Say Hello!
Sudah 4 tahun tumblr ini g ada nyawanya yah! OK – Aku mulai coba nulis santai lagi ^^. Sejak tahun 2017, tulisanku berbau ilmiaaaaaaah semua. Karena tahun itu aku officially graduated student & new mommy. Ada 2 lompatan besar dalam hidup akhirnya lupa segala-galanya aktivitas masa gadis. And ended up jadi kaku mau nulis santai lagi…
Banyak banget event dalam 4 tahun terakhir, dari adaptasi menjadi new mommy, graduated student, long distance marriage, hidup bareng baby girl di perantauan, dauky conference, ethnobotany homegarden research, publication writing and publishing, sidang online, jadi pembicara pelatihan online, hingga yang paling baru publish paper di Jurnal internasional bereputasi Q2 ^O^// Aku coba share yang paling baru aja ya….
Publikasi, sebuah kontribusi untuk ilmu pengetahuan
Studi pada jenjang Pascasarjana memang mewajibkan adanya publikasi hasil penelitian dari para mahasiswanya baik di tingkat nasional maupun tingkat internasional. Ada yang menjadikannya SKS sebagai syarat kelulusan, atau hanya sebagai syarat untuk mengajukan ujian akhir tesis atau disertasi. Namun pada umumnya, dimasukkan dalam SKS demi memotivasi para mahasiswa pascasarjana untuk mepublikasi hasil penelitiannya ke jurnal-jurnal yang bereputasi.
Reputasi jurnal sendiri tergantung lembaga peindeks yang resmi dan paling berpengaruh. Di Indonesia, lembaga pengindeks resmi itu SINTA DIKTI (Science and Technology Index) (http://sinta.ristekbrin.go.id/). SINTA ini dalam mengindeks jurnal ada peringkatnya yaitu dari 1 sampai dengan 6, yaitu berdasarkan impact, H-5 Index, Cititation per 5 years, H-index, dan cititation dari suatu jurnak. Semakin tinggi angka dari faktor-faktor tersebut, maka semakin tinggi juga peringkat jurnal yang diindeks. Sudah > 4500 jurnal dari seluruh bidang ilmu terindeks oleh SINTA DIKTI, tentunnya dengan berbagai peringkat.
Nah, untuk reputasi jurnal internasional itu yang paling berpengaruh dan officially diakui oleh banyak negara itu ada Scopus Index yang daftar jurnal terindeksnya bisa di lihat di https://www.scimagojr.com/. Sementara indikator indeksasinya bisa di lihat di gambar ini,
Ada 4 peringkat jurnal dalam indeks scopus, yaitu Q1 sampai dengan Q4. Semakin tinggi nilai dari faktor indeksasi tadi, maka semaki tinggi juga peringkatnya. Q4 itu peringkat terendah dari indeks scopus, berarti Q1 itu indeks tertinggi yaaa!
Dengan berbagai indikator indeksasi jurnal dari lembaga tersebut, proses tahapan review sampai accepted dan publish itu enggak gampang T_T. Lebih sering berdarah-darah karena baca komentar dari review itu musti kuat kuat T_T Pedes pake banget komentarnya. Tapi ya kalau udah lolos terus accepted dan published ya seneeeeeeeeeng. Dilihat terus terusan itu artikel kita yang udah publish. Haaaaah, baru artikel ilmiah yang diterima belum proposal nikah. Eh, nikah.
Sebenernya, aku mau share tentang perjalanan naskah aku yang baru banget publish tanggal 11 September 2020 kemarin.
Jadi, naskah itu merupakan sebagian hasil penelitian master aku tentang pekarangan masyarakat saibatin di Lampung tahun 2018 lalu. Aku ambil 2 desa dulu yang aku publikasikan. Lainnya, dalam perjalanan. Mohon doanya guys!!! Naskah itu pengembangan dari naskah seminar hasil aku. Yang tadinya hanya 10 halaman, setelah dikembangkan dan ditambah gambar jadi 20 halaman, OMG.
Awalnya, aku mau publish naskah itu di Jurnal yang terindeks SINTA 2 dan gratis, alias g bayar. Aku ga ada dana buat publikasi. Maklum, jalur mandiri, apa apa sendiri. Nah pas pengajuan ide ke pembimbing, beliau pada OK OK aja, OK deal SINTA 2 udah OK. Lalu mulailah aku mengembangkan naskah itu. Datanya didetailkan, analisisnya di perdalam, pencantuman gambar, comparasi dengan berbagai termuan di luaskan. Sampai akhirnya aku berpikir, koq sayang ya cuma SINTA 2, udah di-translate lalu sudah dikembangkan sedemikian rupa. Cobalah aku submit ke Jurnal terindeks Scopus Q3, nama jurnalnya enggak aku sebutkan ya…, setelah 2 kali review English language-nya. Ternyata naskah aku ini enggak lolos tahapan editor disebabkan karena English language-nya enggak sesuai dengan standar jurnal internasional. Huaaaaa T_T, sedih donk. Sedih pasti! Tapi enggak nyerah….
Aku coba konsultasikan ke rekan-rekan S1 ku dulu yang sedang Ph.D di luar negeri dan yang sudah lulus master di luar negeri juga. Mereka welcome..... Cuma karena kesibukan yang emang bener-bener sibuk. Ada yang lagi penelitian, ngurusin proyek kerjaan, pelatihan, dll. Akhirnya naskahku baru ke-review sedikit, secuil doank. Hah, aku bingung. Harus kemana lagi ni artikel aku konsultasikan dan aku submit. Mau pake jasa translate professional koq mahaaaaaaaaaal, mahalnya pake banget. Bingung.
Akhirnya, aku menurunkan standar submission. Ah sudahlah, aku submit ke Jurnal terindeks SINTA 1 aja. Carilah jurnal terindeks SINTA 1. Dah, menyesuaikan format dll, proses submit selesai. Aku coba konfirmasi ke editornya. Intinya, berapa lama proses review sampai publish yah? Katanya sekitar 4-8 minggu untuk reviewnya. OK, sudah ku dapat tidur dengan tenang.
Beberapa minggu kemudian sekitar 8 minggu, ada email masuk yang isinya, hasil review dari reviewer. Aku senang sih, artikelku enggak ditolak karena perkara bahasa T_T. Cuma disisi lain, komentar dari reviewernya panjaaaaaaaaaaaaaaaang sangat gaes! Ada 2 reviewer, reviewer 1 overall udah OK laah dengan content artikel aku. Udah lolos, mangga proses publish. Reviewer 2, kejam gaes! Tapi aku seneng sih, terpacu. Aku jadi sangat terpacu untuk memperbaiki naskah aku sampai layak publish di jurnal ini.
Sampai akhirnya, naskah aku -accepted with minor revision- Alhamdulillah …. Aku harus melalui 3 round review sampai pada akhirnya bisa published. Dan, awal Juli 2020 kemarin aku baru ngeh kalau jurnal tempat aku submit artikel ini ternyata sudah terindeks scopus, dan tahukah kamu peringkatnya adalah Q2. Tinggi? Itu tinggi gaes, tinggi T_T Ku jadi nangis bahagia deh tahu kalau jurnal itu peringkat Q2. Masya Allah.......! Artikel aku
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, illah sekalian alam. Semoga artikel ini bermanfaat untuk umat, dan artikel ilmiah yang sudah publish ini menjadi amal jariyah aku sampai aku udah g ada didunia ini lagi. Aamiin…..
“Writing is crafting the history, once you write down about something, it will become your story and history. Happy writing! Cheers!”












