Keluarga Juga Berhak
Hari itu adalah jadwalku untuk diwawancara seleksi masuk pegawai baru suatu perusahaan. Jika mau jujur, sebenarnya belum sembuh benar perasaanku dari kegagalan rekrutasi sebelumnya. Rasanya sungguh berat untuk hanya sekedar melangkahkan kaki. Mukaku, sungguh tidak usah ditanya. Bentuknya kusut seperti cucian yang belum disetrika.
Mama segera menghampiriku. Meremas bahuku, ia menyuruhku untuk bersemangat kembali. Mau wawancara kok cemberut, katanya. Lantas dengan santai kutimpali, nanti juga di depan interviewer pasti senyum supaya bisa lolos. Mama melotot sebal dan bertanya, kenapa enggak dari rumah senyumnya? Aku hanya bisa diam. Karena bagaimana mungkin aku harus menjawab kalau alasannya adalah karena aku lelah harus terus berpura-pura. Setidaknya, kuharap di rumah bisa menanggalkan semua topeng itu barang sebentar.
Hal itu yang membuatku jadi berpikir, kenapa kita senang sekali ya bermain lakon di depan orang-orang? Alasanku pada saat itu sederhana saja: peserta wawancara gila macam apa yang berani memasang muka masam di depan pewawancara? Belum lagi nanti berpotensi mengundang bisik-bisik dan kasak-kusuk dari peserta lain. Ah, bukankah itu yang namanya jaim alias jaga image? Ternyata itu tujuanku, untuk menarik perhatian orang-orang.
Kalau dengan orang lain yang bahkan tidak dikenal saja kita mau berusaha memasang citra semanis-manisnya kenapa tidak dilakukan juga di depan keluarga? Itu adalah pertanyaan selanjutnya. Setelah kuingat-ingat lagi, begitu sedikit waktu yang kudedikasikan untuk keluarga. Setiap ada waktu luang, yang kuagendakan adalah untuk rencana meet-up dengan teman atau bahkan me-time untukku sendiri. Rumah hanyalah menjadi tempat singgah untuk sekedar mandi dan tidur. Tidak heran, ketika sampai di rumah energi yang ada tinggal sisa beraktivitas seharian di luar.
Bukankah keluarga memang sudah seharusnya akan selalu ada, begitu pikirku. Hingga akhirnya, keyakinan itu membuat kehadiran keluarga menjadi sesuatu yang taken for granted. Mungkin saja, itulah yang membuatku acap kali menggampangkan keluarga dengan seenaknya. Seolah-olah, mereka harus memaklumi apapun yang kulakukan tanpa bersyarat.
Padahal, keluarga juga berhak melihat senyum tulus kita, semangat yang meluap-luap, dan tutur bersahaja. Karena saat ada yang berkhianat, keluarga adalah yang terdekat. Saat kutemui kegagalan, keluargalah yang akan memberikan dorongan. Dan saat aku sedang berbahagia, keluarga yang akan ikut merayakannya tanpa ada pura-pura.








