Saya selalu percaya bahwa alam tidak pernah marah tanpa alasan. Alam hanya membalas perlakuan manusia dengan bahasa yang paling jujur, yakni bahasa yang kerap kali kita terjemahkan sebagai bencana.
Dan pagi itu, di sebuah sudut Sumatera yang dulu hijau, tenang, dan indah di terjang oleh banjir bandang yang turun seperti lembaran sejarah yang sobek di tengah hujan.
Air datang membawa lumpur, batang-batang kayu, bongkahan batu, bahkan seluruh hidup orang² yang tak sempat menyelamatkan apa pun. Saya membayangkan wajah² ibu yang kehilangan dapurnya, ayah yang kehilangan ladangnya, anak-anak yang kehilangan buku dan mimpinya. Di antara jeritan dan suara arus yang menggeram, kita menemukan pertanyaan yang selalu kita hindari, siapa yang sebenarnya bersalah?
Banjir bandang tidak pernah lahir dari hujan semata. Ia lahir dari akumulasi keserakahan. Dari hutan-hutan yang dipreteli dengan dalih investasi, dari sungai² yang disempitkan demi proyek, dari bukit² yg dicukur habis tanpa malu.
Sumatera, yang dulu menjadi rumah bagi rimba terlebat Nusantara, pelan pelan berubah menjadi tubuh yang kehilangan organnya. Dan setiap organ yang hilang, diganti dengan laporan manis pembangunan, lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi. Betapa murahnya kita menjual masa depan.
Ketika banjir bandang datang, pejabat tergesa-gesa berdiri di depan kamera, menyebut bencana sebagai “takdir alam”, seolah alam sedang mengamuk tanpa sebab. Padahal takdir yang paling menyakitkan adalah takdir yang kita undang sendiri. Kita membangun rumah di lembah² yg sudah berkali-kali memberi tanda bahaya, kita menyusun kebijakan yang mengabaikan topografi, kita mengeluarkan izin izin yang berat sebelah, dan kita memaafkan terlalu banyak pelanggaran demi sebuah foto peresmian
Ya, Alam tidak pernah mau di permainkan. Alam memang tak bisa berbicara saat hutanya di gunduli, emasnya di preteli atau airnya di cemari. Alam hanya membalas buah dari tangan tangan keserakahan para manusia.
Aku membaca sebuah wawancara dari seorang bapak bapak yang terkena dampak bencana banjir di Sumatera yang rumahnya hanyut. Ladangnya tertimbun. Hewan ternaknya hilang. Ketika ditanya apa yang ia rasakan, ia hanya menjawab pelan, “Saya tidak marah. Saya hanya sedih. Karena saya sudah lama tahu ini akan terjadi.”
Jawaban itulah yang paling menikam. Rakyat kecil selalu lebih dulu tahu, tapi tak punya suara. Pejabat punya suara, tapi sering tak mau tahu dan tak tahu malu. mereka hanya peduli tentang keuntungan, bukan resiko dari kemarahan alam itu sendiri. toh mereka tak mungkin merasakan langsung, bagaimana rumah mereka hilang, kayu glondongan meratakan dinding rumah mereka di jakarta, mereka hanya peduli dengan keuntungan yang akan mereka dapatkan. Gembar gembor pembangunan, reboisasi, alih fungsi hutan lindung menjadi hutan produksi, membabat habis pohon yang ratusan tahun menjadi saksi evolusi alam Sumatera.
Namun seperti biasa, bencana tidak hanya membawa murka. ia membawa cermin. Di depan cermin itu, kita dipaksa melihat diri kita apa adanya, manusia yang cepat lupa akan batas, manusia yang membiarkan keserakahan bekerja atas namanya, manusia yang selalu ingin menang atas alam tapi selalu kalah ketika alam memberi peringatan terakhir.
Apakah kita akan terus seperti ini? Menunggu korban berikutnya?
Menunggu berita berikutnya?
Menunggu banjir bandang lain untuk menghantam kesadaran kita yang keras kepala?
Sumatera adalah rumah besar dengan atap hijau yang pernah membanggakan. Tetapi rumah itu kini bocor di banyak tempat. Jika kita tidak memperbaikinya, hari-hari mendatang hanya akan menjadi pengulangan dari duka yang sama. Duka yang membuat kita lupa bagaimana rasanya hidup dalam damai.
Di akhir renungan ini, aku selalu kembali pada satu kesadaran sederhana bahwa bencana bisa dicegah, tapi keserakahan jarang mau dihentikan.
Jika Sumatera ingin tetap menjadi pulau yang diberkati, kita harus mengembalikan apa yang telah kita rampas. Menanam kembali hutan-hutan yang hilang, mengembalikan alur sungai pada wajah aslinya, menghentikan persekongkolan jahat antara uang dan kuasa, dan menempatkan keselamatan rakyat di atas semua laporan statistik.
Sebab banjir bandang bukan semata air yang turun dari bukit. ia adalah memo dari alam, yang ditulis dengan lumpur dan air mata, agar kita ingat bahwa hidup tidak pernah bisa berjalan tanpa keseimbangan. Dan jika kita masih mengabaikan memo itu, maka kita tidak hanya menghianati Sumatera, kita menghianati masa depan kita sendiri
Yogyakarta, 2025.















