk Jakarta'. Dimana yang kata si gubernur 'bertutur kasar' itu Teluk Jakarta udah ga produktif lagi. Dan reklamasi di Teluk Jakarta itu sah-sah saja. Tapi kalo kita berfikir luas, kita akan ada pemikiran peduli kita bahwa disana ada loh nelayan yang udah lama banget hidup. Bahkan sebelum 'si sosok emosional' itu dilahirkan apalagi direncanakan untuk dilahirkan. Banyak jiwa-jiwa yang pernah hidup dari tanah dan hasil buminya disana. Dan sungguh astaga luar biasa. Ada pemimpin baru dari bangku cadangan pimpinan di ibu kota negara itu mau hancurkan semuanya. Atas dasar 'PRODUKTIFITAS'. Telaah deh. Pemimpin itu diciptakan buat memimpin manusia. Tapi ya kalo dia manusia ya. Jadi ya pemimpin itu yang harus melindungi dan menyelamatkan orang yang dia pimpin. Lah dikasus ini, Teluk Jakarta rencana digusurnya hanya karena keperluan pembangunan. Halo bapak, apa bapak pernah memikirkan apa disana ada makhluk hidup? Ada manusia loh disana pak. Ada yang hidup dan masih harus tetap hidup loh pak dari hasil laut yang kata bapak sudah tidak produktif itu. Tolonglah, kalo pemimpin itu semestinya bisa lebih panjang dan cerdas pemikirannya. Lebih berprikemanusiaan dulu deh yang paling dasar. Entah kenapa saya memutuskan ini waktunya untuk lebih berfikir cerdas. Jadi ini hanya sekedar penilaian saya dari mata warga Jakarta. Awalnya, dulu si pemimpin itu terlihatnya positif loh di mata saya. Emosinya dan gaya bicara kasarnya itu seakan-akan hanya sebuah gaya yang nyentrik nan tegas. Kasus Kalijodo, Kasus Bantaran Ciliwung, atau recycling jabatan daerah agar lebih melayani masyarakat. Citranya masih terlihat cool bisa dipimpin sama si 'dia'. Ya walau masih kecewa aja dengan sisi emosional atau kesantunan ucapannya. Harusnya kita itu dipimpin orang cerdas, dan orang cerdas itu harus bisa mimpin dirinya sendiri baru bisa mimpin orang lain. Khususnya di emosional dan santun tutur katanya. Dan akhirnya kuasa Tuhan membawa saya dan kawan-kawan sebagai warga Jakarta ke segmen 'Reklamasi Teluk Jakarta'. Entah untuk membuat kita tau sosok sebenarnya seseorang atau sekedar membuat kita pintar menilai seorang pemimpin atau mungkin sedang menguji kepedulian kita tentang kehidupan. Who knows? Kita baru saja memulai segmen ini yang masih banyak menyimpan jutaan misteri. Kalo saya sih sekedar berpendapat kalo kemanusiaan diatas segalanya di kasus ini. Kasihanlah masyarakat yang berprofesi nelayan disana. Mau disuruh pindah lagi? Kalo pemerintah mau tuntut sengketa tanah atas dasar wilayah pemerintah mah tanah adat bisa juga digusur. Tapi apa mungkin pemerintah sebiadab itu? Intinya saya menganggap kalo di kasus ini, Tuhan sedang menunjukkan seseorang. Yang saya tangkap, ada sosok pemimpin yang menganut sistem seleksi alam. Dimana yang masyarakat miskin semakin didesak untuk kepentingan usaha. Kalo di urut, Kalijodo dibuat untuk pengusaha asing di sana. Sampai di kasus inipun yang diuntungkan adalah pihak penuasa berduit. Ya namanya cuap-cuap sepihak. Jadi banyak menerka-nerkanya daripada realitasnya (realitanya belum kejadian). Buat bahan bacaan dan telaah aja. Juga nambah-nambah peduli buat saudara-saudara sebangsa kit (para nelayan) yang kini sedang ketar-ketir nasibnya. Tolong peduli dengan sekitar kita. Jangan mau dibodohi oleh propaganda penguasa berkendara uang dan media. Jangan berfikir yang lemah itu bodoh. Prihatin akan nasib bangsa pribumi yang dijajah secara terselubung. Dan dengan tulus walau lirih berkata.. "AKU CINTA JAKARTA DAN SEGALA HAL DI DALAMNYA" "AKU CINTA INDONESIA"














