Cerita rahasia: aku dan semesta.
Aku ingin berhenti.
Arahku bubrah. Satu-satunya celah, hanya umpatan bernada marah. Dan menyisakan sedikit semangat yang tak bertuah. Ini sudah sering terjadi. Aku paham. Tapi, semakin aku mencoba jarak kita semakin jauh. Kau tak tersentuh. Hati kita semakin bersekat. Salah satunya berhenti mencari, satu diantaranya gagal mendeteksi.
Membiarkanmu,
Melepaskanmu,
Tak seharusnya aku begini. Karena aku sangat sadar, tanggungan ku bukan hanya rasa yang perlu jawaban. Tapi, harapan-harapan dari orang tersayang yang harus ku wujudkan, meski berdarah-darah tak karuan.
Aku ingin melepasmu.
Benar-benar melepasmu.
Bukan seperti ini, pembiaran tak penting untuk rasa yang sangat terlampau garing. Yang selalu ku anggap, ini hal paling genting. Tak ada perkembangan. Semua diam, gagal bersanding.
Kita benar-benar tak lagi sama.
Bukan, bukan aku yang berubah. Aku tak kemana-mana. Hanya saja, kau yang pergi dengan cuma-cuma. Dan menganggap tak pernah ada cerita. Memori itu di kepala mu agaknya telah musnah. Dan aku, gagal mengikuti langkah. Aku terjebak. Antara tetap bertahan atau melepaskan. Mereka sama-sama melakukan pembiaran.
Aku kalah. Kalah pada rasa yang tak kunjung menyerah.
Mungkin untuk kali ini, ku silakan semua melemah. Aku coba untuk pasrah. Padahal, disini keadaan parah, semua luluh lantah. Semua hal berubah. Mereka melawan arah. Hanya satu yang tersisa dan tetap ramah. Aku tak benar kemana-mana. Aku masih singgah, dan selalu menjadikanmu rumah, arah rotasi semesta melangkah.
Dengan segala hati, untukmu.
Si mata menyenangkan.
Kisah kita mungkin hanya kan jadi cerita.
Kenapa kita harus menyapa hal se-ngeri ini?











