Bobor bayam - Masakan rumahaan

seen from Spain
seen from Malaysia
seen from United States
seen from Brazil
seen from United States
seen from China
seen from South Africa
seen from United States

seen from United States

seen from Germany
seen from China

seen from Germany
seen from Brunei
seen from Japan
seen from China
seen from Germany

seen from Canada
seen from France

seen from Netherlands
seen from Mexico
Bobor bayam - Masakan rumahaan
Sayur Bobor dan Mie Ongklok, Kuliner Khas Wonosobo
Beberapa waktu lalu saat saya sedang bertandang ke Dieng untuk event Dieng Culture Festival, saya pun sempat mencoba beberapa kuliner khas di sini. Berhubung di Dieng dingin, mencoba makanan yang hangat atau berkuah menjadi prioritas utama. Gayung pun bersambut. Beberapa kuliner khas Dieng yang direkomendasikan oleh pemilik homestay tempat saya menginap adalah makanan hangat dan berkuah. Saya pun diberikan beberapa alamat warung andalan yang merupakan favorit di Wonosobo. Dieng sendiri masuk ke dalam Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara. Rekomendasi kuliner pertama saya adalah Warung Bobor mbak Pawit di JL.Angkatan 45 no.15. Patokannya adalah di selatan alun-alun Wonosobo. Dari yang saya dengar, juga ada warung Bobor mas Pawit yang terletak berdekatan. Mungkin saja itu suaminya (nebak). Kalau bingung, berhenti saja di alun-alun dan tanya orang. Warung ini sudah sangat terkenal, mayoritas penduduk juga sudah tahu.
*Letaknya di pinggir jalan.
Waktu itu saya berkunjung saat pagi hari. Sudah terlihat beberapa orang yang makan di dalam warung, tidak sedikit juga yang berdiri untuk pesan bawa pulang. Penikmatnya juga bervariasi, mulai dari PNS sampai orang biasa. Kelihatannya Warung Bobor ini sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual makan pagi di Wonosobo.
Sekilas melihat, sayur bobor terlihat tidak berbeda dengan sayur daun singkong berkuah yang banyak disajikan di rumah makan Padang. Hanya saja kuah sayur bobor di warung mbak Pawit berwarna putih dan tidak berminyak. Sayurnya sendiri adalah bayam dengan sedikit kuah santan, sehingga warna kuahnya berwarna putih. Selain bayam, daun singkong atau sawi juga bisa digunakan untuk membuat sayur bobor.
*Fresh dari dandang, seporsi sayur bobor panas.
Langsung saja saya pesan satu sayur bobor beserta nasi dan lauk pauknya. Perlu diingat, satu porsi sayur bobor itu seukuran mangkuk soto. Buat yang tidak suka sayur, satu porsi sayur bobor bisa buat berdua atau ramai-ramai. Tempe dan tahu bacem juga menjadi teman terbaik untuk menyantap sayur bobor. Rasa segar sayur bobor, berpadu dengan manis asin tahu dan tempe sangat serasi. Ayam dan ikan goreng juga ada kok.
*Penampakan sayur bobor beserta nasi dan lauk pauk.
Harga seporsi sayur bobor bersama nasi, lauk, serta teh manis ini berkisar sekitar Rp 20 ribuan. Harga yang sederhana untuk warga ibukota, namun mahal menurut penduduk sekitar. Kalau buat orang Jakarta sih, biasanya bilang murah. Itu pun sudah dengan gunungan lauk di piringnya dan nambah beberapa kali. Warung nasi bobor bu Pawit sendiri buka dari pagi-siang. Bisa juga sampai sore kalau masih ada sisanya. Tapi saking lakunya, warung ini cuma bertahan sampai siang hari saja. Selain sayur bobor, Wonosobo juga terkenal dengan kuliner mie ongklok. Kalau mie ongklok ini adalah makanan nocturnal (baca:buka malam). Kalau mencari makanan ini saat matahari bersinar, bisa menemukannya saja adalah keajaiban. Wong makanan ini biasanya buka pada malam hari. Ketika malam tiba, saya pun mencari mie ongklok Pak Muhadi di arah Terminal Wonosobo yang menjadi salah satu rekomendasi. Sesampainya di sana, ternyata hanya tinggal tendanya saja yang tersisa. Benar-benar rekomendasi rupanya. Rekomendasi lain adalah mie ongklok Longkrang di Jalan Pasukan Ronggolawe No 14. *Salah sendiri datang kemalaman. Walaupun warung tujuan awal tidak didapat, namun perjuangan belum usai. Akhirnya saya dan teman pun mampir ke warung mie ongklok yang kami temui di pinggir jalan besar (alamatnya lupa). Saya dan teman pun memesan masing-masing seporsi mie ongklok. Oh iya, mie ongklok juga biasa dinikmati dengan sate daging sebagai lauk. Namun sayang, saat itu sate sedang habis. Sayang sekali, padahal sudah ngiler saya membayangkannya. Rasa penasaran pun berpadu dengan rasa dingin dan kelaparan. Tak lama sesudah mie ongklok tiba, kami pun makan seperti sedang lomba makan.
*Seporsi mie ongklok dengan kuah kental, irisan tahu, kol, dan kucai.
Mie ongklok sendiri rupanya sedikit unik, mie rebus dengan kuah kanji coklat yang kental. Isinya sendiri terdiri dari potongan tahu, sayur sawi dan kucai. Uniknya, rasa kuahnya manis, lebih manis dari mie yamin Bandung. Jadi, buat Anda yang tidak suka mie rasa manis, kelihatannya akan sulit menyukai mie ongklok. Boleh bertanya, ternyata mie ongklok direbus dengan menggunakan sebuah keranjang kecil anyaman bambu. Kalau Orang Jawa bilang, "mienya diongklok atau digoyang." Dari proses itulah muncul penamaan mie ongklok. Sederhana namun unik. Seporsi mie ongklok tidak banyak, pesan dua porsi baru terasa. Harganya juga tidak mahal, tahun 2013 harga seporsinya hanya Rp 5 ribu seporsi!! *joget-joget Selain dua makanan di atas, masih ada lagi kuliner atau camilan khas Dieng. Akan saya ulas lagi di kesempatan berikutnya. Untuk sekarang, semoga Anda tertarik dan ngiler dengan makanan di atas ini dulu. Selamat berburu makanan di Dieng.