Megaempati untuk Megaproyek
Rabu kemarin (20/4/2016) diri ini berkesempatan untuk 'nyempil' di Forum Asia Afrika yang dilaksanakan harian Pikiran Rakyat. Topiknya adalah bagaimana masyarakat dapat memberi dan diberi manfaat dari megaproyek yang ada di Jawa Barat.
Mengundang Direktur PT Kereta Cepat Indo China (KCIC) Hanggoro, Ketua Forum Kebudayaan Jawa Barat Ganjar Kurnia, serta Direktur Pengemangan Usaha Jasa Sarana Iman Khoerudin-- pembahasan berkisar di wilayah bagaimana masyarakat dapat dilatih untuk menopang pembangunan.
Beberapa yang hadir dalam forum mengungkapkan jika proyek PT KCIC merupakan proyek 'ujug-ujug' (tiba-tiba.red). Beberapa berspekulasi jika ini proyek yang bermuatan politik.
Namun, Hanggoro menyanggah, mengatakan jika proyek ini sudah dipersiapkan dari tahun 1998. Kemudian saya berpikir, “Lah, nggak ada komunikasinya ke kita. Mana kita tahu? Bisa jadi betul kata Anda, bisa jadi tidak, kan.”
Untuk keabsahan perencanaan makro serta urusan mikro dari megaproyek ini, mangga Mas, Mba, saya serahkan pada yang punya ilmu untuk menganalis. Concern saya dari dulu tetap: aspek komunikasi.
Pendapat lain yang menyentil adalah pendapat dari Kun Kunrat, salah seorang pegiat Paguyuban Pasundan yang hadir. Ujarnya, pembahasan megaproyek-megaproyek Jawa Barat lebih sering mengulas hal-hal teknis atau 'keilmuan'. Seperti bagaimana dampaknya terhadap ekonomi, apakah layak secara lingkungan, keamanan, dan sebagainya.
Namun, ia menawarkan agar kita juga membahas hal-hal yang bersifat dampak terhadap sosiopsikologis serta kebudayaan masyarakat. “Apakah kita sudah menyesuaikan dengan rarasaan masyarakat?” kira-kira begitu ucapnya. Salah seorang partisipan dari Disnaker Sumedang menambahkan, “Sudahkah kita memerhatikan keadaan alamiah masyarakat yang akan berubah karena pembangunan?”
**
Berkaca dari kasus PT KCIC dan megaproyek-megaproyek lainnya, jadi teringat kasus petani Rembang versus Semen Indonesia yang sempat mencuat. Warga-warga sekitar konon merasa terugikan dengan adanya pembangunan pabrik Semen Indonesia di kota tersebut.
Disinyalir, lahan pertanian akan berkurang, sumber air akan menipis. Wah, pokoknya pembangunan Semen Indonesia ini dipandang buruk sekali oleh warga! Belum lagi, berbagai barisan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) berjejer menolak pembangunan pabrik.
Sebagai orang awam, saya sendiri tidak tahu persis apakah benar Semen Indonesia “bersalah” atau tidak. Saya tak memiliki ilmu dan waktu memadai untuk menyuarakan sikap. Kemudian, Damai Wardani, salah seorang rekan baik mengajak saya untuk mengikuti Wisata Edukasi Green Industry Semen Indonesia di Gresik dan Tuban.
Lantaran penasaran, saya ikuti wisata edukasi tersebut selama sehari pada 6 Juni 2015.
Jika boleh jujur, hingga kini saya tidak berani menyatakan “Teknologi Semen Indonesia itu memang pure ramah lingkungan, lho.” Atau “Proyek Rembang aman, suer” Bisa jadi, perspektif 'ramah lingkungan' antara pihak kontra dan Semen Indonesia berbeda juga kan? Selain itu, mana ada saya ilmu untuk memereteli satu per satu aspek teknisnya?
Namun yang bikin salut dari Semen Indonesia adalah upayanya untuk keep in touch dengan publik. Aspek komunikasinya (yang notabenenya merupakan ilmu saya).
