Bulan Purnama dan Overthinking yang Terus Menjelma
Malam ini langit terlalu jujur. Ia menampakkan segala rahasia yang seharusnya disimpan di balik tirai gelap. Bulan purnama menggantung sempurna, seolah-olah ingin menertawakan kegelisahan yang tumbuh di dadaku. Aku memandangnya lama-lama, berharap pantulannya bisa menyejukkan pikiran yang sedang gerah oleh rindu yang tak punya nama.
Tapi rindu itu, tak tahu diri.
Ia menumpuk pertanyaan-pertanyaan yang tak berani kusampaikan.
Ia membangun kemungkinan-kemungkinan yang tak mungkin kau jawab.
Ia mengubah malam menjadi meja tanya-jawab dengan diriku sendiri, dalam sidang sunyi yang tak pernah menemukan vonis.
Dan dalam keheningan itu, aku mencemburui segalanya.
Mencemburui malam yang bisa menyelimutimu, sedangkan aku hanya bisa menjadi kabar basi dalam notifikasi yang tak sempat kau buka.
Mencemburui angin, yang bebas bermain di sela rambutmu, sementara aku bahkan tak bisa bertanya, “Kamu capek nggak hari ini?” tanpa menyakiti semestamu yang lain.
Mencemburui hujan, yang bisa jatuh dan menyentuhmu, sementara aku jatuh hanya untuk terperosok dalam bayanganmu.
Lucu, ya.
Cemburu pada hal-hal yang tidak bisa cemburu balik.
Cemburu pada semesta yang sebenarnya sedang diam, tapi aku tuduh berpihak pada jarak.
Padahal kita ini,
cuma dua titik di peta kehidupan yang tak pernah ditakdirkan bertemu dalam terang.
Kita hanya bisa menyapa dalam gelap, dan berharap tak ada yang melihat.
Kita adalah dua rahasia yang saling tahu, tapi pura-pura tak saling paham.
Dan ketika bulan menggantung sebulat itu,
aku sadar, overthinking ini bukan karena aku tak percaya padamu.
Tapi karena aku terlalu takut pada perasaan ini sendiri.
Karena cinta yang tak boleh ada, justru punya cara paling rajin untuk hidup:menjelma jadi tanya-tanya kecil di antara malam.
Menyusup dalam doa yang tak bisa kusebut namamu.
Menyelinap dalam mimpi, tapi tak berani kutuliskan paginya.
Tapi aku yakin, semesta tidak iseng.
Purnama malam ini mungkin adalah lampu kecil yang menggantung sebagai petunjuk,
bahwa dalam diam yang kita sepakati,
ada harapan yang tidak berani kita ucapkan…
tapi sama-sama kita pelihara.
Dan andai malam ini kau juga menatap purnama,
barangkali kau juga sedang overthinking seperti aku.
Berpikir:
apa kabarku?
apa kamu masih menyimpan namaku di sela-sela doa yang tak pernah boleh ketahuan?
Jika iya,
maka biarlah bulan menjadi saksi:
kita pernah menjadi dua insan yang saling mencintai dalam sunyi,
dengan rasa yang tak pernah minta dimenangkan…
cukup dimengerti.
















