Cerita Hari Minggu untuk Pak Ahok
Sebelumnya perkenalkan nama saya Tiara. Saya warga DKI sekaligus penggemar rahasia Bapak. Mm, nggak rahasia-rahasia banget sebenarnya. Tapi karena saya jarang sekali menunjukkan betapa saya mengagumi Bapak, maka amannya saya disebut sebagai pemuja rahasia Pak Ahok saja.
Memangnya Bapak kenapa harus dikagumi?
Ya soalnya Bapak ganteng adalah sosok yang paling berani yang saya tahu saat ini. Dan kekaguman saya terhadap Bapak sampai di puncaknya tepat tadi pagi hari Minggu ini.
Bukan, bukan karena saat terbangun tadi pagi saya mendapati Bapak berada di samping saya. Duh, kalau ini benar terjadi, bisa dipastikan saya sudah dimasak jadi dendeng babi oleh Ibu Veronica. :(
Oke jadi begini, Pak Basuki.
Tadinya saya pikir, hari Minggu pekan ini izinkan saya untuk bangun lebih lambat dari hari lainnya. Namun ternyata, Minggu terlalu murka melihat saya malas berlama-lama. Oleh karena itu, dibangunkannya saya melalui suara gaduh persis di depan rumah.
Suara benturan besi sekop dengan aspal jalanan yang memekakkan telinga memaksa saya untuk meninggalkan ranjang empuk serta selimut hangat agar segera bergegas mengintip apa yang terjadi di depan rumah.
Ternyata, Pak, di sana saya dapati sekelompok pekerja bakti yang rata-rata memakai topi berwarna oranye serta sepatu boots plastik sebagai seragamnya. Sebenarnya rompi mereka juga warna oranye, tapi mereka lebih memilih untuk menggantungkan rompi seragam di dinding-dinding rumah warga atau batang pohon terdekat.
Mohon maaf sebelumnya, Pak Ahok, terkait ini mereka jangan dimarahin hanya gara-gara nggak pakai rompi selagi bekerja, ya. Menurut saya ini sangat bisa dimaklumi karena mungkin bekerja di bawah pijaran matahari Jakarta yang meski masih pagi sudah berjumlah 16 biji tapi masih harus mengenakan rompi, tentu akan membuat pekerjaan terasa lebih berat akibat gerah dan ribet yang menyiksa, Pak.
Setelah lebih jauh saya perhatikan, rupanya sebagian besar dari mereka sedang sibuk mengeruk saluran air yang telah lama menyempit akibat ketidakpedulian warga sekitar—termasuk saya, Pak. *salim*
Sebagian lainnya mengangkut berkarung-karung tanah hasil kerukan dari got untuk dikumpulkan dan dibawa ke tempat yang lebih lapang.
Sebagian lagi, ngaso di halaman rumah warga guna mengembalikan energi yang telah banyak terkuras—literally terkuras usai menguras saluran air!
Tentu saja ini bukan pemandangan yang setiap tahun hari saya lihat, Pak. Bahkan mungkin, ini pertama kalinya saya, sebagai warga, merasa “diurusi” oleh pemerintah kota yang saya tinggali. Karenanya, hal ini menimbulkan rasa ingin tahu yang seolah tak lagi terbendung, Pak.
Di sela-sela mereka sibuk dengan pekerjaannya, saya si bocah rese ini iseng bergabung di antara mereka, Pak. Biasalah, mau menanyakan beberapa hal yang saya belum tahu.
Oh, ya. Sampai di sini, saya mau bilang dulu ke Pak Ahok bahwa zodiak saya Scorpio. Jadi, mohon dimaklumi jika saya rasa ingin tahu saya selalu lebih besar dari badan saya sendiri. Kalau zodiak Bapak apa? Cancer kan, ya? WAH BIASANYA CANCER ITU JODOHNYA SCORPIO, LHO, PAK! AAAAKKK! TERTIBKAN AKUH, PAK AHOOOK! TERTIBKAN AKUUUHH! ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤
Oke abaikan penyakit saya, Pak. Mari kita kembali ke cerita hari ini.
Tanpa membuang banyak waktu, saya mulai bertanya ke salah satu bapak-bapak pekerja tentang apa gerangan yang membuat mereka sudah sibuk sepagi ini.
"Oh, ini program Pemkot, Bu. Kami dipekerjakan oleh Kelurahan yang mendapat mandat dari Gubernur untuk bantu warga bersihkan saluran air sehingga DKI bebas banjir," jawab seorang Bapak yang sedang istirahat setelah mengangkut sakarung tanah hasil kerukan.
Sampai di sini, pikiran saya nggak ke mana-mana kecuali ke sosok pemimpin Cina yang belakangan sering dimusuhi segelintir manusia tanpa otak.
“Ahok, you really are the man! That’s my Cancer man!” begitu gumam saya tadi, Pak. Ini bukan gombal gumaman jujur, lho, Pak.
"Nama programnya PPSU, Mbak. Nih kepanjangannya ada di rompi belakang saya, nih; Penanganan Prasaranan dan Sarana Umum. Cuma Ahok yang bisa begini, Mbak. Coba Mbak inget-inget lagi, Gubernur-gubernur DKI sebelumnya, mana ada yang kayak begini, ya to, Mbak? Pak Ahok keren, ya, Mbak," begitu cerita Pak Seno kepada saya, Pak.
Pak Seno ini aslinya dari Kebumen. Sepanjang dia bekerja, yang saya lihat, garis lengkung di atas dagu tak pernah beranjak dari wajahnya, lho, Pak Ahok. Tampak sekali beliau sangat ikhlas dalam melakukan pekerjaannya.