Satu hal yang cukup berkesan adalah salah seorang Bapak dari SI (saya lupa namanya) yang bilang begini:
“Dulu, saya pernah menantang salah seorang yang kontra terhadap Semen Indonesia. Kami mempersilakan ia melakukan riset secara mandiri di pabrik ini, untuk membuktikan jika SI ini tidak hijau.
Kami siap menyediakan penginapan, konsumsi, dan sebagainya untuk menunjang risetnya. Eh, ketika ditawari begitu, dia malah tidak mau.”
Segitunya, Coy.
Menurut Damai, masyarakat Tuban dan Gresik sudah ce-es-an dengan SI. Bisa dibilang, salah satu elemen yang turut menghidupi Gresik dan Tuban adalah SI.
SI tak melupakan kewajiban etis untuk memberdayakan masyarakat. UKM-UKM mereka bina. Petani-petani mereka bantu produktivitasnya. Sekolah-sekolah pun didirikan. Begitu pun terdapat sentra pengolahan sampah Gresik yang mereka bangun. Community Development sudah mereka lakukan jauh-jauh hari sebelum isu menerjang.
Namun, sayangnya, apa yang mereka lakukan tidak terpublikasikan dengan baik. Sebelumnya, terlambat mengelola kehumasan secara intens. Walhasil, apa yang sudah mereka tanam pun terbanting dengan hantaman isu Rembang di berbagai media massa.
Hal inilah yang kemudian menjadi titik balik bagi SI. Divisi komunikasi yang turun tangan menghadapi isu ini benar-benar bekerja mati-matian. Berbagai upaya untuk memaparkan maksud mereka dicurahkan. Pihak yang kontra mereka ajak diskusi. Masyarakat Rembang didekati.
**
Kasus SI bisa dijadikan sebagai bahan pembelajaran bagi para pelaku pembangunan. Ini baik yang sifatnya miniproyek (ada ya, he he); maupun megaproyek-- termasuk Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung; Waduk Jatigede; dan lain sebagainya. Pelajarannya, ialah bagaimana pelaku proyek membangun stretegi komunikasi kepada publik.
Jangan bayangkan strategi komunikasi melulu bicara soal pencitraan. Ini bukan misal bagaimana PT KCIC menyembunyikan borok-borok mereka dengan bungkus-bungkus komunikasi menarik hati. Namun, strategi komunikasi adalah seni bagaimana membangun jembatan yang terdapat timbal balik ilmu serta pemahaman. Tidak hanya masyarakat yang mendapat ilmu, tetapi juga pelaku proyek.
Barangkali, ada hal-hal dari masyarakat yang bisa jadi referensi pelaku proyek untuk melaksanakan proyeknya dengan baik. Barangkali masyarakat belum mengerti dengan maksud proyek, dan butuh dipaparkan dengan bahasa kaum oleh para pelaku proyek.
Adakalanya, pelaku proyek harus mengatur ulang proyek mereka karena menerima masukan masyarakat. Namun karena sudah terjalin kepercayaan kuat, dan masyarakat siap bantu-- maka proses pembangunan pun berjalan harmonis. Ini yang saya lihat dari upaya Semen Indonesia menjalin komunikasi timbal balik dengan masyarakat.
Ini ihwal bagaimana masyarakat dan pelaku proyek saling menumbuhkan dan mengoreksi satu sama lain. Ada beberapa hal yang barangkali terkorbankan dari kedua pihak. Namun, jika sama-sama sudah komitmen untuk membangun kepercayaan, walhasil tiada jurang yang begitu berarti.
Komunikasi sendiri, menurut Tubbs dan Moss merupakan proses menciptakan makna di antara dua orang atau lebih. Definisi dari dua ilmuwan komunikasi tersebut layak dijadikan perhatian bagi para pelaku proyek dan juga yang terkena dampak proyek. Untuk saling bertukar makna, dibutuhkan megaempati, apalagi untuk megaproyek. [tristia]
*Foto-foto kejepret tangan sendiri