"Ini tuh istilahnya dari DKI untuk DKI, ya, Pak?" celetuk saya menimpali Pak Seno.
"Bener, Mbak. Saya sih sebagai warga biasa yang nggak bisa bantu banyak, senang sekali bisa jadi bagian kecil dari perubahan," jawaban Pak Seno praktis membuat saya menganga. Menganga karena kagum. Oh, maaf, Pak Ahok, Pak Seno memang tadi membuat saya kagum luar biasa dengan kalimatnya, tapi cinta saya hanya untuk Bapak. #taburtaburRodeca
Perubahan. Apa yang dibilang Pak Seno barusan sangatlah sederhana. Tapi on-point. Ya nggak, Pak Ahok?
Seraya mengobrol dengan Pak Seno, ada salah seorang mas yang sibuk mondar-mandir dengan gerobak dorong merahnya. Mas ini—sayang sekali saya lupa tanya siapa namanya—tugasnya mengangkut, mendorong, dan mengumpulkan karung-karung tanah hasil kerukan ke wadah yang lebih lapang.
Sepanjang ia bekerja, selalu dengan bangga dan lantang menyuarakan sesuatu yang mengukir senyum, lho, Pak. Pak Ahok mau tau nggak beliau meneriakkan apa?
"DEMI LAMBANG MONAS DI DADA! SEMANGAT! AYO SEMANGAT!"
Duh. Saya sebagai warga, sangat bangga dan terharu dan tersentuh dan senang luar biasa memiliki orang-orang seperti beliau yang dengan ikhlas bekerja menjaga Ibukota, Pak. :’)
Lantas karena saya sadar bahwa saya nggak bisa melalukan banyak hal untuk berkontribusi demi perubahan di DKI Jaya ini, maka saya mengambil inisiatif untuk memberikan sedikit sumbangsih guna memenuhi kebutuhan bapak-bapak pekerja ini di sektor logistik, Pak.
Tentu saja jika dilihat dari harga dan jumlah, ini sangat nggak ada apa-apanya dibandingkan apa yang sudah Pak Ahok atau bapak-bapak pekerja lakukan untuk perubahan Jakarta.
Karena, upaya saya mentok hanya dengan menyediakan gorengan dan kopi untuk mereka, Pak.
Awalnya saya sempat meragu, apa iya gorengan dan kopi akan cukup mengenyangkan bagi bapak-bapak ini. Apa iya akan mereka makan. Tapi ya sudahlah, demi menjawab keinginan untuk menjadi bagian cimit dari perubahan untuk Jakarta, begitu kesimpulan saya akhirnya.
And you know what happened later on, Pak?
After I talked to one of them, telling him that there's some light-bites and coffee provided here, he shouted about it, calling all his comrades about the good news.
"WOOYY NGOPI DULU, WOOYY! ADA GORENGAN MASIH ANGET, NIIHH! ALHAMDULILLAAAAH! TERIMA KASIH, YA, MBAAAAK~"
And then, everyone from every corner enthusiastically gathered right in front of my home, and they started to get busy with the coffee break.
Setelahnya, suasana di depan rumah saya tentu semakin gaduh, Pak. Tapi kali ini, sedikit berbeda dengan yang di awal saya dengar sebelumnya. Kegaduhan yang sekarang, diliputi banyak canda, tawa, serta bertabur senyum di mana-mana. Nih kalau Pak Ahok nggak percaya:
Please trust me, Pak Ahok. It really warmed my heart to see their tired faces turned into an endless grin exactly just like these.
This truly is one of the lessons life taught me this early; it’s knowing the fact that some people are just too happy with simple things. In this case, even simple and cheap stuffs like gorengan and kopi are such a relief for these bapak-bapak pekerja. :')
Walah, ini ceritanya kenapa jadi ditutup dengan kopi dan gorengan, ya, Pak? Hihihihi.
Tapi intinya begitu, Pak Ahok. Melalui cerita hari Minggu untuk Bapak ini, saya ingin menyampaikan fakta bahwa di antara 12 juta penghuni Jakarta, masih ada banget orang yang benar-benar peduli demi perubahannya.
Mereka memang Bapak bayar secara layak untuk dipekerjakan selama 40 jam seminggu. Namun di balik itu, hati mereka sungguh tulus dan, mm, excited untuk melihat perubahan kota kita ini, Pak.
Lebih jauh, kalau yang saya lihat mereka setulus hati ingin membuat Jakarta menjadi kota yang lebih ramah dan menyenangkan untuk didiami, Pak.
Semoga Tuhan selalu memberikan rahmat dan berkah-Nya kepada semua orang yang niat berbuat baik, ya, Pak. Dalam hal ini, tentu saja seperti bapak-bapak pekerja ini, dan terutama untuk Bapak Basuki kesayangan aku. Hihihi.
Demikian cerita hari Minggu ini saya sampaikan, Pak. Sekarang saya mau tidur dulu karena besok, perjuangan menjadi #JakartaSurvivor akan terus berlanjut. Oh iya, sekalian saya mau mengkhayal, bagaimana kalau cerita saya ini benar-benar Pak Ahok baca. Aaahhhwww! ❤
Wo ai ni, Pak Ahok.
Ni hao ma gong xi fat choi xin nian kuai le xiaolongbao siobak charsiu chowmein bakpao siomay gohyong kwetiaw.
Wo ai ni, Pak Ahok. I really am a proud #TemanAhok! :’)